Sukses

Kiat Mengatasi Trauma pada Anak Korban Gempa Bali

Anak korban gempa Bali rentan mengalami trauma. Mengatasi trauma pada anak korban gempa bisa dilakukan dengan cara berikut.

Klikdokter.com, Jakarta Mengatasi trauma pada anak korban gempa adalah salah tindakan yang harus segera dilakukan jika bencana gempa terjadi. Begitu pula yang terjadi setelah gempa Bali Selasa (16/7) kemarin, tepatnya di kawasan Nusa Dua.

Gempa berskala 5,8 skala richter itu memang tak berpotensi tsunami tapi cukup membuat genting dan kaca-kaca pecah di daerah yang terdampak gempa. Warga dan wisatawan sempat panik terjadi sampai sembilan kali gempa susulan

Melansir dari CNN, Deputi Bidang Geofisika BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), Muhamad Sadly, menyebut bahwa gempa tak hanya terasa di daerah Nusa Dua. Selain di kawasan tersebut juga terasa hingga ke kawasan Denpasar, Mataram, Lombok Tengah, Lombok Barat, Banyuwangi, Karangkates, Sumbawa, Hingga Lumajang.

Beberapa bangunan sekolah juga menurut Sadly dilaporkan mengalami sejumlah kerusakan. Diantaranya SD 8 Ungasan, SD N 1 Kutuh, SMPN 2 Kuta Selatan, hingga gapura pintu masuk ITDC Nusa Dua.

Trauma pascagempa pada anak-anak

Gempa dan bencana alam lainnya biasanya memang bisa membuat anak-anak menjadi trauma. Seperti dikatakan Florence Halstead, peneliti Human Geography dari University of Hull, gempa dapat menyebabkan tingkat kecemasan dan trauma emosional yang tinggi bagi anak-anak.

Sementara itu, menurut dr. Theresia Rina Yunita dari KlikDokter, anak-anak memang bisa mengalami trauma ketika mengalami suatu bencana alam. Skalanya bisa dari trauma ringan sampai trauma yang berat.

"Anak-anak dari segala usia memang bisa mengalami trauma. Traumanya bisa ringan, bisa juga berat," ujar dr. Theresia Rina Yunita.

Sebenarnya, trauma yang dialami anak-anak menunjukkan gejala yang cukup jelas. Berikut gejala-gejala gangguan trauma pascabencana yang timbul dan bisa dialami oleh seseorang yang pernah mengalami peristiwa tersebut, di antaranya:

  • Sering teringat atau terbayang kejadian pemicu trauma tersebut
  • Mengalami gangguan tidur
  • Sering memimpikan kejadian tersebut
  • Kecemasan yang tidak dapat dihindari
  • Mudah marah
  • Sulit berkonsentrasi.

Mengatasi trauma pada anak

Keluarga punya peran besar dalam membantu mengatasi trauma pascagempa yang dialami anak-anak. Ada beberapa cara untuk mengatasi trauma pascagempa:

1. Orang tua memberikan penjelasan

Bagi anak yang trauma, peran orang tua cukup besar. Menurut dr. Theresia, orang tua bisa menjelaskan apa itu gempa. Akan tetapi, jika trauma sudah berat harus dibawa ke psikolog.

"Orang tuanya bisa menjelaskan, memberikan pengertian, dan diajarkan gempa itu apa, bagaimana terjadinya. Misal anak trauma dan tingkatnya masih ringan, orang tua masih bisa membantunya. Akan tetapi, kalau sudah sangat berat, seperti susah tidur dan menangis setiap hari, harus segera dibawa ke psikolog atau orang yang lebih ahli. Supaya bisa cepat teratasi," ujar dr. Theresia.

2. Edukasi anak soal gempa

Ajarkan pada anak tentang penyebab bencana alam seperti gempa. Ajarkan pula apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama gempa, serta bagaimana dapat melindungi dirinya dan orang lain di sekitarnya.

"Lalu, penting juga memberikan edukasi kepada anak-anak soal gempa, dalam hal mitigasi. Bisa diajarkan kalau nanti terjadi gempa apa yang bisa dilakukan. Tanda-tanda gempa juga bisa diajarkan," kata dr. Theresia.

3. Libatkan anak dalam kegiatan

Melibatkan anak-anak korban bencana dalam proses pembersihan dan pemulihan, juga bisa membantu mengatasi trauma mereka. Hasilnya, anak-anak itu jadi memiliki perasaan yang jauh lebih baik terhadap situasi yang mereka alami. Trauma mereka pun sedikit mulai berkurang.

"Diajak jalan-jalan, kumpul sama teman-teman, dikasih buku, dan mainan. Biasanya itu bisa mengalihkan perhatiannya dan itu cukup bisa mengembalikan kegembiraan anak-anak ," ungkap dr. Theresia.

4. Ajak anak beraktivitas seperti biasa

Jika gempanya cukup dahsyat dan membuat anak-anak sampai mengungsi, ajak anak-anak untuk beraktivitas seperti biasa. Untuk mengatasi rasa sedih, ketakutan dan trauma yang dialami anak, ada beragam aktivitas yang dilakukan seperti bermain bersama teman-teman yang lain, belajar pengetahuan baru, atau aktivitas lain yang bisa membangkitkan minat dan semangatnya.

Beberapa tips di atas bisa dilakukan untuk mengatasi trauma pada anak setelah gempa, seperti bencana gempa Bali kemarin. Bencana alam memang tidak memilih siapa yang akan menjadi korbannya. Dalam situasi tersebut, anak-anak adalah korban yang paling rentan mengalami trauma. Untuk itu perlu dukungan dari berbagai pihak untuk mengatasi trauma yang dialami anak-anak korban bencana.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar