Sukses

Awas, Game Perang-perangan Picu Gangguan Irama Jantung!

Meskipun seru, hati-hatilah bila Anda kecanduan main game perang-perangan. Sebab, gangguan irama jantung bisa mengintai Anda!

Klikdokter.com, Jakarta Para peneliti mungkin sudah lama mengetahui bahwa latihan olahraga dengan intensitas tinggi dapat memicu gangguan irama jantung yang serius. Namun kini, tak perlu olahraga intensitas tinggi untuk menyebabkan masalah itu. Pasalnya, game – terutama game perang-perangan – juga dapat menjadi pemicu gangguan irama jantung.

Gangguan irama jantung atau aritmia, menurut dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter, dapat membuat detak jantung menjadi terlalu cepat (takikardi), terlalu lambat (bradikardi), ataupun tidak teratur (iregular). Kebanyakan, gangguan irama jantung memang tidak berbahaya, tapi beberapa jenisnya dapat berkomplikasi serius hingga menyebabkan kematian. Yang menarik, kondisi ini salah satunya dapat dipicu oleh bermain game perang-perangan. 

Gangguan irama jantung dan game intens

Para peneliti dari Australia menelaah tiga kasus anak-anak yang yang pingsan saat bermain game perang-perangan digital. Pingsannya mereka ternyata disebabkan oleh pengaruh sistem kelistrikan jantung. Parahnya, hal itu dapat mengancam jiwa. Dengan kata lain, sebelum bermain game, si anak sudah memiliki permasalahan jantung.

Akan tetapi, dalam dua kasus lainnya, masalah jantung yang mendasari tidak ditemukan. Atau dengan kata lain, mereka mengalami gangguan irama jantung murni akibat bermain game perang-perangan.

Permainan yang intens dan melibatkan emosi ini ternyata dapat mengakibatkan pelepasan hormon stres, yang lalu memicu masalah irama jantung pada orang yang rentan. 

  • Kasus pertama

Dalam kasus pertama, seorang bocah lelaki berusia 10 tahun tiba-tiba kehilangan kesadaran di rumah setelah memenangi pertandingan perang yang ia mainkan. Laporan tersebut terbit di dalam New England Journal of Medicine, 19 September lalu. 

Anak itu memang segera sadar dan tampak baik-baik saja. Namun, bocah tersebut mengalami henti jantung di sekolah karena fibrilasi ventrikel, di mana jantung bergetar bukannya berdetak dengan benar. 

Akhirnya, dia didiagnosis dengan kondisi langka yang disebut catecholaminergic polymorphic ventricular tachycardia (CPVT), gangguan irama jantung yang dihasilkan dari mutasi genetik, menurut National Institutes of Health.

  • Kasus kedua

Kasus kedua melibatkan seorang bocah lelaki berusia 15 tahun yang sebelumnya telah menjalani operasi jantung untuk memperbaiki lubang di jantungnya sejak lahir. Bocah itu mulai pingsan saat dia akan memenangi pertandingan perang yang sedang dimainkannya. 

Dia lantas didiagnosis mengalami ventricular tachycardia, yaitu gangguan irama jantung di mana jantung berdetak lebih cepat dari biasanya dan bilik jantung bawah tidak selaras dengan bilik atas. 

Bocah itu menerima alat yang dikenal sebagai implantable cardioverter-defibrillator (ICD), yang mendeteksi dan menghentikan detak jantung yang tidak normal. Sekitar dua bulan kemudian, bocah laki-laki itu mengalami episode takikardia ventrikel lagi ketika dia akan memenangi permainannya. Untung saja, ICD berhasil mengembalikan irama jantungnya.

  • Kasus ketiga

Dalam kasus ketiga, bocah lelaki berusia 11 tahun pingsan setelah jantungnya berdebar-debar saat bermain game perang digital dengan seorang teman. Ia tersadar kembali dan didiagnosis menderita long-QT syndrome, yakni suatu kondisi irama jantung yang dapat menyebabkan detak jantung tidak teratur. Kondisi ini bersifat genetik. 

Apa pun yang menyebabkan lonjakan hormon stres dan adrenalin secara tiba-tiba dapat membuat seseorang rentan mengalami gangguan irama jantung, tak terkecuali game perang-perangan digital yang intens. Oleh karena itu, Anda yang punya permasalahan jantung (kondisi jantung yang lemah), lebih baik pilih permainan yang lain yang lebih “aman”.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar