Sukses

Anak Lumpuh, Mungkinkah karena Cerebral Palsy?

Kelumpuhan pada anak bisa disebabkan banyak hal, salah satunya cerebral palsy. Yuk, kenali penyakit ini lebih dalam.

Klikdokter.com, Jakarta Jika anak Anda mengalami keterlambatan perkembangan sesuai usianya – seperti belum bisa duduk, berdiri, atau berjalan – Anda pasti akan khawatir. Apalagi jika si Kecil sampai mengalami kelumpuhan, baik di kaki, tangan, atau keduanya, tak terbayang kekhawatiran yang akan timbul. Maka dari itu, penting untuk mengenali salah satu penyebabnya, yaitu cerebral palsy.

Kelumpuhan atau paralisis yang dimaksud di sini adalah hilangnya fungsi satu atau banyak otot dan bisa terjadi di bagian otot mana pun.

Namun, bagian yang paling sering terserang adalah alat gerak (motorik) bawah, yaitu kaki. Sementara itu, alat gerak atas dan bagian tubuh lainnya juga mungkin mengalami gejala lumpuh tersebut akibat suatu penyakit.

Sebenarnya, kelumpuhan pada si Kecil ada banyak penyebabnya. Mulai dari penyakit polio, yang sebenarnya sudah jarang muncul di Indonesia karena telah berhasil diperangi dengan imunisasi, serta penyakit saraf yang juga bisa dibilang jarang terjadi, yaitu Guillan-Barre Syndrome.

Penyebab yang cukup sering terjadi adalah gangguan motorik pada anak, yaitu kondisi yang dikenal dengan cerebral palsy (CP). Lantas, apa sebenarnya cerebral palsy dan bagaimana penanganannya?

Apa itu cerebral palsy?

Otak adalah organ vital yang berfungsi sebagai pusat pengaturan kehidupan manusia. Seluruh sistem yang dijalankan organ vital lainnya, seperti jantung dan paru, semuanya diatur oleh organ yang berada di dalam kepala ini. Begitu juga kemampuan berpikir dan pergerakan.

Ketika terjadi kerusakan pada bagian otak, tentunya salah satu yang terpengaruhi adalah kemampuan gerak. Cerebral sendiri berarti otak, sementara Palsy adalah kelumpuhan, maka dapat didefinisikan jika CP adalah penyakit atau kelainan yang ada di otak, sehingga menyebabkan kelumpuhan dan hilangnya kontrol terhadap gerakan.

Cerebral palsy termasuk penyakit neurodevelopmental atau penyakit yang terjadi selama masa perkembangan dan pertumbuhan otak. Itulah yang menyebabkan cerebral palsy terjadi pada masa anak-anak.

Perkembangan otak sendiri dimulai dari dalam kandungan, hingga anak lahir dan menjalani tumbuh kembang. Selama masa itu, jika ada sesuatu yang terjadi dan memengaruhi perkembangan otak anak, maka cerebral palsy pun bisa menyerang.

Pada saat masa kehamilan, paparan radiasi, infeksi kandungan, atau masalah kehamilan yang menyebabkan janin tidak mendapat oksigen cukup dapat menyebabkan peyakit ini. Sementara pada masa bayi, trauma atau cedera kepala (jatuh, terbentur) menjadi penyebab tersering.

Efek dan penanganan cerebral palsy

Gejala yang muncul pada cerebral palsy sangat luas, tergantung di mana letak cedera yang terjadi pada otak. 70 persen kasus penyakit ini merupakan jenis spastik atau otot kencang dan kaku karena kerusakan terjadi di lapisan luar otak.

Kekakuan otot yang terjadi terus menerus ini nantinya akan menyebabkan nyeri otot, kelainan postur, hingga sendi menjadi kaku. Hal inilah yang dapat menyebabkan seorang anak akhirnya mengalami kelumpuhan. Selain spastik, ada juga jenis cerebral palsy diskinetik (gerakan yang tidak bisa dikontrol) dan ataksia (gerakan kaku tidak terkoordinasi).

Selain kelumpuhan, secara keseluruhan cerebral palsy juga bisa berdampak pada kualitas hidup anak karena dapat menyebabkan gangguan tidur, makan, kemampuan bicara, penglihatan, hingga belajar.

Cerebral palsy juga diketahui sebagai kelainan otak yang permanen, artinya penyakit ini tidak bisa disembuhkan lagi. Meskipun begitu, penyakit ini masih bisa ditangani dengan rehabilitasi yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup anak.

Rehabilitasi yang dilakukan dapat berupa terapi bicara, terapi okupasi, dan dengan terapi fisik yang dilakukan oleh dokter spesialis rehabilitasi medik. Kekuatan otot, pencegahan kekakuan sendi dan kemampuan berjalan juga akan dilatih kembali.

Cerebral Palsy memang penyakit berbahaya dan menimbulkan efek yang begitu menyeramkan, yaitu kelumpuhan pada anak. Apalagi penyakit ini bersifat permanen. Oleh sebab itu, sangat penting untuk menjaga kondisi si Kecil, bahkan sejak masih dalam kandungan.

[MS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar