Sukses

Sering Sakit Perut? Mungkin Bukan Masalah Pencernaan, tapi Stres!

Meski sering diabaikan, faktor stres sebenarnya juga dapat membuat Anda sering sakit perut. Apa kaitan antara keduanya?

Klikdokter.com, Jakarta Penyakit tak melulu dipicu oleh kondisi fisik. Pikiran, khususnya yang negatif seperti stres, juga dapat memengaruhi kondisi fisik sehingga dapat menyebabkan terjadinya penyakit. Salah satu penyakit yang bahkan bisa terjadi akibat pikiran negatif adalah sakit perut. 

Ya, sakit perut tak melulu terjadi akibat masalah pada lambung, usus, atau organ-organ saluran cerna lainnya. Kondisi tersebut juga bisa dicetuskan oleh pikiran negatif seperti stres, khususnya jika dibiarkan terjadi berkelanjutan.

Kaitan antara pikiran dan sakit perut

Menurut dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter, pada orang yang panik atau sedang menerima tekanan, kadar hormon stres dalam tubuhnya akan meningkat. Salah satu dampak dari kondisi itu adalah munculnya gangguan pada saluran cerna. 

“Lalu, keadaan tersebut dapat memicu peningkatan asam lambung dan terjadinya sakit perut,” jelasnya.

Tak berhenti di situ, panik dan stres juga menyebabkan ketegangan pada otot-otot perut. Jika otot perut menegang, organ dalam dan jaringan pada rongga perut juga ikut meregang. Alhasil, terjadinya sakit perut tak bisa dihindari lagi.

Kendati begitu, stres biasanya tidak berdiri sendiri dalam mencetuskan kondisi sakit perut. Ini artinya, stres akan memicu sakit perut, asam lambung naik, hingga iritasi usus yang cukup parah apabila sedari awal Anda sudah memiliki “bakat” penyakit tersebut. Misalnya, Anda kerap melakukan pola makan yang salah, mengalami infeksi di saluran cerna, atau rutin mengonsumsi obat yang dapat mengiritasi lambung. 

Solusi agar pikiran tidak bikin sakit perut

Terlepas dari kemungkinan tersebut, Anda perlu tahu bahwa sekitar 60 persen penderita sindrom iritasi usus atau irritable bowel syndrome (IBS) memang memiliki gangguan psikologis. Usus penderita disebut-sebut sangat sensitif terhadap makanan tertentu dan rasa stres, sehingga kemungkinan terjadinya sakit perut cenderung tinggi. 

Oleh sebab itu, penderita sindrom iritasi usus perlu mengelola pikirannya dengan baik supaya keluhan tidak mudah kambuh. Hal ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab, masalah bisa datang kapan saja dan membuat pusing, tertekan, hingga stres berlebihan. 

Walau begitu, Anda tetap harus berupaya untuk mengelola stres dengan baik agar tidak terjadi berlarut-larut, membuat saluran cerna semakin carut-marut dan mengalami perdarahan akut. Beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengelola stres, di antaranya

  • Rehat dari rutinitas dan lakukan sesuatu yang Anda senangi.
  • Bicarakan masalah pada orang yang tepat , bersedia mendengarkan dengan baik dan memberikan solusi tanpa menilai buruk. 
  • Berolahraga. Kegiatan positif ini dapat menurunkan kadar stres, apalagi bila disertai dengan teknik pernapasan yang baik. 
  • Jika tidur bisa menenangkan pikiran Anda, tak ada salahnya untuk memperbanyak waktu istirahat. 
  • Berikan “penghargaan” pada diri sendiri dengan mengonsumsi makanan yang lezat. Tapi, pilihlah makanan yang tidak memicu iritasi saluran cerna. Kalau Anda makan dalam porsi banyak, jangan lupa untuk membakar kalori (olahraga) agar berat badan tetap terjaga. 
  • Selesaikan masalah satu per satu. Tarik napas dalam dan yakinlah bahwa semuanya akan berakhir bahagia pada waktunya. 

Jika terasa “mentok” dan rasa stres atau sakit perut masih belum teratasi dengan cara-cara di atas, jangan pernah berpikiran untuk mengandalkan minuman beralkohol atau obat-obatan terlarang alias narkoba. Bukannya memberikan solusi, keduanya malah dapat menghancurkan organ pencernaan dan mengacaukan saraf, otak, pikiran, serta keseluruhan fisik Anda.

Akan lebih baik bila Anda mengonsultasikan masalah yang dialami pada dokter dan psikiater. Dengan ini, Anda akan mendapatkan penanganan yang tepat sasaran sehingga pikiran bisa tenang, stres menghilang, dan Anda tidak sering sakit perut.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar