Sukses

Sutopo Purwo Nugroho Meninggal Dunia, Kanker Paru Penyebabnya

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia. Kanker paru yang diderita selama ini menjadi penyebabnya.

Klikdokter.com, Jakarta Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia. Kabar wafatnya Kepala Pusat Data Informasi dan Humas (Pusdatinmas) Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) ini jelas mengejutkan masyarakat. Kanker paru yang diidapnya sejak sekitar setahun silam itu akhirnya merenggut jiwa pria kelahiran Boyolali 49 tahun lalu ini.

Sutopo yang selama ini dengan tegar bertahan hidup dengan penyakitnya tersebut, telah menginspirasi masyarakat untuk tidak menyerah terhadap kanker. Terbukti sejak divonis mengalami kanker paru stadium 4B pada Januari 2018 lalu, Sutopo tetap bertugas sebagai Kepala Pusat Data Informasi dan menyampaikan informasi seputar bencana di wilayah Indonesia secara akurat, sehingga masyarakat terhindar dari hoaks.

Kepada KlikDokter, Sutopo pernah bertutur

Sejak lebih dari setahun lalu, Sutopo menjalani serangkaian perawatan termasuk kemoterapi. Dalam wawancaranya dengan KlikDokter Oktober 2018 lalu, Sutopo mengaku sempat merasa syok ketika divonis menderita penyakit tersebut.

Sutopo memang pantas merasa terkejut karena tidak ada sejarah kanker dalam keluarganya. Ia bahkan sebelumnya termasuk rutin berolahraga seperti berenang dan joging. Sutopo bahkan tidak pernah merokok. 

Vonis tentang penyakit kanker paru stadium 4B harus didengar Sutopo dari dokter saat ia memeriksakan kondisi kesehatannya di sebuah rumah sakit di Malaysia. Saat itu dokter sempat mengatakan bahwa kanker tidak bisa disembuhkan namun Sutopo diprediksi masih bisa bertahan hingga 1-3 tahun.

Sejak Januari 2018, berat badan Sutopo bahkan sempat drop hingga 21 kilogram. Dan semakin hari kanker makin menggerogoti tubuhnya. Oktober 2018 lalu, kepada KlikDokter, Sutopo sempat mengatakan  bahwa kanker sudah mulai menyerang tulangnya.

“Tulang belakang saya sekarang rapuh, kalau saya jatuh dan patah tulang belakang, saya bisa lumpuh,” kata Sutopo, saat itu.

1 dari 3 halaman

Terakhir, berobat ke Ghuangzhou

Kondisi kanker yang sudah bermetastasis ke seluruh organ tubuhnya itulah yang lalu memaksa Sutopo untuk berobat ke Guangzhou, China. Hal itu disampaikan Sutopo dalam akun Instagram miliknya, @sutopopurwo pada Sabtu (15/06/2019) lalu.

Pesan terakhir yang ditulisnya dalam akun instagramnya tersebut mengungkapkan betapa menyakitkannya kondisi kanker yang sudah menyerang tulang dan organ tubuhnya. Selain itu ia juga memohon kepada segenap lapisan masyarakat untuk mendoakannya dan meminta maaf atas kesalahannya. Sutopo berencana untuk tinggal selama sebulan untuk berobat di Guangzhou.

Namun akhirnya, Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia di Guangzhou, China, Minggu (7/7/2019), pukul 02.20 waktu setempat atau 01.20 WIB. Dilansir dari Liputan6.com kabar mengenai meninggalnya Sutopo dikonfirmasi oleh  Direktorat Pengurangan Risiko Bencana (PRB) BNPB via Twitter.

"Telah meninggal dunia Bapak @Sutopo_PN , Minggu, 07 July 2019, sekitar pukul 02.00 waktu Guangzhou/pukul 01.00 WIB. Mohon doanya untuk beliau."

Kenapa kena kanker paru padahal tidak merokok?

Penuturan yang pernah disampaikan Sutopo Purwo Nugroho kepada KlikDokter – setahun lalu – bahwa ia terkena kanker paru padahal tidak merokok, memang cukup mengejutkan. Perokok pasif  bisa mengalami gangguan kesehatan yang sama parahnya dengan perokok aktif, bukanlah mitos semata.

Menurut Charles Swanton, kepala dokter dari Cancer Research UK, dikutip dari BBC salah satu faktor yang bisa menyebabkan kanker paru-paru pada non-perokok adalah terlalu sering terpapar asap rokok. Kondisi itu lazim disebut sebagai perokok pasif. Walaupun risikonya tidak sebesar perokok aktif, terbukti perokok pasif juga bisa terkena dampak negatif jangka panjang.

Bahkan menurut American Cancer Society ada beberapa faktor lainnya yang dapat membuat seorang non-perokok terkena penyakit kanker paru-paru. Beberapa faktor tersebut antara lain paparan gas radon.  Radon muncul secara alami di luar ruangan dalam jumlah yang tidak berbahaya. Meski demikian kadang-kadang menjadi sangat berbahaya di rumah-rumah yang dibangun di atas tanah dengan endapan uranium alam.

Polusi udara dan mutasi gen juga memiliki pengaruh yang penting terhadap munculnya kanker paru. Selain itu tempat bekerja yang membuat seseorang terpapar oleh debu, paparan asbes dan asap knalpot mesin diesel juga memicu penyakit tersebut.

2 dari 3 halaman

Waspadai sejumlah gejala kanker paru

Meski Anda bukan perokok – seperti halnya Pak Sutopo – dan mungkin saja tidak terpapar asap atau polusi, namun Anda tetap perlu mewaspadai sejumlah gejala yang mengarah pada kondisi tersebut.

Menurut dr. Reza Falhlevi dari KlikDokter, ada beberapa tanda yang harus diwaspadai. Dijelaskannya bahwa kanker paru menimbulkan berbagai gejala, baik pada sistem pernapasan maupun gejala tubuh secara umum.  Gejala kanker paru yang biasa dialami oleh penderita adalah batuk lama, batuk berdarah, sesak napas, dan nyeri dada. 

Namun demikian, ada pula sejumlah gejala yang sebenarnya tidak biasa muncul menyertai penyakit ini, namun perlu diwaspadai kemunculannya. Napas berbunyi juga bisa menjadi tanda adanya kanker paru. Kondisi ini biasanya terjadi akibat penyempitan saluran napas oleh sel kanker.

Selain itu, penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya, sakit pada tulang, dada tidak simetris dan munculnya suara serak juga tanda-tanda yang harus diwaspadai. Jika Anda mengalami sejumlah gejala tersebut, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Kabar Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia akibat kanker paru yang diidapnya memang mengejutkan, karena selama ini ia terhitung gigih berjuang untuk sehat. Perdamaian Sutopo dengan penyakit kanker paru sambil tetap aktif memberikan pelayanan dan informasi penting kepada masyarakat sungguh menginspirasi. Selamat jalan Pak Sutopo.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar