Sukses

Kenali Trastuzumab Emtansine, Pengobatan untuk Kanker Payudara

Kehadiran Trastuzumab emtansine dalam pengobatan kanker payudara bak membawa angin segar. Cari tahu plus minus metode pengobatan ini.

Klikdokter.com, Jakarta Pengobatan untuk kanker—dalam hal ini kanker payudara—selalu menyita perhatian. Kali ini, giliran Trastuzumab emtansine yang ramai dibicarakan. Pasalnya, obat yang baru disetujui penggunaannya tahun 2018 oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) itu digadang-gadang dapat meningkatkan harapan hidup penderitanya hingga 3,5 tahun. 

Apa sih Trastuzumab emtansine?

Trastuzumab emtansine adalah antibody-drug conjugate yang bekerja sebagai obat tunggal untuk menyinergikan antara pengobatan kemoterapi dan terapi target dalam satu obat. Obat ini dirancang untuk menargetkan protein HER2 secara spesifik dan menghancurkan sel kanker dari dalam sel kanker itu sendiri.

Karena obat tersebut langsung bekerja di dalam “tubuh” sel kanker, sel-sel sehat yang berada di sekitarnya tidak ikut terkena imbas. Alhasil, efek samping pengobatan kanker bisa diminimalkan, seperti menurunnya sel darah putih secara drastis, kebotakan rambut, mual muntah yang parah, diare, serta penyakit kulit.

Berbeda halnya bila penderita hanya mendapatkan pengobatan kemoterapi saja. Meski ampuh menonaktifkan atau membunuh sel kanker, efek “pembunuhan massal” yang dilakukannya turut merusak sel-sel atau jaringan tubuh yang sehat. Dengan demikian, efek samping yang dihasilkan ikut menurunkan kualitas hidup penderita kanker payudara. 

Hanya khusus kanker payudara HER2-positif 

Trastuzumab emtansine meningkatkan rata-rata harapan hidup penderitanya hingga 30,9 bulan (3,5 tahun) dan menunda pemburukan dan kekambuhan penyakit hingga 9,6 bulan. Adanya perpanjangan waktu seperti itu tentu sangat berarti bagi penderita kanker payudara beserta keluarga dan kerabat mereka. 

Perlu diketahui juga, menurut dr. Alvin Nursalim, SpPD dari KlikDokter, obat kanker yang satu ini memang hanya dikhususkan untuk mengobati masalah kanker payudara, dan bukan jenis kanker lainnya. “Kanker payudara yang bisa diobati juga dengan tipe HER2 yang positif. Jika jenisnya negatif, pengobatannya akan kurang efektif dengan obat ini,” kata dr. Alvin.

Kanker payudara HER2 positif lebih ganas ketimbang HER2 negatif. Dikatakan dr. Alvin, itu karena HER2 positif memproduksi protein-protein yang merangsang pertumbuhan sel kanker dengan sangat cepat. Jika tidak ditangani dengan metode pengobatan kanker yang tepat, bukan tak mungkin sel kanker akan menjalar ke tulang, hati, paru-paru, hingga otak (metastatik). 

Meski sebagian besar dialami wanita, bukan tak mungkin kanker HER2 positif dialami juga oleh pria. Bahkan, ketika kanker tersebut sampai menyerang kaum adam, kondisi pemburukannya terjadi lebih cepat ketimbang wanita. 

Jika terjadi kekambuhan, apakah tetap diobati dengan Trastuzumab?

Obat ini memang dapat memberikan harapan hidup yang lebih panjang, tapi dia tidak bisa menjanjikan bahwa kekambuhan kanker tidak akan pernah terjadi lagi. Ketika penderita kanker payudara HER-2 positif yang mendapat pengobatan Trastuzumab mengalami kekambuhan kembali, dr. Alvin mengatakan, dokter akan memberikan pertimbangan untuk menjalani terapi lain. 

“Jika kambuh, biasanya memang tidak diberikan pengobatan yang sama. Lagi pula, dari awal, pengobatan dengan Trastuzumab emtansine ini mesti disertai dengan terapi lain. Misalnya pemeriksaan reseptor hormon estrogen dan progesteron. Ada kemungkinan juga dokter akan menyarankan pasien untuk diangkat ovariumnya demi mengurangi pemburukan kondisi. Itu khusus wanita yang sudah masuk pre-menopause,” pungkasnya. 

Antara kanker payudara HER2-positif dan ovarium dianggap saling berkaitan. Metode pengangkatan ovarium dan pengangkatan payudara demi mencegah pemburukan kondisi juga dilakukan oleh selebritas Hollywood, Angelina Jolie. Sebagai tambahan, apabila kondisi sudah membaik, pasien harus tetap melakukan kontrol 1-4 kali per tahun dan mendapat mammografi per tahunnya. 

Pengobatan kanker payudara dengan Trastuzumab emtansine dapat menjadi harapan baru bagi penderita kanker payudara di Indonesia. Namun, pencegahan tentu lebih baik ketimbang pengobatan. Karena itu, dr. Alvin mengingatkan para wanita – terutama yang punya riwayat keturunan kanker – untuk selalu menerapkan pola hidup sehat, kontrol berat badan, rutin olahraga, dan lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. 

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar