Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Hukuman Kebiri Kimia, Kenali Prosedur dan Efektivitasnya

Hukuman Kebiri Kimia, Kenali Prosedur dan Efektivitasnya

Seorang pria asal Mojokerto akan menjadi orang pertama yang dikenai hukuman kebiri kimia di Indonesia. Kenali prosedur dan efektivitasnya.

Klikdokter.com, Jakarta Sebagian besar orang mungkin lebih mengenal hukuman kebiri fisik ketimbang kebiri kimia. Sebab, kebiri fisik sudah dilakukan sejak zaman dahulu dengan cara memotong penis atau mengambil testis pria yang melakukan kejahatan seksual. Lantas, seperti apa sebenarnya prosedur kebiri kimia? Apakah cukup efektif? 

Meski sebenarnya hukuman kebiri kimia bukan hal baru di dunia, tetapi di Indonesia, metode ini baru akan dilakukan untuk pertama kalinya. 

Peraturan baru terkait hukuman bagi pelaku kejahatan seksual

Hukuman kebiri kimia tersebut rencananya akan dijatuhkan untuk pertama kalinya pada Aris, seorang pelaku kejahatan yang telah memperkosa 9 anak di Jawa Timur. Selain mendapat hukuman kebiri, pria yang berprofesi sebagai tukang las itu juga dijerat hukuman 12 tahun penjara dan denda 100 juta rupiah subsider 6 bulan kurungan. 

Dilansir dari kompas.com, hukuman kebiri kimia diakomodasi setelah Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 yang berkaitan dengan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Perppu kebiri ditandatangani presiden pada Mei 2016, lalu disahkan DPR menjadi UU pada Oktober 2016. 

Tak cuma mengatur soal hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual, UU tersebut juga memuat ancaman hukuman mati bagi pelaku. Diharapkan, diperbaharuinya peraturan itu bisa memayungi dan melindungi kehidupan anak Indonesia dengan lebih baik. 

Prosedur dan efektivitas kebiri kimia

Lalu, bagaimana dengan prosedur kebiri kimia yang terdapat dalam undang-undang di atas? Apakah sama sekali tak ada bagian organ yang dipotong seperti kebiri fisik?

Pada prosedur kebiri kimia, memang tak ada bagian organ eksternal yang dipotong. Kebiri kimia dilakukan dengan cara memasukkan zat kimia anti-androgen ke dalam tubuh seseorang.

Anti-androgen sendiri lazim digunakan di dunia medis sebagai salah satu metode pengobatan untuk beberapa penyakit. Misalnya saja pada wanita yang sulit hamil akibat kadar androgen yang terlalu tinggi, serta pengobatan kanker prostat. 

Dalam dosis yang tinggi, anti-androgen dapat “membunuh” libido seseorang. Sebab, zat ini akan mengurangi produksi hormon testosteron. Ketika hormon testosteron berkurang, maka gairah seksual atau libido dari empunya tubuh pun akan menghilang. 

Jika libido menghilang, maka diharapkan keinginan untuk melakukan kejahatan seksual juga ikut lenyap. Sayangnya, menurut dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter, kebiri kimia ini masih kurang efektif.

“Itu karena, efektivitas obat anti-androgen atau anti-testosteron hanya bersifat sementara. Jika tak disuntik terus-menerus, maka gairah seksual dari si penjahat pun bisa timbul lagi. Ya, di awal memang berpengaruh, tetapi tekanan obatnya akan terus menurun. Jadi, sebenarnya ini kurang efektif. Tentunya, masih lebih efektif kebiri fisik,” jelas dr. Karin. 

Perlu Anda ketahui, dorongan seksual tak cuma diatur oleh testosteron, tetapi dipengaruhi juga oleh pengalaman seksual sebelumnya, kondisi kesehatan, serta faktor psikologis.

Kebiri kimia pun dapat menimbulkan efek samping pada penerimanya, seperti kehilangan kekuatan otot, osteoporosis, anemia, peningkatan lemak yang membuat tubuh menjadi gemuk, dan menurunnya fungsi kognitif. Selain itu, kebiri kimia juga dapat membuat seseorang menjadi mandul.

Nah, apabila libido kembali muncul karena tekanan obat sudah menghilang, tetapi pelakunya sudah mengalami efek samping mandul, ditakutkan itu bisa membuat kasus pemerkosaan yang dilakukannya semakin sulit untuk dibuktikan,” tambah dr. Karin.

Beda halnya dengan kebiri fisik. Oleh karena si pelaku kehilangan testis secara permanen, maka tak ada lagi organ yang dapat memproduksi hormon “kelaki-lakiannya”, sehingga dia jadi tak memiliki libido sama sekali. 

Kebiri kimia maupun kebiri fisik punya kesamaan. Keduanya sama-sama menimbulkan efek samping, yakni osteoporosis sebagai akibat tak ada laginya hormon androgen yang berfungsi memasukkan kalsium ke tulang. 

Pemotongan penis dan testis kini dianggap tidak manusiawi, maka hukuman kebiri kimia yang dijadikan solusi, meski efeknya sementara. Namun yang jelas, pelaku kejahatan seksual memang harus mendapatkan hukuman yang setimpal.

[MS/ RVS]

1 Komentar