Sukses

Yuk, Kenali Diabetes Insipidus Lebih Dekat

Pada umumnya masyarakat hanya mengenal istilah penyakit diabetes mellitus. Namun ternyata, ada juga diabetes insipidus. Apa bedanya?

Klikdokter.com, Jakarta Diabetes insipidus merupakan gangguan kesehatan yang cukup langka. Diabetes jenis ini diakibatkan karena adanya ketidakseimbangan cairan dalam tubuh. Kondisi ini menyebabkan penderitanya merasa sangat haus dan memproduksi urine dalam jumlah besar. 

Meskipun kedua jenis diabetes ini terdengar mirip namun kedua penyakit ini tidak berhubungan. Diabetes mellitus yang dikenal dalam istilah tipe 1 atau tipe 2 adalah bentuk diabetes yang lebih umum dikenal masyarakat luas.

Walaupun tidak memiliki obat tertentu untuk menyembuhkan, dengan perawatan yang benar, diabetes insipidus ini dapat diatasi. Sehingga, rasa haus akan menghilang dan produksi urine yang berlebihan bisa kembali normal. 

Kenali gejala diabetes insipidus

Ada beberapa gejala khas yang menunjukkan seseorang mengalami diabetes insipidus ini. Beberapa tanda yang bisa Anda perhatikan antara lain: 

  • Rasa haus yang ekstrem
  • Memproduksi urine dalam jumlah besar 
  • Sering terbangun dari tidur untuk buang air kecil di malam hari
  • Lebih memilih untuk konsumsi minuman dingin
  • Jika penyakit Anda dalam keadaan yang serius, produksi urine bisa sebanyak 20 liter (sekitar 19 liter) sehari. Karena seorang dewasa normal biasanya buang air kecil rata-rata 1 atau 2 liter dalam sehari. 

Selain berbagai gejala di atas, kondisi serupa pada bayi juga harus diwaspadai. Bayi atau anak kecil dengan diabetes insipidus mungkin memiliki tanda dan gejala berikut:

  • Popok selalu basah karena produksi urine yang berlebih
  • Mengompol
  • Sulit tidur 
  • Demam 
  • Muntah
  • Sembelit
  • Penurunan berat badan dan pertumbuhannya terganggu
1 dari 2 halaman

Penyebab diabetes insipidus dan klasifikasinya

Diabetes insipidus terjadi ketika tubuh Anda tidak dapat menyeimbangkan kadar cairan tubuh dengan baik. Ketika sistem pengaturan cairan Anda berfungsi dengan baik, ginjal juga akan membantu menjaga keseimbangan ini.

Pada kondisi normal, ginjal membuang cairan dari proses penyaringan aliran darah Anda. Limbah cairan ini disimpan sementara di kandung kemih sebagai urine, sampai waktunya Anda buang air kecil. Tubuh juga dapat melakukan detoksifikasi dari kelebihan cairan melalui keringat, pernapasan atau diare.  

Sedangkan, hormon yang disebut anti-diuretic hormone (ADH), atau vasopresin, membantu mengontrol seberapa cepat atau lambat cairan dikeluarkan dari tubuh.

ADH tersebut dibuat di bagian otak yang disebut hipotalamus dan disimpan di kelenjar hipofisis, kelenjar kecil yang ditemukan di dasar otak. 

Jika Anda menderita diabetes insipidus, tubuh tidak dapat menyeimbangkan kadar cairan dengan baik. Penyebabnya bervariasi, tergantung pada jenis diabetes insipidus yang Anda miliki:

  • Diabetes insipidus sentral. Kerusakan pada kelenjar hipofisis atau hipotalamus akibat pembedahan, tumor, cedera kepala, atau penyakit dapat menyebabkan diabetes insipidus sentral dengan memengaruhi produksi, penyimpanan, dan pelepasan ADH. Penyakit genetik bawaan juga dapat menyebabkan kondisi ini. 
  • Diabetes insipidus nefrogenik. Diabetes insipidus nefrogenik terjadi ketika ada kerusakan pada tubulus ginjal beserta struktur di ginjal, yang menyebabkan air diekskresikan atau diserap kembali.

Kelainan ini membuat ginjal tidak mampu merespons ADH dengan benar.  Keadaan tersebut mungkin disebabkan oleh kelainan bawaan (genetik) atau kelainan ginjal kronis.

Obat-obatan tertentu seperti lithium atau obat antivirus seperti foscarnet (foscavir), juga dapat memicu diabetes insipidus nefrogenik. 

  • Diabetes insipidus gestasional. Diabetes insipidus gestasional jarang terjadi, namun dapat muncul ketika enzim yang dibuat oleh plasenta menghancurkan ADH pada ibu hamil.
  • Polydipsia primer. Juga dikenal sebagai diabetes insipidus dipsogenik. Kondisi ini dapat menyebabkan produksi urine dalam jumlah besar. Penyebab utamanya adalah karena minum cairan yang terlalu banyak. 

Polydipsia primer dapat disebabkan oleh kerusakan mekanisme pengaturan haus pada hipotalamus di otak. Kondisi ini juga dikaitkan dengan penyakit mental, seperti skizofrenia

Terkadang, penyebab diabetes insipidus bisa saja tidak jelas. Namun, pada beberapa penderitanya, kelainan ini mungkin merupakan hasil dari reaksi autoimun yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh merusak sel-sel yang memproduksi vasopresin. Kehilangan hormon vasopresin inilah yang memengaruhi frekuensi buang air kecil, mengontrol rasa haus, dan menjaga asupan air ke dalam tubuh.

Diabetes insipidus tidaklah sama dengan diabetes mellitus yang lebih dikenal di masyarakat. Meski demikian, gejalanya harus diwaspadai agar bisa diatasi sejak dini. Beberapa gejala yang disebutkan di atas bisa menjadi catatan bagi Anda. Jika mengalami tanda-tanda tersebut ada baiknya Anda segera memeriksakan diri ke dokter.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar