Sukses

Hati-hati, Gangguan Makan Juga Bisa Terjadi pada Pria

Walaupun lebih sering terjadi pada wanita, gangguan makan ternyata juga dapat dialami oleh pria, lo. Berikut penjelasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Gangguan makan, di antaranya anoreksia nervosa dan bulimia nervosa, ternyata juga banyak terjadi pada para pria. Berdasarkan data dari National Eating Disorder Association (NEDA), sebanyak 10 juta pria di Amerika Serikat terdiagnosis mengalami gangguan makan.

Jika tanpa disadari Anda mengalami kondisi ini, Anda perlu waspada. Kenali sejumlah gejalanya seperti yang dipaparkan dalam artikel ini.

Penyebab seseorang terkena gangguan makan

Salah satu faktor yang dapat memengaruhi terjadinya gangguan makan adalah faktor genetik. Pada seorang pria, adanya kasus gangguan makan dalam riwayat keluarga merupakan faktor risiko yang harus diantisipasi.

Selain itu, beberapa hal yang awalnya diduga hanya dialami oleh wanita – seperti tidak percaya diri dan melakukan hal-hal tidak sehat untuk memperbaiki penampilan – ternyata juga dialami oleh pria dalam menentukan citra dirinya.

Pendapat tersebut diutarakan oleh Shiri Sadeh-Sharvit, seorang psikolog klinis dari Palo Alto University. Beliau juga menambahkan bahwa tampilan di media mengenai postur tubuh yang ideal dapat mengubah persepsi pria mengenai tubuh mereka.

Hal ini yang kemudian membuat mereka mencoba melakukan hal-hal yang tidak sehat untuk mengubah bentuk tubuhnya.

Salah satu faktor pembeda antara pria dan wanita dalam hal gangguan makan adalah adanya perubahan persepsi. Menurut para ahli, wanita dengan gangguan makan biasanya melakukan segala cara untuk membuat tubuhnya langsing, sementara pria akan berjuang untuk lebih sehat.

Belum lagi, para wanita cenderung lebih sering memiliki target ukuran tubuh yang lebih kurus. Karena terdapat perbedaan target dalam mengubah bentuk tubuh, gangguan makan tidak selalu mudah dikenali pria. Biasanya, gangguan makan pada pria baru akan terdeteksi oleh orang tua, guru, atau tenaga kesehatan.

Pria dan gangguan makan yang dialaminya

Pria dengan gangguan makan tidak selalu kehilangan banyak berat badan. Biasanya tujuan utama mereka adalah untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan massa otot.

Hal tersebut tidak selalu dipandang sebagai sesuatu yang tidak lazim, karena membangun massa otot tidak selalu berhubungan dengan gangguan makan. Maka dari itu, kecil kemungkinan orang tua dan tenaga medis akan mengenali adanya gangguan makan pada pria dibandingkan dengan wanita.

Salah satu hal lain yang kemudian menyebabkan kesulitan dalam memberikan penanganan adalah terdapatnya stigma bahwa masalah gangguan makan lebih umum terjadi pada wanita. Hal tersebut disebabkan oleh adanya pendapat sosial bahwa wanita lebih memikirkan bentuk tubuhnya dibandingkan pria.

Gejala gangguan makan pada pria

Adanya kemungkinan bahwa gangguan makan juga bisa dialami pria, perlu membuat orang tua lebih waspada. Ada beragam hal penting yang perlu Anda  perhatikan jika Anda memiliki anak laki-laki. Beberapa tanda dan gejala tersebut antara lain:

  • Anak tidak mau menghabiskan makanan.
  • Bersikeras meyakinkan tidak mau adanya lemak dalam makanan mereka.
  • Menjalani diet ekstrem.
  • Menunjukkan kekhawatiran terhadap tubuh mereka.
  • Menanyakan bahan-bahan dalam makanan.
  • Menarik diri dari lingkungan teman-teman (misalnya menolak menghadiri pesta karena tidak mau makan).
  • Berbohong mengenai apa yang mereka makan atau tidak mereka makan.
  • Meningkatkan intensitas dan durasi lama olahraga yang dilakukan.

Sebenarnya jika hal-hal tersebut tidak dilakukan secara berlebih, sebetulnya masih dapat diterima. Namun jika dilakukan dengan bersikeras – seperti ingin selalu berolah raga walaupun sudah tidak mempunyai waktu atau sedang sakit – harus  diperhatikan apakah tanda tersebut dapat digolongkan sebagai gangguan makan.

Selain pada wanita, gangguan makan ternyata juga bisa terjadi pada pria. Oleh karena itu, apabila terdapat tanda-tanda yang menimbulkan kecurigaan terhadap adanya gangguan makan, perlu dilakukan pemeriksaan oleh dokter sebagai langkah evaluasi lebih lanjut. Cara ini juga dapat membantu menentukan penyebab gangguan makan serta penanganan yang paling sesuai.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar