Sukses

Belajar Bahasa Asing Bisa Cegah Demensia?

Belajar adalah sesuatu yang disarankan untuk kesehatan otak. Tapi, apakah termasuk belajar bahasa asing?

Klikdokter.com, Jakarta Anda tentu tahu betapa bermanfaatnya belajar bahasa asing, bahkan ketika sudah dikenalkan sejak dini. Bahkan, ada suatu pandangan bahwa belajar bahasa asing ternyata bisa mencegah demensia. Bagaimana sebenarnya kebenaran soal pandangan itu?

Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya Anda ketahui dulu apa itu demensia. Menurut dr. Fiona Amelia, MPH dari KlikDokter, demensia bukanlah suatu penyakit, melainkan kumpulan gejala terkait dengan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir, serta interaksi sosial, yang sangat mengganggu kualitas hidup dan fungsi sehari-hari.

"Gangguan ini muncul akibat interaksi kompleks dari berbagai faktor seperti usia, genetik, lingkungan, kebiasaan atau gaya hidup, dan riwayat penyakit yang dialami," ujarnya.

Faktor risiko seperti usia atau genetik memang tidak dapat diubah. Meski demikian, ada faktor risiko lain yang berkaitan dengan kebiasaan atau gaya hidup, dan ini yang dapat diperbaiki untuk menurunkan risiko demensia.

Apakah benar belajar bahasa asing cegah demensia?

Selama ini, Anda mungkin tahu bahwa cara mudah yang paling sering disarankan untuk mencegah demensia adalah bermain atau mengisi Teka-Teki Silang (TTS). Ya, secara logika, TTS memang bisa membantu mencegah masalah kesehatan itu.

Ketika mengisi TTS, Anda akan dipaksa berpikir keras untuk mencari jawaban. Anda perlu jawaban yang tepat dan menyambung dengan jawaban lainnya. Itu membuat otak Anda bekerja dengan baik.

Namun, melansir dari Time, sebuah penelitian menemukan bahwa belajar bahasa asing bisa membantu mencegah demensia pada seseorang. Bukti terbaik pembelajaran bahasa asing memberi manfaat kognitif berasal dari penelitian terhadap orang yang memang sudah biasa bilingual atau biasa memakai dua bahasa dengan baik.

Bilingual atau multilingual sebenarnya lebih umum dari yang Anda kira. Banyak sekali orang yang sehari-hari bilingual, terutama orang-orang Eropa. Mereka akan berbicara bahasa ibu, tapi di sisi lain mereka juga harus terbiasa dengan bahasa Inggris.

Untuk satu hal, bilingual mengungguli monolingual pada tes perhatian selektif dan multitasking. Untuk perhatian selektif, orang yang menguasai bahasa asing ternyata lebih cermat. Sementara untuk multitasking, orang bilingual bisa lebih baik saat mengerjakan dua hal dalam waktu bersamaan.

Fakta lainnya, individu bilingual juga mengungguli orang-orang monolingual pada berbagai ukuran kognitif. Misalnya melakukan tugas pembentukan konsep dan mengikuti instruksi yang kompleks.

Sementara, jika merujuk pada manfaat menjadi bilingual ke aspek kognisi lain, maka salah satunya adalah untuk mencegah demensia. Bahkan, ada bukti yang mendukung klaim ini.

Psikolog Ellen Bialystok dan rekan-rekannya memperoleh catatan dari 184 orang yang telah menggunakan klinik memori di Toronto, Kanada. Bagi mereka yang menunjukkan tanda-tanda demensia, orang monolingual biasanya mulai menunjukkan tanda-tandanya pada usia rata-rata 71,4 tahun. Sebaliknya, orang dengan kemampuan bilingual menunjukkan tanda-tandanya pada usia 75,5 tahun.

Selain itu, sebuah studi terpisah yang dilakukan di India, menemukan hasil yang sangat mirip. Hasilnya, orang bilingual mengembangkan gejala demensia 4,5 tahun lebih lambat daripada orang monolingual. Hasil penelitian ini memberi tahu bahwa orang dengan keahlian bahasa asing ternyata tidak mudah terserang demensia dibanding orang monolingual.

Jangan pernah berhenti belajar

Pada akhirnya, belajar memang bukanlah sesuatu yang merugikan. Penelitian di atas juga menyebutkan bahwa belajar asing saat dewasa bukanlah hal yang terlambat. Hal itu tetap bermanfaat karena bisa membuat kualitas otak Anda tetap baik.

"Banyak studi menunjukkan bahwa orang yang terus belajar sepanjang hayatnya memiliki persambungan sel-sel saraf otak yang lebih banyak dan lebih kuat. Mengapa bisa begitu? Sebab, belajar hal-hal baru akan memicu pembentukan sinaps baru yang merupakan persambungan sel-sel saraf otak," kata dr. Fiona.

"Sinaps ini pun akan semakin kuat jika hal-hal yang dipelajari semakin diasah. Fungsi otak yang meliputi daya ingat, kemampuan berpikir, dan berlogika tentunya menjadi lebih baik," lanjutnya.

Jadi, belajar –termasuk belajar bahasa asing, harus terus dilakukan agar otak Anda tetap sehat, sehingga datangnya demensia pun dapat dicegah. Jangan lupa juga untuk mengimbanginya dengan olahraga dan sering bersosialisasi.

[MS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar