Sukses

Efektifkah Minum Susu untuk Mengatasi Dehidrasi Saat Ibadah Haji?

Selain air putih, katanya minum susu sama efektifnya untuk mengatasi dehidrasi saat ibadah haji. Benarkah demikian?

Klikdokter.com, Jakarta Salah satu kondisi yang kerap dialami oleh jemaah haji adalah dehidrasi akibat padatnya aktivitas dan teriknya cuaca saat ibadah haji. Selain air putih, katanya minum susu juga dinilai sama efektifnya untuk mengatasi dehidrasi. Bagaimana fakta medisnya?

Dehidrasi adalah kondisi ketika tubuh kekurangan cairan. Keadaan ini dapat memengaruhi keseimbangan kadar mineral, garam, serta gula darah. Akibatnya, fungsi tubuh menjadi terganggu. Jika kondisi dibiarkan, efeknya bisa sampai membahayakan nyawa.

Apakah susu bisa efektif mengatasi dehidrasi?

Perlu diketahui, mereka yang rentan mengalami dehidrasi selama beribadah haji adalah kelompok lansia. Apabila mereka mengalami dehidrasi, akan terjadi berbagai perubahan pada tubuhnya, termasuk turunnya kesadaran.

Agar kondisi ini tidak terjadi, dibutuhkan asupan cairan yang tak hanya mampu menghidrasi, tetapi juga mampu memberikan nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Itu semua bisa didapatkan dari minum susu.

Dilansir dari berbagai sumber, minum susu adalah salah satu cara efektif untuk menghidrasi tubuh. Penelitian pun telah menunjukkan bahwa susu, termasuk susu cokelat, adalah minuman tepat untuk pemulihan setelah olahraga atau setelah melakukan aktivitas yang melelahkan baik untuk anak-anak maupun orang dewasa.

Susu mengandung 90 persen air sekaligus elektrolit yang dibutuhkan oleh tubuh. Ada sebuah penelitian di Kanada tahun 2014 yang dipublikasikan di jurnal “Applied Physiology, Nutrition, and Metabolism” yang menunjukkan bahwa susu lebih baik ketimbang minuman isotonik kemasan atau air putih untuk menghidrasi tubuh kala ditempa panasnya sinar matahari.

Ada pula studi di Inggris yang diterbitkan dalam jurnal “The American Journal of Clinical Nutrition” yang meneliti 72 orang pria sehat dan aktif di usia pertengahan 20-an, menyelidiki potensi hidrasi dari 13 jenis minuman dengan menggunakan indeks hidrasi minuman (BHI). Indeks hindrasi tersebut menujukkan bahwa beberapa minuman bertahan lebih lama di tubuh, sehingga menawarkan lebih banyak hidrasi. Susu bebas lemak dan susu full cream (atau whole milk) menunjukkan karakteristik yang lebih baik ketimbang air putih.

1 dari 2 halaman

Susu full cream dan susu skim lebih ampuh dari air putih?

Ini dibenarkan oleh dr. Alberta Jesslyn Gunardi, BMedSc(Hons), dari KlikDokter. Ia mengatakan ada sebuah studi dalam jurnal “American Journal of Clinical Nutrition”, yang menyatakan bahwa susu full cream dan susu skim ternyata lebih meningkatkan hidrasi tubuh ketimbang air putih. Sebagai tambahan, susu lebih menyehatkan karena mengandung protein, karbohidrat, vitamin, dan sejumlah mineral.

Perlu diketahui, susu full cream dan susu skim adalah jenis susu yang dibedakan berdasarkan kadar lemaknya. Kandungan lemak susu full cream lebih tinggi daripada susu skim. Namun, meski susu full cream mengandung sekitar 3,25 persen lemak, jangan langsung percaya informasi yang mengatakan bahwa susu jenis ini bisa meningkatkan risiko penyakit jantung. Pasalnya, beberapa penelitian sudah membuktikan bahwa lemak jenuh dalam susu tidak menyumbang peningkatan terhadap risiko penyakit jantung.

Pada dasarnya, kedua susu tersebut kaya akan manfaat. Namun, susu skim mungkin akan lebih cocok dikonsumsi oleh mereka yang sedang mengontrol berat badan. Itu karena, menurut dr. Andika Widyatama dari KlikDokter, kandungan lemak dalam susu skim lebih sedikit.

“Meski begitu, Anda tetap tidak disarankan untuk mengonsumsinya secara berlebihan karena susu skim memiliki kandungan gula yang tergolong tinggi,” ungkap dr. Andika.

Minum susu ternyata cukup efektif untuk mengatasi dehidrasi saat ibadah haji. Jika Anda kesulitan mencari susu, minumlah air putih atau air kelapa, atau sayur dan buah yang kadar airnya tinggi. Bila cairan tubuh yang sudah keluar segera tergantikan, segera istirahatkan diri. Pasalnya, biasanya setelah dehidrasi timbul kondisi badan lemas, sehingga tidak disarankan untuk langsung kembali beraktivitas.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar