Sukses

Benarkah Tes Urine Bisa Bantu Diagnosis Kanker Prostat?

Kanker prostat adalah momok bagi pria. Benarkah penyakit tersebut bisa dideteksi lewat tes urine?

Klikdokter.com, Jakarta Kanker prostat adalah salah satu penyakit mematikan yang menjadi momok bagi pria. Penyakit ini sering hadir tanpa disadari, karena memberikan gejala yang tidak jelas. Namun belakangan, ada kabar yang menyebut bahwa kanker prostat bisa dideteksi lewat tes urine. Apa kata medis terkait hal ini?

Sebelum mengungkap faktanya, Anda perlu tahu bahwa kanker prostat adalah penyakit yang terjadi akibat pertumbuhan sel ganas di kelenjar prostat. Pria yang mengalami kondisi ini biasanya akan memiliki buah zakar yang membesar, keras dan berbenjol-benjol tanpa sebab yang jelas.

Diagnosis kanker prostat

Berdasarkan penjelasan dr. Nadia Octavia dari KlikDokter, diagnosis kanker prostat bisa ditegakan melalui skrining, misalnya tes prostate serum antigen (PSA).

"PSA bersifat spesifik terhadap prostat, tetapi sebenarnya tidak spesifik untuk kanker. Peningkatan kadar serum dapat pula ditemukan pada keadaan hipertropi prostat jinak, infeksi atau peradangan prostat (prostatitis), infeksi saluran kencing, dan kondisi non-kanker lainnya. Sedangkan, diagnosis pasti kanker prostat ditentukan oleh adanya suatu gambaran adenokarsinoma (keganasan) pada spesimen biopsi prostat atau aspirasi sitologi," dr. Nadia menjelaskan.

Perlu diketahui, nilai normal PSA adalah 0–4 ng/mL. Meski belum terdapat nilai batas terendah yang diterima secara universal, tapi pada kebanyakan penelitian digunakan nilai batas di atas 4 ng/mL lebih berisiko terhadap kanker prostat. Apabila nilainya di atas 10 ng/mL, ini menandakan risiko tinggi terjadi kanker prostat.

"Selain itu, untuk memastikan ada atau tidaknya kanker prostat perlu juga dilakukan pemeriksaan penunjang lain, yaitu digital rectal examination (DRE), konsentrasi PSA, dan transrectal ultrasonografy (TRUS). Menurut American Cancer Society, skrining kanker prostat sebaiknya dilakukan saat pria sudah menginjak usia 40 tahun," saran dr. Nadia.

Lantas, bagaimana dengan tes urine? Apakah metode ini bisa membantu mendeteksi ada atau tidaknya kanker prostat pada pria?

Diagnosis kanker prostat lewat tes urine

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa tes urine baru dapat mendeteksi kasus kanker prostat agresif―yang biasanya membutuhkan perawatan hingga 5 tahun―lebih cepat daripada metode diagnostik lainnya. Para peneliti yang melakukan studi ini berasal dari Universitas East Anglia (UEA) di Norwich, Inggris, dan Rumah Sakit Universitas Norfolk dan Norwich (NNUH).

Para peneliti mengungkap bahwa tes urine eksperimental―disebut Prostate Urine Risk (PUR)―dapat membedakan orang-orang yang memerlukan pengobatan dalam 5 tahun setelah diagnosis.

Untuk mengembangkan tes unik tersebut, para peneliti melihat ekspresi gen dalam sampel urine dari 535 pria dan menentukan ekspresi bebas sel dari 167 gen yang berbeda. Tim peneliti kemudian membentuk kombinasi dari 36 gen berbeda yang oleh para ilmuwan dianggap sebagai tanda risiko (biomarker), yang dapat dicari oleh tes PUR.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa tes urine dapat digunakan untuk mendiagnosis kanker prostat tanpa perlu biopsi jarum invasif dan untuk mengidentifikasi tingkat risiko seseorang untuk terkena kanker tersebut," kata Dr. Jeremy Clark dari UEA's Norwich Medical School.

"Hal yang menarik adalah bahwa tes urine tersebut memperkirakan perkembangan penyakit hingga 5 tahun sebelum terdeteksi oleh metode klinis standar," sambungnya.

Tes PUR yang dikembangkan dalam penelitian ini diklaim lebih maju karena mampu mengidentifikasi keberadaan kanker prostat lebih awal dari metode pemeriksaan lainnya. Selain itu, PUR juga turut membantu menempatkan seseorang ke dalam kelompok risiko yang berbeda, sehingga dokter dapat lebih akurat menentukan arah perawatan.

Penemuan tes urine untuk deteksi kanker prostat atau Prostate Urine Risk (PUR) membawa angin segar bagi banyak pria. Sebab, metode tersebut dituding mampu menentukan seberapa besar risiko terjadinya kanker prostat dan perawatan apa saja yang dibutuhkan pasien untuk mengendalikan kondisinya.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar