Sukses

Cedera Kepala Ringan Dapat Merusak Indra Penciuman?

Cedera kepala ringan bisa membahayakan. Tapi, benarkah bisa merusak indra penciuman seseorang?

Klikdokter.com, Jakarta Cedera kepala ringan bisa terjadi pada siapa saja, baik karena benturan kepala atau kejadian lainnya. Kondisi ini tak jarang bisa membuat gegar otak. Akan tetapi, benarkah cedera kepala ringan bisa sebabkan rusaknya indra penciuman?

Rusaknya indra penciuman terbagi menjadi dua jenis, yakni menurunnya kemampuan (hiposmia) dan hilang sama sekali (anosmia). Menurut dr. Atika dari KlikDokter, penyebab terjadinya gangguan indra penciuman bisa bermacam-macam. Beberapa penyebab yang mungkin berhubungan adalah alergi infeksi virus, massa dalam rongga hidung (polip hidung), serta kerusakan pada saraf.

Alergi juga dapat menyebabkan terbentuknya massa dalam rongga hidung yang disebut dengan polip hidung. Adanya polip hidung menyebabkan terjadinya sumbatan pada rongga hidung. Keadaan ini kemudian dapat mengganggu indra penciuman dan indra perasa.

Benarkah bisa rusak indra penciuman?

Kehilangan atau rusaknya indra penciuman memang berakibat fatal bagi seseorang. Orang yang mengalami hal ini jadi tidak bisa membedakan bau-bauan atau tidak mencium sama sekali bau-bauan di sekitar mereka.

Sudah diketahui bahwa masalah seperti itu bisa terjadi setelah akibat gegar otak berat. Tetapi, soal cedera kepala ringan, itu belum ada yang meneliti sebelumnya.

Namun, studi terbaru menemukan itu juga berlaku untuk gegar otak kecil atau cedera kepala ringan yang disebabkan oleh kecelakaan seperti jatuh dari sepeda. Selain itu bisa pula disebabkan kecelakaan ringan pada kepala yang bisa memengaruhi indra penciuman Anda.

"Banyak orang akan menderita gegar otak ringan di beberapa titik dalam hidup mereka, tapi merasa baik-baik saja. Akibatnya mereka baru menyadari bahwa mereka memiliki masalah penciuman, dan saat itulah mereka baru memeriksakan diri ke dokter," kata peneliti utama Fanny Lecuyer Giguere, seorang penelitian dari Departemen Neuropsikologi di University of Montreal.

Penelitian ini melibatkan 20 orang yang menderita gegar otak ringan dan "kelompok kontrol" yang berjumlah 22 orang. Kelompok kontrol ini adalah orang yang mengalami patah tulang akibat kecelakaan tidak mengalami gegar otak. Studi ini sudah dipublikasikan secara online baru-baru ini di jurnal Brain Injury.

Dalam 24 jam setelah cedera mereka, setengah dari pasien dengan gangguan gegar otak ringan merasakan bahwa kemampuan indra penciuman mereka berkurang. Ini dibandingkan hanya 5% dari pasien dengan patah tulang.

Hanya saja, setahun kemudian, indra penciuman pasien gegar otak ringan telah kembali normal (sebagian besar dalam waktu enam bulan). Akan tetapi, penelitian menemukan bahwa tingkat kecemasan mereka (65%) jauh lebih tinggi daripada kelompok kontrol.

"Sangat penting bagi pasien untuk melaporkan hilangnya kemampuan penciuman, karena itu bukan sesuatu yang biasa ditanyakan oleh dokter umum atau ruang gawat darurat mereka," kata Giguere.

Giguere juga mengatakan bahwa dokter harus memberi tahu pasien yang mengalami gegar otak ringan untuk melaporkan kehilangan penciuman atau kecemasan dalam minggu-minggu setelah cedera mereka. Semakin dini dokter mengetahui kondisi ini, semakin cepat pula dokter bisa menangani keluhan yang dirasakan pasien. 

Penelitian di atas cukup menjelaskan bahwa jangan pernah menyepelekan cedera kepala ringan yang Anda alami. Kondisi tersebut berpotensi membuat Anda kehilangan indra penciuman jika Anda tidak segera mendapatkan penanganan medis secara tepat.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar