Sukses

Benarkah Migrain Sering Terjadi Saat Musim Kemarau?

Sakit kepala sebelah alias migrain dikatakan lebih rentan terjadi saat musim kemarau. Tahukah Anda apa yang jadi penyebabnya?

Klikdokter.com, Jakarta Musim kemarau tiba. Waktunya matahari untuk bersinar dengan terang, yang panasnya bahkan terasa dari ujung kepala hingga kaki. Selain membuat kulit lebih mudah terbakar, cuaca panas musim kemarau juga bikin sakit kepala sebelah atau migrain lebih mudah terjadi.

Sebagaimana dikatakan oleh dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter, migrain dapat terjadi akibat beberapa hal. Dan, kondisi udara dan cuaca panas seperti yang terjadi saat musim kemarau adalah salah satunya.

“Bagi orang-orang yang sensitif, perubahan cuaca secara ekstrem seperti saat musim kemarau bisa mencetuskan terjadinya migrain,” kata dr. Dyan Mega.

Adapun beberapa hal yang diduga berkaitan dengan terjadinya migrain saat musim kemarau, yaitu:

  • Cahaya matahari yang sangat terang dan menyilaukan
  • Cuaca ekstrem panas atau dingin
  • Kelembapan udara tinggi
  • Udara kering
  • Cuaca berangin atau badai
  • Perubahan tekanan udara

“Migrain saat musim kemarau juga diduga berhubungan dengan adanya ketidakseimbangan serotonin di otak yang bekerja untuk mengendalikan mood dan rasa nyeri. Dengan adanya ketidakseimbangan itu, kerja otak menjadi terganggu," lanjut dr. Dyan Mega.

“Anggapan tersebut sebenarnya hanya hipotesis sementara. Karena sebenarnya, para pakar kesehatan juga masih terus meneliti mekanisme migrain saat perubahan cuaca ekstrem seperti saat musim kemarau,” tuturnya.

Penyebab migrain lainnya

Selain akibat perubahan cuaca yang esktrem seperti saat musim kemarau, migrain juga bisa terjadi akibat kondisi-kondisi lainnya. Beberapa kondisi yang dimaksud, antara lain:

  • Seks berlebih

Berhubungan seks atau sekadar terangsang secara seksual dalam porsi berlebihan dapat memicu terjadinya migrain. Oleh karena itu, dr. Nadia Octavia dari KlikDokter menyarankan agar Anda membatasi frekuensi berhubungan seks menjadi hanya 2–3 kali per minggu.

  • Petir

Sebuah studi yang dilakukan pada penderita migrain di Ohio dan Missouri, Amerika Serikat menemukan fakta bahwa berada di tempat dengan banyak sambaran petir bisa meningkatkan risiko migrain. Para peneliti menyimpulkan bahwa gelombang elektromagnetik dari petir dapat memicu terjadinya nyeri kepala yang berujung migrain.

  • Perubahan mood

Sebuah penelitian melaporkan bahwa risiko migrain akan meningkat hingga 20% ketika seseorang mengalami perubahan mood yang drastis, seperti misalnya dari sedih atau gugup menjadi bahagia dan relaks. Hal ini berkaitan dengan gejolak hormon di dalam tubuh.

  • Obat migrain yang tidak tepat

Tidak selamanya obat-obatan yang digunakan untuk migrain bisa mengatasi keluhan terkait. Pada beberapa kasus, penggunaan obat–obatan migrain secara berlebihan dapat menimbulkan medication-overuse headaches alias nyeri kepala akibat penggunaan obat yang tidak tepat. 

"Obat golongan triptan yang bisa digunakan mengatasi migrain bisa memperparah keluhan jika dikonsumsi tidak pada dosisnya. Maka dari itu, usahakan untuk tidak mengonsumsi obat antimigrain lebih dari 2 kali dalam seminggu," ungkap dr. Nadia.

Meski kebenaran bahwa sakit kepala sebelah alias migrain sering terjadi saat musim kemarau masih merupakan hipotesis dan perlu studi lebih lanjut, Anda sebaiknya selalu waspada dan berhati-hati. Selalu upayakan untuk memenuhi kebutuhan cairan setiap hari, mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, serta cukup istirahat. Jika serangan migrain terjadi, segera minum obat sesuai dosis yang tertera di label kemasan. Apabila keluhan tak kunjung membaik, jangan sungkan untuk berobat ke dokter.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar