Sukses

3 Tips Siap Kembali Bekerja Setelah Melahirkan

Waswas akan kembali bekerja setelah melahirkan? Berikut ini adalah yang harus Anda persiapkan.

Klikdokter.com, Jakarta Kembali bekerja setelah melahirkan – apalagi setelah cuti cukup lama – merupakan  tantangan tersendiri bagi para ibu yang merangkap sebagai wanita karier. Meskipun mental untuk menghadapi fase ini sudah dipersiapkan, sering kali realita yang dihadapi lebih sulit dari apa yang diperkirakan, terutama karena harus meninggalkan anak untuk bekerja.

Hal ini yang kemudian turut memicu stres sebagian besar para ibu yang harus segera kembali bekerja. Sementara itu si Kecil masih dalam masa konsumsi ASI atau MPASI.

Perasaan sedih karena harus meninggalkan anak sepanjang hari, bercampur aduk dengan tuntutan profesional dari tempat kerja. Belum lagi, berbagai kebutuhan finansial yang harus dipenuhi tak jarang membuat seorang wanita karier kesulitan dalam bertransisi menata kembali kesehariannya usai cuti melahirkan.

Lakukan ini sebelum mulai bekerja kembali

Berbagai kondisi tersebut tidak hanya berpengaruh pada kehidupan sang ibu, namun juga berdampak pada seberapa cepat bayi menyesuaikan dirinya dengan ritme keseharian yang baru.

Oleh karena itu, seorang wanita karier harus mempersiapkan hal ini dengan sangat serius, meski tetap harus menghadapinya dengan tenang dan santai. Berikut ini adalah sedikit tips agar Anda siap kembali bekerja setelah mempunyai anak.

  1. Menentukan pengganti yang akan mengasuh anak

Sebelum mulai bekerja, tetapkan siapa orang yang bisa dipercaya untuk mengasuh bayi Anda terlebih dahulu. Bila tidak berencana menggunakan pengasuh, atur waktu Anda dan pasangan atau orang tua untuk merawat si Kecil atau membawanya ke tempat penitipan anak.

Hal ini sungguh krusial. Pastikan si Kecil dalam kondisi aman dan nyaman, sehingga Anda dapat bekerja dengan tenang selama di kantor.

  1. Mempersiapkan rangkaian rutinitas baru

Dengan ketidakhadiran Anda di rumah, cobalah untuk menyusun serangkaian aktivitas untuk si Kecil, yang nantinya akan Anda serahkan ke pengasuh atau seseorang yang Anda percaya. Buat jadwal yang rutin untuk dilakukan bayi saat Anda bekerja, mulai dari bangun tidur, mandi, makan, mengganti popok dan lain-lain.

Jika pengasuh lebih dari 1 orang, Anda bisa membagi waktu jaga untuk keduanya, sehingga momen pengasuhan bisa lebih optimal.

Namun sebelum membuat aturan ini, pastikan Anda sendiri telah melatih si Kecil untuk menjalankan rangkaian aktivitas hariannya dengan teratur, termasuk persiapan yang harus dilakukan pada pagi hari sebelum berangkat bekerja.

Untuk memonitor si Kecil, Anda juga dapat mengunduh aplikasi di telepon genggam. Sehingga, aktivitas bayi setiap harinya bisa terpantau dengan baik, dan Anda pun menjadi lebih tenang karena bisa mengetahui kondisi anak sebenarnya.

Jika anda memutuskan menitipkan bayi ke daycare, kombinasikan kebiasaan Anda dengan si Kecil terhadap jadwal yang sudah disusun di daycare tersebut.

Setidaknya, berikan informasi tentang apa saja ciri khas si Kecil, misalnya sensitivitas terhadap sesuatu, kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan dan lain-lain.

  1. Kuasai teknik memompa ASI yang benar

Alangkah baiknya jika Anda meneruskan memberikan ASI meskipun sibuk bekerja. Berlatihlah menggunakan pompa dan mulailah menyiapkan cadangan ASI untuk hari-hari awal bekerja. Sebab, kesibukan pekerjaan yang sulit diprediksi sering kali menghambat jadwal rutin Anda untuk memompa ASI di kantor.

Jika Anda menggunakan botol sebagai media pemberian ASI, pastikan untuk menggunakan tipe botol dengan puting yang beraliran rendah agar alirannya menyerupai susu dari payudara ibu.

Dan jangan  lupa, temukan tempat yang nyaman untuk memompa ASI di area kantor. Bila perlu, bawa tempat khusus untuk menyimpan ASI yang sudah dipompa. Anda dapat membawa kotak khusus untuk diletakkan di lemari pendingin, atau membawa cooler bag.

Kembali bekerja setelah melahirkan dan harus meninggalkan anak memang tak mudah. Yang paling penting, hadapi dengan tenang, sehingga bayi pun akan merasa tenang. Jika Anda merasa memerlukan waktu tambahan untuk transisi, diskusikan dengan atasan. Carilah jalan keluar yang Anda dan keluarga rasa merupakan yang terbaik.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar