Sukses

KLB Hepatitis A di Pacitan, Kenali Penyebabnya

Kasus hepatitis A di Pacitan ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh pemerintah setempat. Apa penyebab penyakit ini?

Klikdokter.com, Jakarta Dilansir dari berbagai sumber, pemerintah Kabupaten Pacitan telah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) hepatitis A di Pacitan. Lalu, apakah yang sebenarnya jadi penyebab penyakit ini? Yuk, lebih mengenalinya lewat artikel ini.

Kasus hepatitis A di Pacitan pertama kali ditemukan pada 3 Juni 2019 lalu. Setelah itu, ternyata jumlah penderitanya terus bertambah banyak, bahkan kini hampir mencapai seribu orang.

Seperti dilansir dari Liputan6.com, kasus hepatitis A ini pun akhirnya tidak hanya dijumpai di Pacitan saja, tetapi juga telah mewabah ke sejumlah daerah lainnya di Jawa Timur.

Penyebab dan gejala hepatitis A

Penyakit hepatitis A merupakan infeksi akut yang disebabkan virus hepatitis A (HAV) dan memengaruhi organ hati. Namun, tidak seperti hepatitis B dan C, infeksi hepatitis A tidak menyebabkan penyakit hati kronis dan jarang berakibat fatal.

Akan tetapi, meskipun jarang, beberapa kasus hepatitis A tetap dapat menyebabkan hepatitis A fulminan (gagal hati akut). Ini adalah penyakit sangat berbahaya karena memiliki risiko kematian yang tinggi.

Pada fase awal, gejala yang dijumpai pada penderita hepatisis A antara lain:

  • Demam
  • Kurang nafsu makan
  • Mual
  • Muntah
  • Rasa lemas
  • Nyeri otot
  • Nyeri kepala

Setelah gejala-gejala di atas, kemudian akan muncul fase ikterik atau warna kuning di sekujur tubuh penderita, bahkan hingga ke area mata.

Selain itu, warna urine pun akan menggelap seperti warna teh. Penderita hepatitis A juga sering mengeluhkan rasa nyeri pada area perut.

Cara penularan hepatitis A

Menurut data yang dilansir oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 90 persen populasi anak di negara berkembang dengan tingkat sanitasi dan kebersihan yang buruk pernah terinfeksi virus hepatitis A sebelum usia 10 tahun.

Virus hepatitis A dapat menular melalui air atau makanan yang terkontaminasi. Biasanya, air atau makanan tersebut terkontaminasi virusnya lewat feses penderita.

Virus ini dapat bertahan hidup lebih dari sebulan, baik di air pembuangan, laut, tanah, atau sumber air lainnya. Jika ada salah satu penghuni sebuah rumah yang mengalami hepatitis A, maka risiko penghuni lainnya untuk terkena juga akan tinggi. 

Hepatitis A memang lebih identik akibat konsumsi makanan atau minuman yang tidak terjaga kebersihannya, tapi faktanya tidak selalu seperti itu. Sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyebutkan bahwa 3 dari 1000 orang yang menginap di hotel mewah menderita hepatitis A.

Sebab, konsumsi hewan laut segar (seperti kerang) yang hidup di air yang terkontaminasi juga dapat membuat seseorang menderita hepatitis A.

Selain itu, faktor lain yang dapat meningkatkan risiko hepatitis A antara lain:

  • Kontak seksual atau kontak erat dengan penderita
  • Hidup atau bekerja di lingkungan yang padat penduduk
  • Hubungan sejenis (homoseksual)
  • Bekerja menangani bahan pangan
  • Bekerja atau terpapar dengan hewan yang terinfeksi hepatitis A
  • Pelancong yang sering bepergian, terutama ke daerah endemis
  • Bekerja di laboratorium
  • Terpapar makanan atau minuman yang terkontaminasi
  • Orang dengan riwayat gangguan pembekuan darah.

Berkaca dari KLB hepatitis A di Pacitan, upaya pencegahan terbaik yang bisa Anda lakukan adalah menjaga kebersihan sebaik mungkin. Dengan rutin cuci tangan, risiko terkena hepatitis A akan berkurang. Selain itu, pilih makanan, minuman, atau jajanan yang diolah dengan higienis dan bisa dipastikan kebersihannya.

[MS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar