Sukses

Mana Lebih Baik, Bayi Mengisap Jempol atau Pakai Empeng?

Membiarkan bayi mengisap jempol atau memakai empeng sama-sama ada plus dan minusnya. Kenali keduanya.

Klikdokter.com, Jakarta Mengisap sesuatu adalah gerak refleks bayi sejak berada di dalam kandungan. Saat masih di dalam perut ibunya, bayi sering terlihat mengisap jempol atau jari lain. Itulah alasannya bayi dengan mudah mencari dan mengisap puting susu ibunya saat baru dilahirkan. Setelah lahir dan tumbuh, kebiasaan ini belum berubah. Untuk itu, orang tua sebaiknya memberi empeng atau membiarkan bayi mengisap jempol? Mana yang lebih baik bagi si Kecil?

Kebiasaan mengisap adalah normal

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, Anda harus tahu bahwa kebiasaan mengisap yang dilakukan bayi adalah normal. Menurut American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD), hal ini muncul karena bayi memiliki hasrat untuk kontak dengan lingkungannya dan dapat memberikannya rasa aman.

Akan tetapi, kebiasaan yang biasa disebut dengan mengempeng ini bisa membingungkan Anda mengenai dampak baik dan buruknya. Apalagi, saat ini sangat banyak varian empeng yang dapat dengan mudah ditemui di gerai-gerai perlengkapan bayi.

Namun, sebagian orang tua juga tidak membiarkan bayi mereka menggunakan empeng. Empeng—terutama di Indonesia—dipercaya dapat mengganggu proses menyusui dan menghambat kemampuan bicara. Selain itu, beberapa orang juga meyakini penggunaan empeng bakal menimbulkan masalah pada pertumbuhan gigi jika digunakan dalam waktu lama.

Plus-minus menggunakan empeng dan isap jempol

AAPD saat ini menyatakan bahwa penggunaan empeng ketika bayi sedang tidur dapat menekan risiko terjadinya sindrom kematian mendadak pada bayi. Karena itu, orang tua dapat merasa lebih aman untuk memberikan empeng kepada bayinya saat tidur.

Penelitian yang diterbitkan dalam British Medical Journal pada tahun 2005 juga menyimpulkan hal yang serupa. Penggunaan empeng disinyalir dapat menjaga saluran pernapasan tetap terbuka dan menjaga bayi agar tidak mengubah posisi tidurnya ke posisi yang berbahaya. Misalnya, menghadapkan kepala ke tempat tidur (tengkurap) yang berpotensi menyulitkannya bernapas.

Di sisi lain, berbagai keuntungan juga dapat dirasakan jika orang tua memilih membiarkan bayi mengisap jempol. Mengisap jempol memang lebih praktis dan ekonomis bagi orang tua karena anak dapat memasukkan sendiri jarinya tanpa harus dibantu atau disiapkan.

Hal ini tentu berbeda dengan empeng yang akan lebih merepotkan, khususnya pada malam hari. Orang tua harus terbangun untuk memasangkan kembali empeng bila terjatuh dari mulut anak.

Namun begitu, perlu juga diingat bahwa anak yang terbiasa mengisap jempol sering kali lebih sulit saat proses penyapihan. Penyebabnya, mengambil empeng dari genggaman anak lebih mungkin untuk dilakukan ketimbang jari anak yang selalu ada pada saat ingin diisap.

Selain itu, kekhawatiran orang tua akan gangguan pertumbuhan gigi apabila menggunakan empeng pada dasarnya juga berpotensi terjadi jika bayi mengisap jari. AAPD menyatakan bahwa mengisap jari memiliki cara kerja yang mirip dengan menggunakan empeng sehingga apa pun metodenya dapat memengaruhi gigi jika tidak dikontrol dengan baik.

Jadi, tidak ada jawaban pasti mengenai lebih baik mengisap jempol atau empeng. Keduanya menawarkan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Akan tetapi, empeng punya keunggulan dalam hal mengurangi risiko kematian mendadak pada bayi. Fakta ini bisa menjadi salah satu pijakan penting bagi orang tua untuk lebih memilih menggunakan empeng ketimbang membiarkan bayi mengisap jempol.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar