Sukses

Kenali Kapan Anak Perlu Operasi Amandel?

Salah satu gangguan kesehatan yang kerap terjadi pada anak adalah radang amandel. Lalu, kapan operasi amandel pada anak perlu dilakukan?

Radang amandel kerap terjadi pada anak-anak karena imunitas tubuhnya masih rendah. Nah, sebagai orang tua Anda harus tahu kapan waktu yang tepat anak perlu operasi amandel.

Radang amandel atau dalam bahasa medis disebut tonsilitis kerap menimbulkan sejumlah gejala pada anak. Yaitu, demam, nyeri tenggorokan, sulit menelan, batuk, dan pilek. Pada umumnya, tonsilitis disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus. 

Dalam sebagian kasus, antibiotik bisa digunakan untuk pengobatan radang amandel. Namun, kasus tertentu terkadang membutuhkan tindakan operasi. Lantas, kapan saatnya amandel si kecil perlu dioperasi? Berikut adalah tanda-tanda yang perlu Anda tahu:

1 dari 5 halaman

1. Peradangan Sudah Terjadi Berulang Kali

Radang amandel pada anak bisa sangat terganggu. Hal ini disebabkan demam dan kesulitan makan yang dialami si kecil. Ketika tonsilitis muncul berulang, yakni tiga kali atau lebih dalam setahun, anak perlu dioperasi amandel.

Terlebih jika tonsilitis ini terjadi berulang karena infeksi bakteri group A Streptococcus B hemoliticus, maka perlu dilakukan tonsilektomi.

Artikel lainnya: 10 Tanda Radang Tenggorokan yang Berbahaya

2. Radang Amandel Sudah Memasuki Tahap Kronis

Radang amandel terdiri atas dua jenis, yakni akut dan kronis. Untuk yang akut, biasanya akan membaik dalam waktu kurang dari 2 minggu dengan obat-obatan yang diberikan dokter. 

Akan tetapi, ada beberapa kasus khusus di mana radang amandel bisa menetap sampai berminggu-minggu. Inilah yang disebut sudah kronis.

Saat radang amandel sudah berulang, menetap, bahkan tidak memberikan respons saat diberi obat-obatan, khususnya antibiotik, tindakan operasi perlu dilakukan. 

3. Gejala Sudah Mengganggu Tidur Anak 

Radang amandel yang berulang dan bersifat kronis bisa mengakibatkan pembesaran amandel yang menetap. Oleh karena ada di sekitar tenggorokan, pembesaran tersebut bisa menghambat aliran udara saat bernapas, terutama ketika anak tidur.

Kondisi tersebut disebut obstructive sleep apnea syndrome (OSAS). Beberapa tanda dari OSAS pada si kecil yang patut diperhatikan, antara lain mendengkur saat tidur dan sering terbangun.

Dampaknya, kualitas tidur anak memburuk sehingga mereka akan mengantuk pada pagi atau siang harinya. Jika si kecil sudah mengalami hal tersebut, opsi operasi amandel dapat diambil demi memperbaiki kualitas tidurnya.

Artikel lainnya: Bolehkah Makan Es krim Saat Radang Tenggorokan?

2 dari 5 halaman

4. Bau Mulut yang Tidak Menunjukkan Perbaikan dengan Pengobatan

Bau mulut atau halitosis bisa muncul akibat radang amandel tidak lagi merespons obat-obatan dokter. Kondisi tersebut menjadi indikasi perlu dilakukannya operasi amandel.

Bau mulut tidak hanya berhubungan dengan masalah gigi saja, adanya infeksi pada amandel kronis bisa menjadi penyebabnya.

5. Terbentuk Abses Peritonsil

Abses peritonsil adalah salah satu komplikasi tonsilitis akut. Kondisi ini ditandai dengan adanya kantong yang berisi nanah di sekitar amandel dan dinding tenggorokan.

Masalah tersebut bisa menyebabkan nyeri menelan, suara gumam (hot potato voice), hingga sulit membuka mulut. Kantong nanah ini bisa sewaktu-waktu pecah dan menyebabkan aspirasi ke paru, perdarahan, serta infeksi ke daerah kepala.

6. Radang Amandel yang Menimbulkan Kejang Demam

Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius. Kondisi tersebut disebabkan oleh proses di luar otak.

Demam yang tinggi dan terjadi mendadak bisa disebabkan infeksi bakteri atau virus, seperti pada radang amandel, flu, dan otitis media.

Artikel lainnya: Susah Menelan, Ini 5 Penyebab Sakit Tenggorokan Sebelah

7. Pembesaran Amandel yang Dicurigai Keganasan

Pembesaran amandel, selain karena radang, bisa juga disebabkan keganasan atau kanker amandel. Gejala yang muncul pada keganasan sering kali disalahartikan sebagai radang amandel. 

Apabila muncul gejala berulang, disertai dengan benjolan di leher, penurunan berat badan, dan perubahan suara, diperlukan pemeriksaan lanjutan. Seperti biopsi jaringan, CT scan, dan MRI. 

3 dari 5 halaman

Seperti Apa Prosedur Operasi Amandel?

Operasi amandel atau tonsilektomi dilakukan oleh dokter spesialis THT. Tindakan ini menggunakan anestesi umum atau bius total. 

Adapun prosedur operasi amandel dilakukan dengan cara membuka mulut dan menggunakan beberapa teknik operasi, seperti: 

  • Elektrokauter: metode ini menggunakan energi panas untuk memotong jaringan amandel dan menghentikan perdarahan.
  • Cold knife (steel) dissection: operasi amandel dengan menggunakan pisau bedah (scalpel) kemudian menghentikan perdarahannya dengan teknik elektrokauter.
  • Harmonic scalpel: pada metode ini, tonsilektomi menggunakan sumber tenaga ultrasonic yang menggetarkan blade/pisau dengan kecepatan 55.000 siklus per detik. Energi dari getaran ini akan membantu memotong jaringan amandel dan sekaligus berperan sebagai koagulasi (menghentikan perdarahan).

Artikel lainnya: 6 Makanan Terbaik untuk Penderita Sakit Radang Tenggorokan

  • Bipolar radiofrequency ablation: teknik ini menggunakan energi radio frekuensi bipolar untuk menghasilkan lapisan ion plasma yang digunakan untuk menghancurkan jaringan amandel.
  • Microdebrider: metode ini menggunakan perangkat pencukur yang berputar dengan tenaga isap (suction) secara terus-menerus. 

Setelah selesai tindakan, biasanya pasien akan dibawa ke ruang pemulihan untuk dilakukan pemantauan. Apabila kondisi pasien sudah membaik, tidak ada perdarahan, atau komplikasi selama pemantauan, umumnya pasien boleh pulang. 

4 dari 5 halaman

Pemulihan Setelah Operasi Amandel

Beberapa yang dianjurkan agar pemulihan setelah operasi amandel berjalan dengan baik adalah:

  • Istirahat yang cukup di rumah. Hindari melakukan aktivitas berat, umumnya 1-2 minggu pertama.
  • Mengonsumsi obat yang diberikan oleh dokter. Umumnya dokter akan memberikan obat antibiotik untuk mengurangi risiko infeksi setelah operasi dan obat antinyeri. 
  • Konsumsi makanan yang lembut dan mudah ditelan, seperti yoghurt, bubur, dan puding.
  • Minum air putih yang cukup agar terhindar dari dehidrasi.
  • Kontrol atau follow up ke dokter untuk mengecek kondisi pasca-operasi. Umumnya dilakukan 1 minggu setelah operasi atau sesuai dengan rekomendasi dari dokter.

Radang amandel bukanlah kondisi yang sepele. Apabila sudah terjadi berulang dan menimbulkan keluhan yang mengganggu, bawalah anak ke dokter. Tak perlu khawatir jika memang harus dioperasi, toh tindakan ini demi kesehatan si kecil. 

Yuk, Bun, pantau tumbuh kembang anak yang optimal di sini. Baca juga informasi mengenai dan penyakit dan nutrisi anak lainnya di aplikasi KlikDokter.

[HNS/JKT]

0 Komentar

Belum ada komentar