Sukses

Penyebab Bayi Tidur Mendengkur

Sebelum punya anak, hanya suami yang tidur mendengkur. Setelah melahirkan, giliran bayi tidur mendengkur. Kira-kira apa penyebabnya?

Klikdokter.com, Jakarta Bayi tidur mendengkur mungkin terdengar lucu. Namun kondisi ini sangat mungkin terjadi.

Tidur mendengkur dianggap sebagian orang sebagai tanda tubuh yang kelelahan. Biasanya, orang yang mengalaminya akan mengeluarkan suara ketika tidur. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh sumbatan.

Pada akhirnya, udara yang melewati sumbatan tersebut akan bergetar, sehingga menyebabkan suara mendengkur. Semakin banyak udara yang lewat, dan semakin banyak getaran yang ditimbulkan, maka akan semakin keras suara dengkuran.

Tips mengatasi bayi yang tidur mendengkur

Secara umum, suara napas bayi cenderung berisik. Hal ini disebabkan sempitnya lubang udara pada saluran pernapasannya. Nah, jika terdapat lendir pada saluran pernapasannya, bayi pun akan mengeluarkan suara mendengkur saat tertidur.

Pada kebanyakan bayi, suara mendengkur akan menghilang setelah bertambah besar, seiring dengan perubahan pada saluran pernapasannya. Namun, hidung bayi yang tersumbat akibat produksi lendir berlebih juga dapat menimbulkan suara mendengkur. Misalnya saja bayi yang sedang pilek atau mengalami reaksi alergi.

Untuk mengatasinya, Anda dapat menyedot lendir pada hidung bayi. Selain itu, memberikan uap pada bayi juga dapat membantu mengatasi kondisi ini. Tindakan ini juga dapat dilakukan dengan pemakaian humidifier atau vaporizer.

Selain itu, Anda juga dapat mencoba menggendong bayi dalam kamar mandi setelah mandi menggunakan air panas. Uap panas yang muncul setelah mandi dapat membantu mengencerkan lendir pada saluran pernapasan.

Mengingat keluhan sering muncul saat tidur, tidak ada salahnya melakukan ini pada malam hari sebelum si Kecil tidur.

Mencegah si Kecil tidur mendengkur

Sebagai langkah pencegahan, lingkungan tidur bayi sebaiknya dibersihkan dari berbagai faktor penyebab alergi.

Bersihkan kasur dan cuci seprei secara teratur, pindahkan boneka dari area tidur bayi, karena umumnya debu menempel pada boneka. Lalu, jangan lupa untuk menjauhkan binatang peliharaan dari kamar si Kecil.

Selain itu, waspadai kondisi deviasi septum nasal yang juga dapat menyebabkan bayi tidur mendengkur. Pada kondisi ini, tulang rawan yang menjadi penyekat antara kedua lubang hidung lebih miring ke salah satu sisi. Akibatnya, salah satu lubang hidung menjadi lebih sempit sehingga bayi mendengkur.

Kondisi ini umum ditemukan pada bayi yang baru lahir. Diperkirakan sekitar 20 persen bayi baru lahir mengalaminya. Untungnya, sering kali kondisi ini membaik dengan sendirinya setelah bayi bertambah besar.

Penyebab bayi mendengkur lainnya

Penyakit  lainnya yang harus diwaspadai adalah laringomalacia. Sebab, penyakit ini bisa juga menjadi alasan bayi Anda mendengkur saat terlelap.

Pada kondisi ini, tulang rawan pada kotak suara (laring) yang menjaga saluran pernapasan tetap terbuka, bahkan melunak, sehingga dapat terkulai dan menutupi sebagian saluran udara.

Sama seperti deviasi septum nasal, sekitar 90 persen kasus laringomalacia dapat membaik dengan sendirinya. Bayi yang bertumbuh akan membantu “mematangkan” tulang rawat tersebut, sehingga kuat dan tidak lagi memblokir saluran pernapasan.

Sering kali, keluhan mendengkur ini menghilang saat bayi berusia 18 hingga 20 bulan.

Walaupun kebanyakan penyebab bayi tidur mendengkur bukanlah masalah kesehatan serius serta sering kali menghilang dengan sendirinya, sebaiknya Anda tetap melaporkan hal ini saat si Kecil mengalaminya.

Dengan demikian, dokter dapat membantu Anda memeriksa apakah ada sumbatan pada saluran pernapasan bayi atau tidak, atau adanya kondisi kesehatan lainnya.

Di sisi lain, bayi yang tidur mendengkur mungkin perlu diperiksa lebih saksama apabila juga ditemukan beberapa gejala berikut:

  • Kesulitan tidur di malam hari
  • Kesulitan bernapas di siang hari
  • Mudah sesak napas
  • Kesulitan saat minum ASI dan sulit bertambah berat badannya
  • Napas yang berhenti lebih dari 10 detik

Bayi tidur mendengkur mungkin menurut sebagian orang adalah hal yang biasa. Namun, Anda tak boleh menganggap kondisi ini sepele. Konsultasikan segera dengan dokter bila si Kecil mengalaminya, sehingga bisa segera didiagnosis dan diatasi.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar