Sukses

Beda Dermatitis Atopik pada Anak, Dewasa, dan Lansia

Dermatitis atopik atau eksem pada bayi, anak, dewasa dan geriatri (lansia) punya tiga fase berdasarkan perbedaan lokasi dan gejala.

Klikdokter.com, Jakarta Dermatitis atopik adalah penyakit kulit kronis yang bisa menyerang semua usia - bayi, anak, dewasa dan lansia tanpa memandang jenis kelamin. Berdasarkan gejala, kelainan kulit ini bisa berbeda pada tiap fase, yang berdasarkan pada lokasi dan gejala.

“Secara teoritis, lokasi dermatitis atopik berbeda pada setiap fase usia anak, remaja dewasa, dan manula. Lokasi klasik pada anak adalah lipat siku, lipat lutut, seputar bibir, atau mata dan pipi,” terang dr. Anthony Handoko, SpKK, FINDSV, dalam sebuah seminar media tentang dermatitis atopik pada hari Rabu (14/8) di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat.

Ia juga menambahkan bahwa gejala penyerta dermatitis atopik juga harus diperhatikan. Beberapa gejala tersebut antara lain  hidung meler atau bersin pada pagi hari (rinitis alergi), mata merah (konjungtivitis alergika), dan asma. Dermatitis atopic juga dikenal sebagai eksem. Awam menyebutnya eksim, atau asma kulit. 

Dikatakan oleh dr. Anthony, dermatitis atopik adalah penyakit kulit kronis (berulang). Peradangan kulit yang terjadi menimbulkan gejala gatal, ruam kemerahan, dan penebalan kulit. Sayangnya, hingga detik ini masih banyak orang yang mengira dermatitis atopik sebagai alergi.

“Kulit penderita bersifat kering dan lebih hipersensitif, rentan, reaktif terhadap faktor eksternal seperti benda asing atau alergen; cuaca, keringat, debu. Inilah kenapa awam sering menyalahartikannya sebagai alergi karena rasa gatalnya,” kata dokter spesialis kulit yang juga merupakan CEO dari Klinik Pramudia.

Juga penting untuk diketahui bahwa dermatitis atopik bukan penyakit menular, tetapi diturunkan secara genetik.

1 dari 4 halaman

Dermatitis atopik pada anak: gejala, faktor pemicu, dan pengobatan

Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) 2018, prevalensi kasus dermatitis atopik anak adalah 15-39 persen. Sedangkan di Indonesia, prevalensinya sekitar 23,67 persen dan ada 2 juta kasus tiap tahunnya.

Pada fase bayi dan anak, lokasi dan gejala yang ditimbulkan akibat dermatitis atopik tidak sama. 

“Pada bayi, lokasi umumnya di wajah, siku, lutut, dan kulit kepala. Sedangkan pada anak, lokasinya meliputi lipat siku, lipat lutut, leher, seputar mata, dan seputar bibir,” tutur dr. Anthony di hadapan kawan media.

Gejalanya pun berbeda, yakni:

  • Ringan: gatal, kulit kering, dan ruam kemerahan
  • Berat: gatal, ruam merah agak basah, dan krustasi
  • Kronis: gatal, penebalan kulit, dan warna kulit kegelapan.

Faktor pemicunya beragam, antara lain:

  • Faktor genetik atau riwayat keluarga
  • Daya tahan tubuh menurun
  • Debu, serbuk kayu, serbuk gipsum, semen
  • Bulu hewan peliharaan
  • Cuaca yang terlal panas, dingin, atau perubahan cuaca ekstrem
  • Stres emosional
  • Gigitan serangga
  • Zat iritan seperti detergen.

Pengobatan diberikan berdasarkan tingkat kondisi derajat keparahan dermatitis atopik yang timbul. 

“Pengobatannya bervariasi, mulai dari terapi topikal, oral, dan phototherapy,” sebut dr. Anthony. Lebih lengkapnya adalah sebagai berikut:

  • Terapi topikal: utamanya adalah kortikosteroid dan pelembap, yang harus dipantau dokter spesialis kulit. Ada pula alternatif lain bagi terapi topikal, yaitu tacrolimus dan pimecrolimus dengan harga yang lebih mahal.
  • Terapi oral: diberikan dalam kondisi khusus seperti saat infeksi, yaitu dengan kortikosteroid oral dan antibiotik. Bisa juga diberikan antihistamin oral untuk mengurangi keluhan gatal dan imunomodulator oral untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Dokter Anthony juga mengingatkan bahwa dermatitis atopik tidak bisa sembuh, tetapi bisa dikontrol. Ia mengimbau untuk segera mengenali lokasi dan gejala sedini mungkin, dan jika ditemukan segera bawa anak ke dokter spesialis kulit dan kelamin.

2 dari 4 halaman

Dermatitis atopik pada dewasa dan lansia: gejala, faktor pemicu, dan pengobatan

Prevalensi dermatitis atopik dewasa pada tahun 2018 adalah sebesar 2,1-4,9 persen di seluruh dunia. Angka insiden tersebut diprediksi makin meningkat karena semakin tingginya angka harapan hidup. Artinya, jumlah populasi lansia otomatis meningkat.

Tentang dermatitis atopik pada dewasa dan geriatri, dr. Ronny Handoko, SpKK, FINSDV, FAADV, mengatakan, “Umumnya faktor risiko yang menyebabkan dermatitis atopik adalah udara panas, sinar matahari, keringat, debu yang berlebih, bahan pakaian poliester dan wol, jenis kelembapan sabun, stres, pramenstruasi, makanan tertentu, bahan detergen, serta penggunaan bahan logam imitasi, karet, dan plastik,” ungkap dokter yang merupakan ayahanda dari dr. Anthony.

Dokter Ronny juga menambahkan bahwa pada prinsipnya, gejala dan lokasi luka pasien dewasa dan lansia sama. Gejala utamanya berupa gatal kronis, dengan variasi ringan sampai berat yang menimbulkan luka. Luka bisa ditemukan pada  siku, lutut, leher, sekitar mata, dahi, dada, punggung, bibir atau sekitarnya, tangan, kaki, dan sekitar puting.

Ada pula kondisi khas kulit geriartri. Menurut dr. Ronny biasanya pada kondisi tersebut terdapat rasa gatal yang dominan, tetapi gejala kulit minim. 

“Ini disebut sebagai pruritus senilis atau gatal pada usia geriatric,” kata dr. Ronny. 

Dikatakannya, kondisi tersebut bisa karena masalah lokal di kulit, atau bisa juga akibat adanya penyakit lain seperti gangguan ginjal, hati, atau limfoma.

Gejala tambahan yang sering ditemukan pada pasien dermatitis atopik antara lain:

  • Lingkaran seputar mata (dark circle) atau lipatan mata Dennie-Morgan
  • Kulit cenderung kering tidak normal (xerosis cutis)
  • Atopic skin, penampakan seperti kulit ayam
  • Bintik kasar di lengan dan paha (keratosis pilaris)
  • Bercak putih di wajah (pytiarisis alba)
  • Garis telapak tangan dan kaki berlebih (hyperlinearity palm)
  • Distribusi pembuluh darah yang tidak rata
  • Sifat dermografism (makin digaruk makin parah).

“Itu semua bisa sangat mengganggu kehidupan sosial pasien karena rasa gatal dan tak nyaman. Bahkan, bisa menimbulkan rasa minder karena luka yang ditimbulkan,” terang dr. Ronny.

3 dari 4 halaman

Pengobatan biasanya lama dan berulang

Dikatakan juga pasien lansia lebih rentan terkena dermatitis atopik dibandingkan dengan pasien dewasa. “Ini karena kulit lansia yang lebih tipis dan menurunnya daya tahan kulit, sehingga regenerasi kulit lebih rendah. Sistem imun tubuh yang rendah juga bisa memperparah dermatitis atopik,” ujar dr. Ronny. Tak hanya itu, kondisi tersebut juga menyulitkan pengobatannya.

Karena sifatnya kronis, pengobatan dermatitis atopik biasanya lama dan berulang, baik terapi topikal maupun oral. Akhirnya, sering kali timbul efek samping pengobatan terhadap kulit penderita maupun efek sistemi.

“Misalnya penipisan kulit akibat terapi kortikosteroid yang tidak di bawah pengawasan dokter spesialis kulit, atau karena pemilihan jenis dan jumlah yang tidak tepat. Sedangkan efek sistemiknya adalah timbulnya katarak prematur, diabetes melitus, osteoporosis, hipertensi, glaukoma, dan gangguan ginjal.”

Jika penderita secara bersamaan punya penyakit penyerta, baik penyakit kulit ataupun penyakit autoimun lain, maka dapat memperberat kondisi dermatitis atopik.

Selain minum obat dan melakukan perawatan sesuai anjuran dokter, penderita lansia juga sebaiknya menjauhi faktor pemicu dermatitis atopik seperti:

  • Cuaca atau udara panas dan sinar matahari
  • Debu
  • Keringat
  • Bulu atau serbuk
  • Pakaian dari poliester atau wol
  • Terlalu sering mandi (lebih dari tiga kali sehari)
  • Mandi dengan suhu air telalu panas
  • Menggunakan sabun dengan pH alkali >5,5
  • Stres emosional
  • Makanan tertentu
  • Terkena detergen
  • Pemakaian logam atau logam mulia, baik sepuhan maupun imitasi
  • Penggunaan bahan karet atau plastik.

Itulah perbedaan dermatitis atopik pada pada bayi, anak, serta dewasa dan lansia. Pada anak, kenali lokasi dan gejala sedini mungkin. Jika ada kecurigaan, segera periksakan ke dokter spesialis kulit dan kelamin. Keterlibatan dan kepedulian orang tua, penjaga anak, wali, beserta anggota keluarga lainnya sangat penting dalam pengobatan dermatitis atopik, baik untuk anak maupun lansia. Hindari pemicu, serta ciptakan lingkungan sekitar yang baik sesuai dengan kondisi pasien, agar bisa tumbuh dan berkembang dengan baik dan sehat, serta kualitas hidupnya terjaga.

(RN/ RVS)

1 Komentar