Sukses

Mata Silinder pada Anak, Bagaimana Menanganinya?

Mata silinder bikin penglihatan anak jadi buram. Jika ini sampai terjadi pada anak Anda, bagaimana cara menanganinya dengan benar?

Klikdokter.com, Jakarta Mata silinder atau silindris kerap ditemukan pada anak-anak. Jika anak Anda salah satunya, ketahuilah cara menanganinya dengan tepat, sehingga kondisi tersebut tak memengaruhi produktivitas dan kualitas hidupnya.

Menurut dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter, mata silinder atau astigmatisme adalah gangguan penglihatan yang ditandai dengan penglihatan yang kabur dari jarak jauh maupun kadang kala karak dekat, dan lebih sensitif terhadap cahaya menyilaukan di malam hari. Ini terjadi pada kornea mata yang memiliki kelengkungan tidak merata.

Umumnya, mata normal akan memiliki permukaan yang merata pada setiap arahnya. Namun pada penderita astigmatisme, terdapat beberapa daerah pada permukaan yang sebagian rata atau cenderung dalam.

Keadaan ini menyebabkan sinar yang masuk ke mata akan dibiaskan tidak pada satu titik fokus, sehingga objek yang dilihat tidak jelas dan berbayang. Pada umumnya, astigmatisme terjadi sejak lahir dan sebagian lainnya karena trauma, penyakit atau riwayat operasi pada mata.

Kata dr. Dyan, gangguan tersebut bisa bersifat genetik. "Bisa diturunkan oleh orang tua, tapi tidak mutlak," ungkap dr. Dyan Mega.

Mata silinder pada anak

Dilansir dari laman resmi Rumah Sakit Anak Boston, Amerika Serikat, astigmatisme umum terjadi pada bayi dan seringnya hilang dengan sendirinya saat ia berusia 1 tahun. Mata silinder lebih mungkin terjadi pada anak-anak dengan miopia (rabun jauh) atau hiperopia (rabun dekat).

Anak yang menderita mata silinder kemungkinan besar tak akan menyadarinya. Ini mungkin terjadi karena pengetahuan anak mengenai suatu benda belum sempurna.

Anak dengan astigmatisme yang tidak terdiagnosis bisa mengalami kesulitan di sekolah. Kondisi itu bisa disalahkartikan guru atau orang tua sebagai tanda ketidakmampuan belajar.

Oleh karenanya, anak-anak perlu menjalani pemeriksaan mata rutin. Dan itu seharusnya dimulai saat mereka masih bayi dan selama masa sekolah.

1 dari 2 halaman

Bagaimana menangani mata silinder pada anak?

Hingga saat ini, cara terbaik untuk menangani mata silinder pada anak adalah dengan penggunaan kacamata lensa silinder yang sesuai dengan hasil pemeriksaan dokter. Sebagai alternatif, penderita juga bisa menggunakan lensa kontak yang ukuran dan karakteristiknya sesuai dengan kacamata.

Operasi juga bisa menjadi pilihan untuk memperbaiki kelengkungan kornea. Operasi yang dimaksud adalah laser in situ keratomileusis (LASIK) atau photorefractive keratectomy (PRK).

"Silinder juga dapat ditangani dengan bedah refraktif lasik, yaitu dengan cara mengubah kelengkungan yang tidak rata menjadi rata. Anda dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis mata yang menawarkan penanganan astigmatisme dengan bedah refraktif lasik," tambah dr. Dyan.

Pentingnya pemeriksaan mata rutin

Sayangnya, astigmatisme tak bisa dicegah. Yang bisa Anda lakukan sebagai orang tua adalah dengan melakukan pemeriksaan mata secara rutin. American Ophtometric Association (AOA) merekomendasikan bahwa skrining penglihatan anak perlu dilakukan pada beberapa tahapan usia.

“Pertama adalah saat anak berusia 6 bulan,” kata dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid, dari KlikDokter.

Pada usia tersebut, pemeriksaan mata dilakukan dengan menyinari mata anak menggunakan senter dan melihat ada atau tidak refleks pada mata anak. Dokter akan memperlihatkan benda-benda dengan warna menarik kepada anak. Dokter akan memeriksa apakah mata anak terfiksasi dan ikut bergerak bila benda-benda tersebut digerakkan.

Pemeriksaan yang kedua adalah saat anak berusia 3-5 tahun. Pada usia ini, pemeriksaan tajam penglihatan umumnya dilakukan menggunakan LEA chart, yaitu berupa kartu yang memiliki berbagai gambar.

“Anak akan duduk pada jarak tertentu, kemudian dokter akan menunjuk satu gambar, dan dokter akan meminta anak menyebutkan gambar tersebut,” kata dr. Resthie menjelaskan.

Pemeriksaan ketiga adalah saat anak sudah memasuki usia sekolah, yaitu 7 tahun ke atas. Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan menggunakan kartu Snellen, yaitu kartu yang berisi berbagai huruf dengan berbagai ukuran.

“Anak akan diminta berdiri dalam jarak 6 meter dari kartu tersebut, dan diminta untuk membaca huruf yang tertera pada kartu. Pada usia sekolah, pemeriksaan mata sebaiknya dilakukan setiap dua tahun sekali,” terangnya.

Itulah cara menangani mata silinder pada anak. Sayangnya, hingga kini gangguan penglihatan ini tak bisa dicegah. Karena adanya pengaruh genetik, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah upaya deteksi dini sehingga bisa segera ditangani. Waspada, jika anak punya astigmatisme, objek yang dekat dan jauh bisa tampak buram. Gejala lainnya adalah: sering menyipitkan mata, ketegangan pada mata, dan sakit kepala. Bila itu terjadi pada anak, sebaiknya periksakan ia ke dokter spesialis mata.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar