Sukses

Butter, Lebih Banyak Manfaat atau Bahayanya?

Sudah lama butter menjadi perbincangan di kalangan ahli nutrisi. Sebetulnya, butter lebih banyak manfaat atau bahayanya?

Klikdokter.com, Jakarta Dulu mungkin lebih banyak yang menganggap butter sebagai musuh karena kandungan lemaknya. Namun sekarang, butter dianggap sehat—paling tidak jika dikonsumsi dalam jumlah moderat. Sebetulnya, butter lebih banyak manfaat atau bahayanya, ya?

Butter atau mentega adalah produk olahan susu populer yang dibuat dari susu sapi. Terdiri dari lemak susu yang telah dipisahkan dengan komponen susu lainnya, butter kaya rasa dan banyak digunakan sebagai olesan, memasak, dan membuat kue.

Beberapa ahli menyalahkan butter sebagai dalang di balik naiknya kolesterol dan penyumbatan arteri, sedangkan beberapa ahli lainnya mengklaim bahwa butter dapat jadi tambahan yang bergizi dan lezat untuk pola makan sehari-hari. Penelitian yang mencoba untuk mengevaluasi potensi efek kesehatan mentega juga cukup banyak.

Apakah butter berbahaya bagi kesehatan?

“Era ‘butter itu berbahaya’ sudah lewat, dan butter dapat membantu memenuhi pola makan bergizi bagi orang-orang yang menyukainya,” kata Wendy Bazilian, DrPH, RDN, ahli diet asal Amerika Serikat dan penulis buku berseri “Eat Clean, Stay Lean”, seperti dikutip dari laman Eat This.

Faktanya, ada satu studi di jurnal “PLOS One” tahun 2016 yang mengulas temuan penelitian yang dilakukan pada lebih dari 600 ribu orang. Kesimpulannya, kaitan antara konsumsi butter dengan semua penyebab kematian sangat lemah dan tidak secara signifikan terkait dengan kejadian kardiovaskular yang berbahaya, seperti penyakit jantung koroner atau stroke. 

Meski begitu, bukan berarti Anda bisa sesuka hati menyendokkan lebih banyak butter! “Kalori butter berasal dari lemak, sehingga ini bisa berdampak dalam hal kepadatan kalori,” katanya mengingatkan.

Satu sendok makan (14 gram) butter mengandung 102 kalori dan 11,52 gram lemak, yang mana 7,29 gram disumbangkan oleh lemak jenuh.

“Jumlah lemak jenuh tersebut mewakili 35 persen dari total jumlah harian yang direkomendasikan untuk asupan lemak jenuh berdasarkan diet 2.000 kalori,” jelas Wendy. 

Sebagai perbandingan, Anda bisa makan 1,25 cangkir blueberry untuk jumlah kalori yang sama (plus adanya kandungan serat dan antioksidan).

1 dari 3 halaman

Apakah nutrisi yang dimiliki butter berkualitas?

Butter adalah pilihan yang lebih sehat dibandingkan dengan margarin dan pengganti lemak yang telah diproses lainnya. “Margarin mengandung banyak lemak jenuh,” ungkap dr. Alberta Jesslyn Gunardi, BMedSc(Hons), dari KlikDokter.

Studi dari Harvard School of Public Health menunjukkan bahwa tingginya lemak jenuh dapat meningkatkan risiko serangan jantung. Tak hanya itu, “Margarin dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL), sehingga meningkatkan risiko diabetes melitus,” lanjut dr. Jesslyn.

Meski begitu, alternatif pengganti butter yang lebih sehat tetap ada, misalnya minyak zaitun atau minyak alpukat yang kandungan lemak jenuhnya lebih rendah dan menawarkan lebih banyak manfaat bagi kesehatan tubuh.

Secara kalori, butter, minyak zaitun, dan minyak alpukat tak jauh beda (bahkan lebih rendah 30 kalori per sajian). Namun yang membedakannya adalah distribusi jenis lemak. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, butter memiliki proporsi lemak jenuh paling tinggi. Konsumsinya yang berlebihan dikaitkan dengan meningkatnya level kolesterol darah. Minyak zaitun maupun minyak alpukat lebih banyak mengandung lemak tak jenuh tunggal yang baik untuk kesehatan jantung.

Jika ingin membeli butter, Anda dianjurkan untuk memilih yang organik atau bersumber dari variasi sapi grass-fed jika mungkin. Butter dari sapi grass-fed lebih banyak mengandung asam linoleat terkonjugasi (CLA), asam lemak tak jenuh yang diasosiasikan dengan penurunan lemak tubuh.

“CLA diketahu dapat meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) dan menurunkan LDL dalam darah, sehingga peningkatan tekanan darah bisa diminimalkan,” kata dr. Andika Widyatama dari KlikDokter ikut menambahkan.

Butter juga mengandung butirat, jenis asam lemak rantai tunggal yang kata dr. Atika dari KlikDokter memiliki berbagai manfaat.

“Asam lemak butirat punya banyak manfaat, salah satunya memiliki efek antiperadangan di dalam usus besar, serta menghambat pertumbuahan sel kanker di saluran cerna,” ungkapnya.

Selain itu, butter juga mengandung nutrisi mikro diperlukan tubuh. Sebagai contoh, vitamin A dapat baik untuk kesehatan kulit, fungsi imun, serta penglihatan yang sehat. Butter juga mengandung vitamin E yang dapat menyokong kesehatan jantung dan bekerja sebagai antioksidan untuk melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Selain itu, butter juga mengandung sejumlah kecil nutrisi lainnya seperti riboflavin, niasin, kalsium, dan fosfor.

2 dari 3 halaman

Jadi, lebih banyak manfaat atau bahayanya?

“Jika kehadiran butter tak terlalu banyak dalam pola makan Anda sehari-hari, tak ada alasan untuk menambah asupannya kecuali jika Anda butuh lebih banyak lemak atau kalori,” kata Wendy.

Anda yang bertubuh sehar dan menggemari butter harus tetap mengonsumsinya dalam batas aman. “Tetaplah berpegang pada 1 sendok makan per hari,” kata Wendy menganjurkan. Karena, sangat mungkin ada sumber lemak jenuh lainnya dalam pola makan Anda, seperti daging merah, daging ayam, susu dan produk olahannya, dan telur. Jadi amannya memang membatasi asupan butter.

Anjuran lainnya adalah kurangi stres.

Kata Wendy, jika setiap hari Anda menerapkan pola makan bergizi seimbang termasuk buah dan sayur tiap makan, mengurangi konsumsi makanan ultra-proses, protein sehat, biji-bijian (whole grains), dan lemak baik, berat badan akan terjaga. Selanjutnya, jumlah butter yang Anda konsumsi akan menyesuaikan dengan sendirinya. “Jadi, Anda tak perlu terlalu khawatir menimbang-nimbang apakah butter lebih banyak membawa manfaat atau bahaya,” tambah Wendy.

Mengingat butter tinggi lemak, Anda perlu mencatat bahwa batas konsumsi lemak per orang per hari dari Kementerian Kesehatan RI adalah 67 gram (setara dengan 5 sendok makan minyak goreng). Jika lebih dari itu, ada ancaman kolesterol tinggi, obesitas, nyeri sendi, dan menurunnya sistem pencernaan.

Butter kaya akan nutrisi dan mengandung senyawa baik seperti butirat dan asam linoleat, begitu juga mikronutrien penting, sehingga bermanfaat baik bagi tubuh. Bahkan, produk olahan susu tinggi lemak seperti butter telah dikaitkan dengan penurunan risiko obesitas diabetes dan penyakit jantung. Lebih banyak manfaat atau bahayanya? Namun ingat untuk selalu mengonsumsinya dalam jumlah yang moderat. Jangan berlebihan agar potensi risiko terhadap kesehatan bisa dicegah.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar