Sukses

Fakta tentang Parasit Malaria Resistan Obat di Asia Tenggara

Tersiar kabar mengenai malaria resistan obat di Asia Tenggara. Bagaimana fakta yang sebenarnya mengenai fenomena ini?

Klikdokter.com, Jakarta Penyakit malaria bukan merupakan hal yang baru di Indonesia. Menurut data kementerian Kesehatan RI, di tahun 2018 terdapat setidaknya 10,7 juta penduduk Indonesia yang tinggal di daerah endemis malaria tingkat menengah dan tinggi. Daerah tersebut meliputi bagian timur Indonesia, yaitu Papua, Papua Barat, dan NTT.

Di sisi lain, Indonesia memiliki target untuk mengeliminasi malaria di tahun 2030. Sayangnya, target tersebut terasa makin menjauh karena belakangan ini merebak kabar bahwa parasit malaria yang ada di Asia Tenggara resistan (kebal) terhadap obat.

Malaria resistan obat

Resistansi obat dari suatu mikroorganisme adalah adanya mutasi atau perkembangan secara genetik yang menjadikan “makhluk” tersebut memiliki ketahanan terhadap efek dari obat atau terapi yang seharusnya dapat melumpuhkan. Dengan kata lain, orang yang terjangkit mikroorganisme resistan obat perlu mendapatkan terapi yang lebih mumpuni.

Sebuah studi yang dipublikasikan di The Lancet Infectious Disease pada Juli 2019 memaparkan data penelitian pada DNA parasit penyebab malaria, Plasmodium falciparum, di Asia Tenggara. Data studi ini menunjukkan bahwa situasi resistansi obat pada parasit yang diteliti telah menunjukkan perburukan dari kondisi terakhir di tahun 2013.

Berangkat dari temuan tersebut, tim peneliti menekankan pentingnya pengawasan dan pendataan secara terus-menerus guna memantau perkembangan malaria. Hal tersebut juga dilakukan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan strategi kontrol malaria, baik oleh masing-masing negara maupun secara global. Ini tentu akan memengaruhi prosedur deteksi dini malaria dan pilihan terapi yang nantinya digunakan.

Masih bisa diobati

Hingga saat ini mayoritas negara di Asia menggunakan kombinasi dua jenis obat malaria yang tergolong kuat, yaitu dihidroartemisinin dan piperakuin (DHA-PPQ). Sayangnya, berbagai studi mengidentifikasi adanya strain malaria yang resistan terhadap kombinasi terapi tersebut, dan telah menyebar di Kamboja sejak tahun 2007 hingga 2013.

Peneliti telah menyatakan bahwa strain malaria resistan obat telah menyebar dengan sangat agresif, bahkan menjadi sangat dominan di beberapa negara seperti Vietnam, Laos, dan Thailand. Kecepatan penyebaran dan mutasi parasit ini bahkan memasuki kategori yang mengkhawatirkan, sehingga membutuhkan pengawasan serta kontrol ketat dari badan dunia maupun masing-masing pemerintah dari kawasan yang berisiko.

Meski begitu, malaria resistan obat tetap dapat diobati. Berdasarkan studi terkini, lebih dari setengah jumlah pasien yang terkena malaria resistan obat telah diberikan terapi khusus, sehingga penyakit bisa dikendalikan. Hal ini harus terus dikembangkan dengan cepat, agar mampu menyaingi kecepatan mutasi berbagai jenis parasit, termasuk parasit penyebab malaria.

Tentunya, adanya kasus malaria resistan obat memengaruhi usaha Indonesia dan negara-negara lainnya untuk mengeliminasi – atau memberantas – parasit penyebab penyakit tersebut secara menyeluruh. Bagi Anda yang tinggal di negara endemis, adanya kabar ini diharapkan mampu memicu semangat untuk turut serta dalam pemberantasan penyakit malaria. Mari sukseskan usaha Indonesia untuk mengeliminasi malaria pada tahun 2030!

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar