Sukses

Hati-hati, Penggunaan Gawai Bisa Bikin Anak Terlambat Bicara

Maraknya penggunaan gawai saat ini bisa menjadi faktor anak terlambat bicara. Jadi, batasi akses si Kecil untuk memakai gawai.

Klikdokter.com, Jakarta Para orang tua generasi milenial banyak menggunakan gawai untuk mempermudah aktivitas sehari-hari. Namun tak hanya dipakai orang dewasa, kini gawai pun banyak digunakan oleh anak-anak. Sayangnya, kebiasaan ini bisa menyebabkan anak terlambat bicara.

Sudah menjadi pemandangan yang jamak di rumah, restoran, tempat bermain atau ruang publik, anak-anak asyik bermain dengan gawai masing-masing. Orang tua pun merasa lebih aman karena anaknya menjadi lebih tenang dan diam di tempat saat bermain gawai. Padahal, penggunaan gawai sejak dini bisa berbahaya bagi tumbuh kembang anak.

Penyebab anak terlambat bicara

Ada beberapa penyebab anak terlambat bicara, dan yang terbanyak di antaranya adalah retardasi mental, gangguan pendengaran dan keterlambatan maturasi. Keterlambatan maturasi ini sering juga disebut keterlambatan bicara fungsional.

Tapi, salah satu penyebab anak telat bicara yang perlu diwaspadai juga adalah penggunaan gawai yang terlalu dini dan berlebih. Tumbuh kembang setiap anak bisa berbeda-beda, termasuk kemampuan berbicara.

Di usia 12 bulan anak biasanya dapat mengucapkan 1-2 kata, mengenali nama dan meniru suara yang familiar. Menginjak usia 18 bulan, kosakata anak akan bertambah banyak (sekitar 10-20 kata) dan mulai mengombinasikan 2 kata.

Kemudian menginjak usia 2 tahun, anak sudah mulai berbicara 2-3 kata yang digabungkan dalam 1 kalimat. 

Dampak penggunaan gawai pada anak

Menurut penelitian yang dipresentasikan di the Pediatric Academic Societies Meeting di Toronto, Kanada, dilaporkan bahwa penggunaan gawai dapat membuat anak balita mengalami gangguan bahasa dan telat bicara. Penelitian yang dilakukan pada 894 anak usia 6 bulan - 3 tahun ini dilakukan pada tahun 2011 - 2015. 

Berdasarkan wawancara dan pemeriksaan yang dilakukan, ditemukan bahwa pada usia 18 bulan, 20 persen anak menggunakan gawai paling tidak 28 menit setiap harinya. Gawai yang dimaksud di sini termasuk ponsel dan tablet. 

Para peneliti menduga bahwa semakin lama dan semakin sering (misalnya setiap hari) intensitas balita menggunakan gawai, semakin tinggi risiko balita mengalami terlambat bicara. Semisal setiap peningkatan waktu 30 menit balita menggunakan gawai, maka akan meningkatkan risiko telat bicara hingga 49 persen.

Bolehkah anak main gawai?

The American Academy of Pediatrics telah mengeluarkan panduan yang berisi penggunaan gawai tidak dianjurkan untuk digunakan pada anak di bawah usia 18 bulan, kecuali untuk penggunaan video call dengan keluarga.

Untuk anak yang usianya lebih besar (18-24 bulan), penggunaan gawai sebenarnya diperbolehkan, namun tetap batasi waktunya, dan sebaiknya orang tua memilihkan aplikasi atau tayangan yang bersifat edukasi bagi anak. 

Sedangkan untuk anak usia 2-5 tahun, sebaiknya penggunaan gawai dibatasi maksimal 1 jam sehari (termasuk TV) dan orang tua harus menemani dan membantu anak memahami tayangan tersebut. Sementara itu, untuk anak usia di atas 6 tahun, terapkan batas yang konsisten dalam penggunaan gawai, termasuk media sosial.

Pastikan gawai yang digunakan tidak mengganggu waktu tidur anak, serta aktivitas fisik dan perilaku lainnya yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

Orang tua juga perlu menerapkan batasan waktu dan ruang di mana anak tidak diperbolehkan menggunakan gawai, semisal saat jam makan, sewaktu menyetir atau di kamar tidur. Ajak anak berbicara dan bercerita mengenai kegiatan dan aktivitasnya sehari-hari.

Penggunaan gawai dapat menjadi salah satu faktor penyebab anak terlambat bicara. Untuk itu, orang tua berperan penting dalam mengontrol penggunaan gawai bagi anak agar tidak berdampak buruk bagi tumbuh kembangnya kelak.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar