Sukses

Berhenti Merokok, Berisiko Mengalami Depresi?

Berhenti merokok pasti memiliki manfaat luar biasa. Tapi, benarkah itu justru membuat orang berisiko mengalami depresi?

Klikdokter.com, Jakarta Bagi perokok aktif, bisa berhenti merokok adalah perjuangan yang berat. Anda tentu tahu, merokok menyebabkan kecanduan yang sulit dihentikan. Oleh karena itu, jika Anda bisa lepas dari kebiasaan merokok, itu adalah suatu keberhasilan besar. Akan tetapi, menurut sebuah penelitian, orang yang berhenti merokok juga berisiko mengalami depresi. Benarkah demikian?

Saat Anda mau berhenti dari merokok, selalu ada saja alasan untuk terus merokok. Untuk bisa lepas dari kebiasaan merokok, Anda membutuhkan perjuangan ekstra keras.

Anda perlu memiliki alasan kuat untuk berhenti merokok, misalnya faktor kesehatan diri sendiri dan orang-orang di sekitar yang turut terpapar asap rokok Anda. Nantinya, alasan itu yang akan bisa memotivasi Anda untuk berhenti.

"Padahal, rokok sama sekali tidak punya manfaat baik untuk tubuh. Bahkan, kebiasaan merokok bisa  menyebabkan timbulnya berbagai penyakit di tubuh, mulai dari penyakit jantung, kanker, hingga tekanan darah tinggi," ujar dr. Nadia Octavia dari KlikDokter.

Benarkah berhenti merokok membuat orang berisiko masalah depresi?

Namun, sebuah penelitian tentang berhenti merokok yang baru-baru ini dilakukan bisa menjadi anomali tersendiri. Melansir dari medicalnewstoday.com, orang yang pernah kecanduan rokok dan kemudian berhenti, disebut berisiko mengalami masalah depresi.

Penelitian yang menggunakan data dari National Survey on Drug Use and Health tersebut menunjukkan bahwa orang yang berhenti merokok cenderung mengalami depresi atau melakukan kebiasaan lain yang merugikan. Ini sebuah keanehan di tengah banyak pihak yang setuju bahwa merokok sangat merugikan.

Selama bertahun-tahun, sejumlah besar studi ilmiah menyimpulkan bahwa merokok itu berbahaya. Nikotin, yang merupakan salah satu senyawa kimia paling lazim dalam rokok, sangat adiktif. Bahkan, beberapa ahli menganggapnya setara dengan kokain dan heroin.

Lebih lanjut lagi, penelitian yang disebarluaskan dalam American Journal of Preventive Medicine tersebut mengklaim bahwa orang yang pernah merokok dan sudah berhenti lebih mungkin mengalami depresi. Pada akhirnya, depresi itu akan membuat mereka mulai menggunakan ganja atau mengonsumsi alkohol secara berlebih.

Selama penelitian, tingkat depresi berat di antara orang yang terbiasa merokok lalu berhenti, naik dari 4,88 persen menjadi 6,04 persen. Selama periode yang sama, kebiasaan minum alkohol juga meningkat dari 17,22 persen menjadi 22,33 persen. Sementara, penggunaan ganja naik cukup signifikan, dari 5,35 persen menjadi 10,09 persen.

Faktanya, sebuah penelitian yang dilakukan di Kanada melaporkan bahwa 12 persen orang yang menghisap ganja menganggapnya sebagai pengganti tembakau dan nikotin. Ini menjadi angka yang menarik, sebab sebagian besar karena mengalami depresi.

Keterbatasan penelitian

Hanya saja, para peneliti mengakui bahwa penelitian tersebut memiliki keterbatasan. Dengan mengolah data berdasarkan pelaporan peserta studi, membuat hasilnya bisa menjadi bias.

Selain itu, para peneliti mencoba meneliti konsumsi alkohol berlebihan dalam sebulan terakhir. Sementara, penggunaan ganja diukur selama setahun terakhir. 

Tim peneliti juga mengakui bahwa penggunaan ganja di seluruh Amerika Serikat selama periode penelitian memang sedang meningkat. Kemungkinan, hal ini berkaitan juga dengan upaya legalisasi ganja yang sedang gencar dilakukan.

Penting juga untuk dicatat bahwa korelasi tidak sama dengan hubungan sebab akibat. Oleh karena itu, tidak mungkin menyimpulkan secara serampangan bahwa berhenti merokok dapat menyebabkan depresi, menyebabkan penggunaan ganja, atau meningkatkan konsumsi alkohol.

Meskipun demikian, sebagai ketua penyelidik, Renee D. Goodwin, Ph.D. mengatakan, "Temuan ini merupakan ancaman yang berbahaya akan kemajuan yang telah dibuat dalam mengurangi prevalensi penggunaan rokok."

Meski penelitian tentang kaitan berhenti merokok dengan risiko depresi di atas masih bias, hasil awalnya tetap perlu dipertimbangkan. Akan tetapi, apakah lebih baik berhenti merokok atau melanjutkannya? Jawabannya sudah sangat jelas, berhentilah karena rokok sama sekali tidak memiliki manfaat dan bisa menyebabkan berbagai penyakit berbahaya.

[MS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar