Sukses

Nunung Pakai Narkoba Berbulan-bulan tapi Tetap Segar, Kok Bisa?

Nunung pakai narkoba selama 5 bulan belakangan, tapi penampilannya tetap tampak segar tak seperti stereotip pemakai. Ini penjelasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Ciri-ciri fisik pengguna narkoba yang selama ini identik dengan tubuh kurus, wajah pucat, mata cekung dan beler, pupus oleh komedian Nunung. Bagaimana tidak? Nunung pakai narkoba selama 5 bulan belakangan tapi masih saja tampak segar.

Deskripsi umum pengguna narkoba seperti yang disinggung sebelumnya memang tak salah. Hampir sebagian besar jenis narkoba memang menurunkan nafsu makan penggunanya. Tubuh pun makin lama makin kurus.

Namun, Nunung seperti yang Anda lihat di berbagai acara TV dan pemberitaan beberapa waktu belakangan, penampilannya tak tampak seperti deksripsi stereotiop seorang junkie.

Sekadar mengingatkan, jenis narkoba yang digunakan oleh Nunung adalah sabu. Sabu adalah golongan narkoba metamfetamin, bersifat adiktif. Sabu juga mampu membuat orang yang mengonsumsinya menjadi lebih bersemangat, lebih percaya diri, tidak cepat merasa lelah, dan konsentrasi meningkat.

Selain itu, sabu dapat menurunkan nafsu makan, sehingga tak sedikit orang menyalahgunakannya sebagai jalan pintas menuju tubuh yang lebih kurus.

Mekanisme kerja sabu langsung memengaruhi otak. Ketika pengguna sabu menghentikan kebiasaannya secara tiba-tiba, efek yang bisa ditimbulkan adalah sebaliknya, yakni kelelahan yang berat, mudah tersinggung, disorientasi, hingga depresi.

Ini mengapa pengguna sabu tidak mengalami penurunan berat badan

Menurut dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter, meski secara teori narkoba – dalam hal ini sabu – dapat membuat tubuh penggunanya lebih kurus, tetapi ternyata ini juga sangat bergantung pada pola hidup yang dilakoninya sehari-hari.

Sebagai contoh, misalnya seseorang yang berprofesi aktif di dunia hiburan biasanya memiliki jam kerja yang panjang. Alhasil, pola istirahatnya jadi berantakan. Begadang pun bisa menjadi kebiasaan.

“Ketika seseorang sering begadang dan terganggu pola istirahatnya, maka orang tersebut justru memiliki peningkatan nafsu makan yang lebih tidak terkontrol. Sehingga, keesokan harinya atau pada waktu ia begadang, kalori yang dimasukkan ke dalam tubuh menjadi banyak,” jelas dokter yang kerap disapa dr. Ega.

Ketika Anda merasa lelah sekaligus merasa tertekan akibat tuntutan pekerjaan (stres), biasanya menu makan yang dipilih adalah menu makan yang hanya menggugah selera (comfort food) dan cepat saji. Dengan demikian, lebih banyak karbohidrat dan lemak tak sehat yang masuk ke dalam tubuh ketimbang nutrisi lainnya.

“Pekerjaan di dunia hiburan, misalnya selebritas, mungkin saja membuat mereka tak banyak waktu berolahraga, terutama mereka yang sudah agak berumur. Mereka hanya fokus kerja, kerja, dan kerja, tetapi mengabaikan olahraga karena sudah terlanjur lelah,” tambah dr. Ega.

Jadi, kombinasi antara kacaunya pola istirahat, jenis makanan yang sering dikonsumsi selama ini besar jumlah kalori dan lemaknya, hingga kurangnya aktivitas fisik pada akhirnya membuat kondisi seorang pengguna narkoba tidak mengalami penurunan berat badan.

“Atau dengan kata lain, efek samping sabunya itu ‘kalah’ dengan kalori atau pola hidup yang dijalaninya,” pungkas dr. Ega.

Meski pengguna sabu indentik dengan tubuh kurus dan stereotip junkie lainnya, tetapi sebetulnya ukuran tubuh atau berat badan tak bisa menjadi patokan bahwa seseorang adalah pemakai narkoba atau bukan. Karena pada kenyataannya, itu sangat dipengaruhi oleh pola hidup yang dijalani.

Kasus Nunung pakai narkoba memang mengejutkan masyarakat. Namun seharusnya tidak cukup berhenti sampai di situ. Yang dibutuhkan sekarang adalah kesadaran semua pihak akan bahaya mengonsumsi narkoba, apa pun alasannya.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar