Sukses

Kenali 5 Tanda Stres Menyerang Keluarga Anda

Stres tak hanya dapat dialami satu orang, tetapi juga beberapa orang dalam keluarga. Apa saja tandanya ketika stres menyerang keluarga?

Klikdokter.com, Jakarta Stres adalah ancaman nyata yang bisa dialami dan melanda oleh siapa saja. Bukan cuma Anda, beberapa atau seluruh anggota keluarga juga bisa terserang stres. Kenali tanda-tanda saat stres menyerang keluarga, agar Anda bisa mengantisipasinya sejak dini.

Biasanya, kemunculan stres yang dialami satu keluarga berawal dari orang tua. Banyak orang tua yang tak sadar bahwa stres atau rasa frustrasi yang dialami bisa memengaruhi tingkat stres anak-anak dan/ atau anggota keluarga lainya. Lama-lama, rumah yang tadinya damai menjadi gaduh dengan teriakan, atau malah situasinya menjadi dingin.

Menurut dr. Nitish Basant Adnani, BMedSc, Msc, dari KlikDokter, stres dikaitkan dengan penurunan kadar hormon serotonin di dalam tubuh. Serotonin merupakan salah satu zat kimia yang berperan dalam pengaturan suasana hati.

Ketika suasana hati berantakan, dampaknya bisa ke banyak hal, termasuk keharmonisan keluarga. Selain itu, stres juga berkontribusi besar terhadap timbulnya penyakit serius dalam tubuh karena dapat menurunkan imunitasnya.

Tanda-tanda keluarga Anda terserang stres

Jika rumah dan penghuninya tak lagi seharmonis dulu, mungkin penyebabnya adalah stres. Kondisi semacam ini terlihat dengan munculnya tanda-tanda sebagai berikut:

1. Semua susah tidur

Saat tingkat stres tinggi, kualitas tidur akan terganggu dan insomnia bisa terjadi. Kurang tidur bisa bikin jengkel, cemas, dan makin stres.

Jika Anda merasakan ketegangan ini, Tanya Altman, M.D., dokter anak dari Amerika Serikat (AS) sekaligus juru bicara American Academy of Pediatrics seperti dikutip dari Parents.

2. Saling berteriak

Tanda lainnya yang mudah dikenali semakin banyaknya teriakan di rumah. Cobalah untuk menurunkan volume suara dan intonasi Anda. Anda juga disarankan untuk bicara baik-baik dengan anak, misalnya dengan duduk bersama dan bicara dari hati ke hati tanpa berteriak satu sama lain.

3. Tak ada lagi makan malam keluarga

Menurut Mary Alvord, Ph.D., psikolog dari Maryland, AS, sekaligus koordinator pendidikan publik dari American Psychological Association, stres dalam keluarga bisa membuat meja makan menjadi sepi. Hal ini karena anak-anak biasanya akan menghindari situasi yang tidak mengenakkan yang ditunjukkan oleh kedua orang tua mereka.

4. Anak Anda menarik diri

Selama masa stres tinggi, beberapa anak menutup diri untuk berkomunikasi dengan siapa pun termasuk orang tua dan teman.

Supaya situasi kembali menyenangkan, direkomendasikan agar semua anggota keluarga menuliskan hal-hal positif di kertas, masukkan ke keranjang atau toples di tengah meja makan. Saat makan, coba ambil kertas tersebut satu persatu kemudian baca dan diskusikan.

5. Gampang sakit

Stres kronis dapat berdampak pada tubuh. Anak-anak bisa mengalami sakit perut dan mimpi buruk, sementara anak remaja sering sakit kepala. Sedangkan orang dewasa biasanya mengeluhkan kekakuan di leher, bahu, dan punggung. Meski keluhan berbeda-beda, biasanya seluruh anggota keluarga yang stres akan sulit tidur. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh jadi menurun dan kemungkinan untuk sakit pun meningkat.

Kondisi-kondisi di atas harus Anda perhatikan betul. Jika Anda merasakan tekanan, segera diskusikan dengan pasangan untuk mencari solusi. Bagi Anda para orang tua, jika Anda mendapati tanda-tanda anak mengalami stres, dampingi mereka dan yakinkan bahwa mereka ada di lingkungan yang aman.

“Ajak anak dan seluruh keluarga untuk pergi bersama atau hanya sekedar berjalan santai. Untuk anak yang lebih besar, doronglah ia untuk menceritakan apa yang dirasakannya dan dengarlah saat ia bercerita. Anak akan merasa lebih lega bila ia dapat menyalurkan perasaan stresnya,” kata dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter ikut menambahkan.

Mengenali tanda-tanda stres menyerang keluarga adalah hal yang penting. Jika Anda melihat salah satu dari gejala di atas mulai menyerang keluarga Anda, segera atasi. Jika perlu konsultasikan dengan psikolog agar segera bisa mendapatkan solusi terbaik dari kondisi yang sedang merundung keluarga Anda. Selaini itu perbanyak quality time bersama keluarga untuk memperkuat ikatan.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar