Sukses

8 Fakta Seputar Nyeri Kepala Migrain

Nyeri kepala migrain diperkirakan dialami oleh 1 miliar populasi dunia. Ungkap fakta medisnya berikut.

Klikdokter.com, Jakarta Data menyebut bahwa 1 dari 7 orang pernah mengalami migrain. Sayangnya, nyeri kepala migrain ini sering kali belum dikenali, terdiagnosis, dan ditangani secara tepat. Yuk, simak fakta-fakta seputar migrain yang mungkin belum Anda ketahui.

Migrain adalah salah satu kondisi neurologis yang kemunculannya bisa sangat mengganggu aktivitas. Gejala umumnya ditandai dengan nyeri kepala yang berat, gangguan kognitif, muntah, pusing berputar, serta adanya sensitivitas terhadap cahaya, suara, dan sentuhan.

Pada beberapa kasus, migrain juga dikaitkan dengan beberapa kondisi kesehatan serius seperti stroke, penyakit jantung, epilepsi, depresi, nyeri kronis, dan sebagainya.

Fakta seputar migrain

Berikut ini adalah beberapa fakta mengenai migrain yang layak diketahui.

  1. Sering menyerang kala stres

Migrain diketahui sering muncul saat seseorang sedang stres. Ada studi yang menemukan bahwa 50-70 orang memiliki kaitan yang signifikan antara tingkat stres harian dengan intensitas migrain yang dialami.

Salah satu cara untuk membantu mengatasinya adalah dengan mengetahui apa yang dapat mengakibatkan stres, lalu membatasi atau menjauhinya dalam kegiatan sehari-hari.

  1. Wanita lebih rentan, khususnya saat sedang haid

Bukti ilmiah yang ada menunjukkan bahwa wanita memiliki kemungkinan tiga kali lebih sering untuk mengalami migrain dibandingkan pria, terutama saat sedang haid. Kondisi ini disebut sebagai migrain mestruasi (menstrual migraine), yang penyebabnya adalah perubahan hormonal (estrogen dan progesteron) dalam tubuh wanita.

  1. Akibat kafein dan alkohol

Banyak individu melaporkan bahwa keluhan migrain memberat setelah mengonsumsi kafein atau alkohol. Salah satu cara untuk menghindarinya adalah dengan membatasi konsumsinya.

  1. Bisa muncul akibat perubahan cuaca

Perubahan tekanan barometrik, badai, atau udara panas yang berlebih merupakan beberapa faktor pencetus dari segi udara yang dapat berujung pada timbulnya serangan migrain.

Sebuah studi yang dilakukan pada penderita migrain di Ohio dan Missouri, Amerika Serikat, menemukan fakta bahwa risiko migrain akan meningkat pada cuaca yang sedang banyak petir ketimbang ketika tidak ada petir. Para peneliti menyimpulkan bahwa gelombang elektromagnetik dari petir dapat memicu terjadinya nyeri kepala pada penderita migrain.

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

  1. Bergantung pada pola makan sehari-hari

Makanan yang mengandung histamin, monosodium glutamat (MSG), keju dan produk susu lainnya, pemanis buatan (seperti aspartam), kafein, maupun makanan yang memiliki aroma yang kuat, dapat memicu timbulnya serangan migrain.

  1. Paling sering terjadi pada usia 35-45 tahun

Berdasarkan sebuah studi, kejadian migrain paling sering menyerang kelompok usia 35–45 tahun. Setelah rentang usia tersebut akan terjadi penurunan angka kejadian. Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa migrain sering kali tidak terdiagnosis atau tidak diberi terapi dengan tepat. Bahkan, banyak orang yang menyepelekan migrain hingga akhirnya merasakan keluhan yang bertambah berat.

  1. Seks juga bisa picu migrain

Aktivitas fisik yang intens, termasuk seks atau bahkan sekadar terangsang secara seksual dapat memicu terjadinya migrain. Biasanya, migrain jenis ini lebih umum dialami oleh pria berusia muda atau paruh baya dan akan menghilang dengan sendirinya seiring usia. Solusinya adalah dengan membatasi frekuensi seks.

  1. Berkaitan dengan bunuh diri

Ada beberapa bukti penelitian yang menunjukkan bahwa migrain dapat meningkatkan risiko percobaan bunuh diri. Risiko ini bahkan lebih tinggi pada orang yang mengalami migrain dengan aura (gejala gangguan sensorik seperti lebih sensitif terhadap cahaya, melihat kilatan cahaya, atau sensitif terhadap suara).

Itulah fakta-fakta seputar nyeri kepala migrain yang mungkin belum Anda tahu. Semakin banyak tahu, maka Anda bisa mencegah dan mengatasinya, serta begitu juga mendapatkan penanganan sesuai kondisi. Deteksi dan penanganan dini merupakan kunci penting untuk meningkatkan kualitas hidup penderita migrain.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar