Sukses

Benarkah Pakai Ganja seperti Jefri Nichol Bisa Atasi Stres?

Aktor Jefri Nichol ditangkap polisi terkait kepemilikan ganja. Banyak yang bilang, ganja bisa membantu mengatasi stres. Benarkah faktanya demikian?

Klikdokter.com, Jakarta Aktor muda Jefri Nichol (20) ditangkap polisi Senin (22/7) malam lalu terkait kepemilikan narkoba di kediamannya di Kemang, Jakarta Selatan. Banyak yang bilang, pakai ganja bisa membantu mengatasi stres. Namun pendapat ini tentu harus ditelaah secara medis.

Aktor film “Hit and Run” ini kedapatan memiliki ganja sebesar 6,01 gram, yang berdasarkan keterangan dari polisi barang tersebut ditemukan di kulkasnya. Berdasarkan pemberitaan, selain karena alasan medis tertentu, tak sedikit orang yang menggunakan ganja untuk membantu dirinya lebih tenang sekaligus mengatasi stres. 

“Memang ada beberapa jenis narkoba yang efeknya itu bisa menenangkan, bisa membuat pemakainya high dan happy. Ada pula jenis yang dapat meningkatkan stamina meski harus bekerja dari pagi sampai malam. Hanya saja, di balik keuntungan yang ada, tentu ada akibat-akibat yang bisa ditimbulkan seperti ketergantungan dan kerusakan otak, ” ujar dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter.

Ganja berasal dari tanaman Cannabis sativa. Tanaman ini banyak tumbuh di beberapa daerah di Indonesia. Zat yang juga dikenal dengan sebutan mariyuana ini termasuk dalam psikotropika golongan halusinogen, karena efeknya yang dapat memabukkan, memberi efek tenang, juga menciptakan delusi atau khayalan yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Efek ganja untuk mengatasi stres

Menurut Kementerian Veteran Amerika Serikat (VA), lebih dari 80 persen alasan seseorang menggunakan obat ganja adalah untuk menghilangkan rasa sakit. Sementara sebagai alasan utama, lebih dari sepertiga beralasan untuk mengobati stres pasca trauma (PTSD).

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal “Annals of Internal Medicine”, peneliti menemukan 27 studi yang mengaitkan penggunaan ganja untuk mengatasi nyeri kronis. Peneliti tidak menemukan cukup bukti bahwa ganja mengurangi nyeri neuropatik kronis atau saraf.

Ada studi di jurnal “Drug and Alcohol Abuse” yang dipublikasikan tahun 2017 yang mengatakan bahwa  ganja memang bisa mengurangi stres, tetapi pada penggunaan dosis rendah.

Menurut dr. Karin, ganja  sebenarnya juga bisa dijadikan sebagai salah satu pengobatan medis.

“Beberapa negara memperbolehkan penggunaan ganja sebagai pengobatan medis. Biasanya untuk obat antinyeri bagi penderita kanker, karena rasa sakitnya bisa tak tertahankan. Karenanya, untuk kepentingan yang semestinya, dengan dosis yang terukur dan berdasarkan anjuran dokter, sebenarnya penggunaan ganja dibolehkan,” ungkap dr. Karin.

“Ganja boleh digunakan jika efek positifnya dirasa lebih besar, ada anjuran dari dokter yang menangani, dan ini hanya berlaku di beberapa negara,” kata dr. Karin mengingatkan.

1 dari 2 halaman

Berbagai efek buruk ganja pada tubuh

Menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong  juga dari KlikDokter, ganja mengandung dua zat aktif: tetrahidrokanabinol (THC) dan kanabidiol (CBD). Saat seseorang mengisap atau menghirup ganja, THC akan masuk ke aliran darah melalui paru, kemudian ke otak. 

THC akan memicu pengeluaran dopamin, sehingga menimbulkan rasa senang, nyaman, tidak sensitif terhadap nyeri, dan tidur pulas. Namun dalam kadar yang tinggi, THC akan menimbulkan halusinasi.

Sementara itu, zat aktif kanabidiol (CBD) punya efek yang sedikit berbeda dengan THC. CBD justru membuat pemakainya merasa panik, bingung, khawatir, bahkan hingga depresi.

Penggunaan ganja sendiri mampu meningkatkan denyut jantung sebanyak 100 persen. THC dalam ganja mampu membuat jantung bekerja lebih keras. Ini bisa berbahaya bagi kesehatan jantung. 

Selain itu, ganja juga dapat meningkatkan risiko pengingkatan tekanan darah secara tiba-tiba.  Peningkatan tekanan darah yang terus-menerus akan mengakibatkan beban kerja jantung semakin berat. Bahkan, tidak menutup kemungkinan akan terjadi gangguan pada fungsi jantung di kemudian hari.

Zat yang terkandung dalam ganja juga akan menyerang pembuluh darah dan mengakibatkan kerusakan. Kerusakan pembuluh darah akan menurunkan kemampuan darah untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh dan membuat pemakainya lebih rentan terkena serangan jantung.

Tidak hanya meningkatkan risiko kerusakan jantung dan peningkatan tekanan darah secara tiba-tiba, penggunaan ganja juga mampu berisiko merusak jaringan pada otak. 

“Ganja akan merusak daerah prafrontal dan mengurangi volume hipokampus otak. Sederhananya, volume otak akan menjadi lebih kecil. Hal ini berpengaruh pada memori atau ingatan,” kata dr. Sepriani. Hipokampus otak adalah daerah otak yang bertanggung jawab untuk penyimpanan memori jangka panjang.

Ia juga mengatakan bahwa ganja mampu menyebabkan sambungan antar sel saraf di otak menjadi terganggu. Akibatnya, para penderita tidak dapat memproses informasi dengan baik dan jelas. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ganja dapat menurunkan tingkat kecerdasan (IQ) secara signifikan pada pemakainya. Ini berdampak pada kemampuan berpikir, bekerja, dan menyebabkan penurunan produktivitas.

Efek buruk ganja tidak hanya dialami oleh mereka yang menggunakan secara langsung, tapi mereka yang menghirupnya.

Meski memiliki beberapa efek positif dan di sudah digunakan sebagai pengobatan untuk kondisi medis tertentu, tetapi ganja adalah hal yang dilarang di Indonesia.

Meski memiliki beberapa efek positif seperti membantu mengatasi stres atau sudah dimanfaatkan sebagai pengobatan di beberapa negara, tapi pemakaian ganja masih menjadi hal yang dilarang di Indonesia. Penyalahgunaannya pun masih banyak terjadi, seperti kasus yang tengah menjerat aktor Jefri Nichol. Sederhananya, jika ganja memiliki lebih banyak efek buruk daripada efek baiknya, sebaiknya jauhi.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar