Sukses

Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

21 Tahun

LanjutkanStop Disini

6 Penyebab Vagina Bengkak Setelah Bercinta

Apakah vagina Anda terasa nyeri dan bengkak setelah bercinta? Berikut ini mungkin beberapa penyebabnya.

Klikdokter.com, Jakarta Bercinta dengan pasangan, bagi wanita seharusnya tidak menyakitkan baik setelah maupun saat melakukannya. Bila kemudian vagina menjadi bengkak dan nyeri tentunya sangat tidak nyaman.

Ada banyak hal yang dapat menyebabkan vagina bengkak setelah bercinta. Berikut beberapa penyebab yang paling sering terjadi:

1. Kurang pelumas

Penyebab tersering vagina bengkak dan nyeri saat atau setelah bercinta yakni kurangnya pelumas. Dinding vagina wanita sebenarnya memproduksi sejumlah pelumas (lubrikan) alami saat mengalami stimulasi seksual.

Namun, produksinya bisa berkurang akibat faktor usia, penggunaan KB hormonal, atau efek samping obat. Bisa juga karena kurangnya waktu untuk foreplay atau “pemanasan” untuk meningkatkan gairah seksual.

Bila vagina tidak terlumasi dengan baik saat bercinta, gesekan akibat penetrasi penis dapat membuat robekan pada dinding vagina. Akibatnya, bengkak, nyeri dan infeksi bisa terjadi setelahnya.

Tips: Lakukan foreplay dalam waktu yang cukup. Selain mengeluarkan cairan pelumas, vagina akan memanjang dan melebar sehingga penetrasi terasa lebih nyaman dan lebih mudah. Bila perlu, tambahkan pelumas komersil. Namun, hindari yang mengandung alkohol karena dapat mengiritasi dinding vagina.

2. Ukuran penis besar

Ukuran penis pasangan yang relatif besar ketimbang liang vagina dapat mencederai serviks saat penetrasi. Nyeri yang muncul kemudian mirip dengan nyeri atau kram perut kala haid.

Tips: Untuk mengurangi keluhan, mandilah dengan air hangat, duduk di atas kursi dengan pemanas atau konsumsi obat pereda nyeri seperti ibuprofen. Ketiganya berefek antiradang, sehingga nyeri akan berkurang.

Berikutnya, cari posisi yang nyaman saat bercinta. Umumnya posisi yang tidak akan membuat vagina bengkak dan nyeri, yakni posisi di mana wanita dapat mengontrol penetrasi penis. Contohnya posisi wanita di atas.

Sebaliknya, hindari posisi yang memperdalam penetrasi seperti doggy style atau posisi yang membuat kaki wanita melayang.

3. Terlalu cepat atau terlalu lama bercinta

Ada kalanya Anda tak punya banyak waktu untuk bercinta. Namun, ini meningkatkan risiko vagina bengkak dan nyeri karena kemungkinan besar kurang pelumas. Sebaliknya, bila terlalu lama, akan terlalu banyak gesekan akibat penetrasi, sehingga bisa dipastikan vagina akan bengkak dan nyeri setelah bercinta.

Tips: Kurangi keluhan dengan melakukan kompres dingin dari balik celana dalam selama 10-15 menit. Jangan sampai es bersentuhan langsung dengan vagina karena akan semakin mengiritasi. Selanjutnya, pastikan waktu foreplay cukup dan mulailah proses bercinta dengan lembut dan perlahan.

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

4. Sensitif dengan kondom berbahan lateks

Sebagian orang alergi atau sensitif dengan kondom berbahan lateks. Jadi, ada kemungkinan Anda mengalami iritasi vagina bila kerap menggunakan kondom berbahan lateks saat bercinta.

Tips: Kurangi keluhan dengan melakukan kompres dingin dari balik celana dalam selama 10-15 menit. Hindari penggunaan kondom lateks dan alternatifnya, gunakan kondom berbahan polyurethane.

Namun perlu diketahui kalau kondom jenis ini lebih mudah lepas atau bocor ketimbang yang berbahan lateks. Cara lain, cari metode keluarga berencana lain yang sesuai dengan kebutuhan Anda dan pasangan.

5. Mengalami infeksi vagina

Vagina yang mengalami infeksi tak hanya terasa nyeri, tetapi juga gatal, perih, panas seperti terbakar, hingga muncul keputihan. Penyebab infeksi dapat berupa jamur, bakteri, infeksi menular seksual atau yang lainnya.

Tips: Bila Anda mengalami tanda-tanda infeksi vagina, hindari mendiagnosis dan mengobati diri sendiri. Segera konsultasikan dengan dokter agar pengobatan sesuai dengan penyebabnya. Obat-obatan yang digunakan pun umumnya hanya bisa diperoleh dengan resep dokter.

Untuk mencegah infeksi vagina di kemudian hari, ada beberapa hal yang bisa diterapkan. Yakni, gunakan kondom untuk mencegah infeksi menular seksual, buang air kecil dan membilas area kewanitaan setelah bercinta, dan hindari mencuci vagina (douching) secara rutin.

Kebiasaan ini dapat mengganggu keseimbangan pH vagina sehingga infeksi lebih mudah terjadi.

6. Ada kondisi medis tertentu

Vagina bengkak dan nyeri yang hanya terjadi sesekali setelah bercinta umumnya wajar dialami. Namun, kalau ini terjadi setiap setelah atau selama bercinta, bisa jadi merupakan tanda dari beberapa kondisi medis berikut:

  • Endometriosis atau pertumbuhan dinding rahim di luar rahim, misalnya di indung telur, saluran telur, dan jaringan-jaringan yang menutupi dinding panggul. Pada kasus yang jarang, pertumbuhan dinding rahim bisa menyebar ke dalam perut atau paru-paru.
  • Mioma uteri atau tumor jinak di dalam rahim.
  • Vulvodinia, yakni nyeri vagina kronik yang berlangsung selama paling sedikit tiga bulan berturut-turut. Nyeri bisa bersifat terus-menerus atau hanya sewaktu-waktu, yakni hanya dirasakan saat area vagina disentuh.
  • Penyakit radang panggul, yang terjadi ketika kuman yang ditularkan melalui hubungan intim menyebar dari vagina ke organ reproduksi lain (termasuk rahim, saluran telur atau indung telur) dan menyebabkan infeksi.
  • Vaginismus, yaitu ketika otot-otot vagina mengalami kontraksi secara involunter (tidak sadar). Akibatnya, penetrasi penis akan terasa nyeri.

Di luar kondisi-kondisi ini, vagina yang terasa nyeri saat bercinta juga bisa menjadi akibat dari posisi rahim yang retroversi (menghadap ke belakang), radang kandung kemih akibat infeksi, sindrom iritasi usus, wasir dan kista ovarium.

Pada dasarnya, momen bercinta seharusnya terasa nyaman dan memberi kenikmatan bagi kedua belah pihak. Agar bebas dari keluhan, selalu mulai dengan lembut dan perlahan.

Jangan lupa foreplay! Ini adalah kunci dari hubungan intim yang nyaman dan berkualitas. Bila kemudian bercinta sering kali menyakitkan atau membuat vagina bengkak dan nyeri, segeralah berkonsultasi dengan dokter kandungan Anda.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar