Sukses

4 Penyebab Keluar Cairan dari Penis yang Bukan karena IMS

Keluar cairan dari penis sering dikaitkan dengan infeksi menular seksual (IMS). Namun, ada juga kondisi lain yang bisa jadi penyebab. Seperti apa?

Klikdokter.com, Jakarta Keluar cairan dari penis sering kali dikaitkan dengan infeksi menular seksual atau IMS. Namun, ternyata ada juga kondisi lain (yang bukan karena IMS) yang bisa menjadi penyebab.

Cairan penis adalah segala bentuk larutan yang keluar dari penis selain urine. Cairan ini biasanya keluar dari uretra (saluran kemih dari kandung kemih ke luar tubuh), yang terdapat di sepanjang penis dan keluar di bagian kepala. Cairan tersebut bisa berwarna putih dan kental, atau jernih dan cair—tergantung penyebab yang mendasarinya.

Penyebab keluar cairan dari penis yang bukan karena IMS

Biasanya penyebab dari cairan penis yang bukan akibat dari IMS tidak serius, tetapi tetap butuh pengobatan medis. Di antaranya adalah:

  1. Infeksi saluran kemih

    Infeksi saluran kemih kerap dikaitkan dengan wanita, tetapi nyatanya pria juga bisa mengalaminya. Ada beberapa tipe infeksi saluran kemih tergantung lokasi yang mengalami infeksi.

    Pada pria, tipe infeksi saluran kemih yang dapat menyebabkan keluarnya cairan penis yaitu uretritis. Uretritis adalah peradangan pada saluran uretra.

    Uretritis non gonokokus (NGU) merupakan tipe uretritis yang bukan disebabkan oleh IMS gonore. NGU ditandai dengan keluarnya cairan dari penis, nyeri, sensasi terbakar saat berkemih, sering ingin buang air kecil, gatal, urine keruh, urine berbau busuk, bahkan bisa timbulkan demam.

    Beberapa penyebab NGU yang bukan IMS meliputi:

    • Adenovirus, yaitu virus yang dapat menyebabkan gastroenteritis, mata merah muda, dan sakit tenggorokan.
    • Infeksi bakteri.
    • Iritasi dari suatu produk seperti sabun, deodoran, detergen.
    • Kerusakan pada uretra akibat kateter (selang kencing).
    • Kerusakan pada uretra akibat berhubungan intim atau cedera masturbasi.
  1. Prostatitis

    Prostat adalah organ kelenjar berbentuk seperti kacang kenari yang mengelilingi saluran uretra. Organ ini bertanggung jawab membuat cairan prostat yang merupakan komponen dari semen.

    Prostatitis mengacu pada peradangan pada kelenjar prostat. Peradangan yang terjadi bisa disebabkan oleh infeksi atau cedera pada prostat. Gejala prostatitis bisa berupa:

    • Keluar cairan dari penis
    • Nyeri
    • Urine berbau busuk
    • Darah di urine
    • Kesulitan buang air kecil
    • Aliran urine yang lemah atau terganggu
    • Nyeri saat ejakulasi
    • Kesulitan ejakulasi
1 dari 2 halaman

Selanjutnya

  1. Smegma

    Smegma adalah penumpukan zat putih yang tebal di bawah kulit kulup penis yang tidak disunat. Zat ini terdiri dari sel-sel kulit, minyak, dan cairan. Smegma sebenarnya bukan cairan yang keluar dari penis, tetapi terlihat mirip.

    Semua cairan dan komponen smegma secara alami berasal dari tubuh sendiri. Fungsinya adalah untuk melumasi dan menjaga area tersebut terhidrasi. Namun, bila area kelamin tidak secara rutin dibersihkan, maka smegma akan mulai menumpuk dan menyebabkan ketidaknyamanan.

    Smegma dapat menyebabkan lingkungan yang lembap dan hangat, sehingga meningkatkan risiko infeksi jamur atau bakteri.

  1. Balanitis

    Balanitis adalah peradangan pada kepala penis. Kondisi ini cenderung terjadi pada pria yang tidak disunat. Meski bisa sangat menyakitkan, tetapi biasanya kondisi ini tidak serius. Gejalanya bisa berupa:

    • Keluar cairan dari penis
    • Keluar cairan dari penis
    • Kemerahan sekitar kelenjar dan di bawah kulup
    • Penyempitan kulup
    • Bau
    • Ketidaknyamanan atau gatal
    • Nyeri di area kelamin
    • Nyeri saat berkemih

    Beberapa hal yang dapat menyebabkan balanitis antara lain:

    • Eksem
    • Kebersihan yang buruk, sehingga menyebabkan infeksi jamur atau bakteri
    • Iritasi atau alergi akibat sabun atau produk lainnya

Itulah empat penyebab keluar cairan dari penis yang bukan karena IMS. Meski biasanya penyebab kondisi tersebut tidak serius, tetapi tetap butuh pengobatan medis. Jika Anda mengalami beberapa gejala yang disebutkan di atas, konsultasikan ke dokter spesialis kulit dan kelamin atau dokter spesialis bedah urologi untuk memastikan penyebabnya, sehingga bisa ditangani hingga tuntas.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar