Sukses

Tips Cegah Anak Jadi Picky Eater Sejak Masa Kehamilan

Agar anak tidak tumbuh menjadi pribadi yang picky eater, lakukan tindakan pencegahan sejak masa kehamilan.

Klikdokter.com, Jakarta Anak susah makan atau picky eater adalah masalah klasik yang dialami oleh hampir setiap orang tua. Kondisi ini tentu bikin khawatir, karena orang tua takut anak tidak mendapatkan nutrisi yang memadai untuk menunjang proses tumbuh kembang.

Dalam medis, definisi picky eater dibagi menjadi dua, yakni anak yang makan dalam jumlah sedikit, atau mengonsumsi variasi makanan yang sangat terbatas. Dari definisi tersebut, anak picky eater diartikan sebagai seseorang yang tidak mau mencoba jenis makanan baru, menolak mengonsumsi makanan tertentu (misalnya sayur dan buah), serta memiliki preferensi terhadap makanan yang itu-itu saja (misalnya gorengan dan junk food). 

Penyebab anak picky eater

Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan anak menjadi seorang picky eater. Pertama, karena adanya kelainan organ anatomi, misalnya hidung, bibir, mulut, dan lidah. Kedua, adanya kelainan saraf yang berperan untuk membantu proses menelan. Faktor terakhir dan yang paling berperan utama, yakni perilaku anak yang disebabkan oleh pola asuh orang tua.

Terlepas dari ada atau tidaknya faktor tersebut, kebiasaan picky eater pada anak sebenarnya merupakan proses yang wajar dan alamiah. Dalam tahun pertama kehidupan, si Kecil mengalami proses transisi yang cukup besar. Di mana, pada awalnya hanya mengonsumsi susu yang konsistensinya cair, kemudian berubah menjadi makanan setengah padat (pure) saat pemberian MPASI, dan berubah makanan padat seutuhny saat menginjak usia 1 tahun. 

Anak juga memiliki preferensi rasa tersendiri sejak lahir, yakni lebih menyukai makanan yang manis dan asin. Hal ini berhubungan dengan kemampuan bertahan hidup manusia. Rasa manis menandakan makanan tersebut mengandung karbohidrat yang merupakan sumber energi utama untuk tubuh. Sedangkan, makanan asin menandakan protein yang bermanfaat untuk pembentukan sel, organ, dan tumbuh kembang secara keseluruhan.

1 dari 2 halaman

Mencegah anak jadi picky eater

Pada dasarnya, bayi tidak menyukai rasa pahit karena diasosiasikan dengan racun yang harus dihindari. Oleh karena itu, rata-rata anak tidak menyukai sayur karena rasanya cenderung pahit. 

Berikutnya, anak dalam perjalanannya mengalami neophobia, yakni ketakutan atau keengganan untuk mencoba makanan yang baru. Hal ini terjadi terutama pada usia 2–3 tahun, namun akan menghilang sendiri secara perlahan pada usia 5–8 tahun.

Kendati merupakan proses alami yang dilalui setiap anak, perilaku picky eater dapat diminimalkan atau dicegah sejak masih berada dalam kandungan. Dua poin penting yang perlu diperhatikan adalah:

  • Variasikan menu makan selama kehamilan

Ibu hamil dianjurkan untuk mengonsumsi beraneka ragam makanan yang berbeda, kecuali makanan mentah. Selain bisa mendapatkan berbagai jenis gizi yang dibutuhkan, janin secara tidak langsung ikut belajar mengenal rasa melalui cairan ketuban yang “ditelannya”. 

Apabila ibu terlalu pilih-pilih atau tidak memberikan variasi pada makanan yang dikonsumsi, janin juga hanya akan merasakan sedikit rasa makanan. Hal tersebut berpotensi memicu munculnya perilaku picky eater saat dilahirkan nanti, karena hanya tahu rasa makanan yang itu-itu.

  • Berikan ASI eksklusif

Pemberian ASI eksklusif juga berperan penting dalam mencegah perilaku picky eater pada si Kecil. Pola pemberian ASI eksklusif setiap 2–3 jam sekali dapat membantu membentuk pola lapar kenyang dan keteraturan makan anak kelak. 

Selain itu, si Kecil juga bisa mencicipi berbagai rasa makanan yang dikonsumsi ibu melalui ASI. Jika bayi mendapatkan ASI eksklusif dan ibu mengonsumsi banyak variasi makanan, hal tersebut dapat membantu mengurangi “kadar” picky eater pada si Kecil kelak.

Picky eater merupakan proses alami yang akan dilewati setiap anak pada rentang usia tertentu. Kendati begitu, kondisi tersebut bisa dicegah dan dikendalikan, yaitu sejak si Kecil masih berada di dalam kandungan. Dengan mengendalikan perilaku picky eater pada si Kecil, ia tidak akan mengalami kekurangan nutrisi yang bisa berujung pada gangguan tumbuh kembang.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar