Sukses

Benarkah Perceraian Picu Gangguan Mental?

Perceraian adalah keputusan akhir yang terpaksa ditempuh jika pernikahan tidak bisa dipertahankan. Benarkah bisa picu gangguan mental?

Klikdokter.com, Jakarta Siapapun yang sudah menikah, pasti tidak ada yang mau pernikahannya berujung pada perceraian. Tapi nyatanya, masih banyak juga yang tidak bisa menghindarinya. Terkait hal itu, benarkah perceraian bisa picu gangguan mental?

Selama ini, yang dianggap paling banyak terkena imbas dari perceraian adalah anak-anak. Tapi, sebenarnya perceraian juga bisa memengaruhi pasangan yang harus mengalami kenyataan tersebut.

Paling ditakutkan dari masalah perceraian adalah bagaimana harus menjalani hidup setelahnya. Ancaman gangguan mental pun bisa dialami orang yang mengalaminya. Hal ini diungkap oleh Hasto Wardoyo, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Menurutnya keharmonisan keluarga seharusnya bisa diusahakan. Pasalnya, ia berpendapat bahwa perceraian menyebabkan stres di kalangan beberapa orang.

"Saat ini, angka perceraian lumayan, tingkat stres juga tinggi. Orang yang cerai itu stresnya tinggi. Janda banyak sekali yang hidupnya miskin dan tidak sejahtera. Kalau janda hidup miskin, tidak sejahtera, akhirnya stres," kata Hasto usai upacara pelantikannya pada Senin (1/7) seperti dikutip dari detik.com.

Bicara angka perceraian yang terjadi di Indonesia, angkanya memang tinggi. Setiap tahun, tidak kurang dari 300 ribuan kasus perceraian terjadi.

Melansir dari data Badan Pusat Statistik (BPS), data perceraian setiap tahunnya pada periode 2012-2014 mencapai angka lebih dari 320 ribu. Pada 2012, 346.480 pasangan bercerai. Sementara itu pada 2015, ada sekitar 347.256 pasangan bercerai.

Tentu itu bukan jumlah yang sedikit dan perlu mendapat perhatian serius dari beberapa pihak terkait. Perceraian memang menjadi salah satu jalan untuk menghentikan ikatan pernikahan. Akan tetapi, bukan jalan yang baik.

1 dari 2 halaman

Perceraian picu masalah kesehatan mental?

Mungkin beberapa orang yang harus bercerai mengatakan bahwa keputusan diambil untuk kebaikan bersama. Tidak jarang juga banyak yang berkata bahwa tak masalah bercerai karena ke depannya akan baik-baik saja.

Apapun alasannya, jelas bahwa perceraian akan berdampak pada kondisi kejiwaan dan kesehatan kedua belah pihak. Menurut dr. Fiona Amelia, MPH dari KlikDokter, perceraian akan memunculkan emosi-emosi negatif, seperti kesedihan, rasa cemas, kekhawatiran, dan merasa tidak mampu bertahan hidup. Semua perasaan ini memberikan stres terhadap tubuh.

"Perceraian kerap membuat seseorang merasa gagal dalam kehidupan rumah tangganya. Ia juga merasa tidak 'aman' karena kehilangan dukungan ekonomi, pekerjaan, atau karena harus pindah ke lingkungan baru. Kondisi ini akan memicu stres dan trauma jangka panjang yang berujung pada gangguan cemas dan depresi," jelas dr. Fiona.

Ada masalah lain akibat perceraian

Namun, perceraian tidak cuma menimbulkan masalah stres atau depresi. Pada akhirnya, kedua kondisi itu juga bisa melemahkan tubuh Anda.

"Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, terjadi peningkatan tekanan darah, penurunan sistem kekebalan tubuh, dan reaksi peradangan yang berlebih," ujar dr. Fiona.

Berikut adalah masalah-masalah lain akibat perceraian:

  1. Insomnia

"Insomnia umum terjadi pada orang yang mengalami depresi, termasuk akibat perceraian. Gangguan tidur ini muncul tanpa disadari, akibat tubuh dan pikiran Anda tidak tenang dengan ketidakhadiran pasangan," kata dr. Fiona.

Stres biasanya akan meningkatkan hormon kortisol secara drastis. Hal itu menyebabkan seseorang sulit untuk tidur atau mempertahankan tidur. Kurang tidur pun akhirnya membuat stres semakin bertambah.

  1. Infeksi

Sebagaimana diketahui, stres akan menurunkan sistem kekebalan tubuh, sehingga Anda rentan mengalami infeksi. Infeksi ini dapat berupa flu, batuk, dan pilek.

  1. Gangguan pencernaan

Respons dari stres biasanya meningkatnya asam lambung. Bila berkepanjangan, penyakit mag pun dapat menyerang. Masalah-masalah pencernaan seperti gangguan penyerapan dan sindrom iritasi usus juga dapat semakin memburuk.

  1. Berat badan berubah drastis

Seseorang yang sedang stres cenderung tidak memperhatikan dietnya. Semua akan dikonsumsi, termasuk makanan yang tinggi lemak, gula, dan garam. Jenis-jenis makanan yang dianggap dapat memperbaiki mood dan emosi untuk sementara waktu.

"Jika berlebih, itu akan meningkatkan berat badan. Namun, ada pula yang berespons sebaliknya, menjadi tidak nafsu makan, sehingga berat badannya menurun drastis," kata dr. Fiona.

  1. Penyakit kronik dan gangguan mobilitas

Sebuah studi dalam Journal of Health and Social Behavior menemukan, orang yang telah menduda atau menjanda 20 persen lebih banyak yang mengalami penyakit kronik dibandingkan dengan yang menikah. Penyakit yang dimaksud adalah penyakit jantung, diabetes, dan kanker.

Mereka juga cenderung memiliki gangguan mobilitas atau keterbatasan gerak, seperti tidak mampu berjalan jauh atau naik tangga.

Jadi, perceraian memang berbahaya bagi kedua belah pihak. Salah satu masalah yang mungkin muncul adalah gangguan mental seperti stres dan depresi. Pada akhirnya, gangguan mental pun bisa merusak kesehatan fisik. Oleh karena itu jika pernikahan Anda sedang mengalami masalah, sebaiknya jangan jadikan perceraian sebagai opsi utama. Atau jika diperlukan, konsultasikan kondisi Anda dan pasangan dengan psikolog untuk menemukan solusi yang tepat sekaligus sehat.

[MS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar