Sukses

Malas Bergerak Bisa Disebabkan Zat Aditif, Mitos atau Fakta?

Menurut sebagian orang, zat aditif semacam penyedap rasa dan pengawet makanan bisa membuat seseorang malas bergerak! Benarkah hal itu?

Klikdokter.com, Jakarta Malas bergerak dan beraktivitas fisik biasanya disebabkan oleh ketiadaan motivasi. Nah, bicara soal hilangnya motivasi, siapa sangka ternyata juga bisa dipicu oleh jenis makanan yang dikonsumsi, dalam hal ini makanan yang mengandung zat aditif.

Ya, dilansir dari sebuah sumber, mengonsumsi makanan yang mengandung zat aditif secara berlebih, seperti zat-zat yang bisa menguatkan cita rasa, pewarna, penambah tekstur, serta pengawet, dapat membuat seseorang menjadi malas bergerak alias mager.

Zat aditif, fosfat, dan gaya hidup sedentari

Perlu diketahui bahwa zat aditif mengandung sejenis bahan kimia yang disebut fosfat anorganik. Fosfat sendiri kerap ditemukan secara alami dalam produk susu, ikan, dan daging.

Oleh sebab itu, ketika makanan yang sedari awal sudah berfosfat lalu ditambahkan fosfat lagi, otomatis kandungannya menjadi lebih tinggi. Kondisi seperti itu terdapat pada 40-70 persen makanan olahan, misalnya makanan kalengan, makanan beku, minuman bersoda, serta daging kemasan.

Sebenarnya, selama makanan berfosfat tinggi tersebut dikonsumsi dalam jumlah wajar, tubuh tetap dapat membuang kelebihan fosfat melalui urine. Sayangnya, ketika mengonsumsinya secara berlebih, zat tersebut justru dapat menurunkan tingkat aktif seseorang.

Pada penelitian yang melibatkan tikus, hewan yang banyak mengonsumsi zat aditif diketahui tidak mampu menggunakan oksigen secara efektif, sehingga kemampuannya untuk bergerak menurun. Penelitian dengan manusia pun memberikan hasil yang sama.

Sayangnya, tidak diketahui mengapa hal tersebut bisa terjadi. Yang jelas, mereka yang mengonsumsi lebih banyak zat aditif dalam makanan sehari-hari cenderung menjalani gaya hidup sedentari alias lebih banyak “diam” dan mager.

1 dari 2 halaman

Makanan olahan dengan zat aditif dan risiko penyakit yang mengintai

Ketika orang tersebut malas bergerak, maka otomatis dia pun akan malas untuk berolahraga. Dengan demikian, risiko untuk mengalami obesitas dan penyakit kronis lainnya juga semakin tinggi.

Hal itu pun dibenarkan oleh dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter. Pola hidup yang jarang beraktivitas fisik atau sedentary life akan memicu kenaikan berat badan, penimbunan lemak, dan meningkatkan risiko penyakit jantung serta pembuluh darah di kemudian hari.

Di sisi lain, zat aditif (fosfat) yang banyak terkandung dalam makanan olahan tak cuma bikin seseorang malas bergerak. Dikatakan oleh dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter, terlalu banyak dan terlalu sering mengonsumsi makanan olahan akan memengaruhi fungsi kognitif.

Fungsi kognitif sendiri berkaitan dengan fungsi otak. Oleh sebab itu, seseorang yang memiliki gangguan kognitif akan mengalami penurunan fungsi otak, seperti turunnya kemampuan berpikir, belajar, serta kemampuan untuk mengingat sesuatu.

“Hal ini disebabkan oleh makanan olahan yang tidak didukung asupan nutrisi untuk aktivitas otak,” jelasnya.

Beberapa dampak buruk lain yang bisa dipicu oleh konsumsi makanan olahan secara berlebih, yakni:

  • Mengalami hipertensi

Makanan olahan mengandung garam (natrium) yang tinggi dengan tujuan pengawetan. Bila dikonsumsi secara berlebih, tentu dapat meningkatkan risiko hipertensi.

  • Diabetes

Makanan olahan cenderung mengandung gula dan karbohidrat yang tinggi. Kandungan tersebut meningkatkan risiko terjadinya diabetes jika dikonsumsi secara berlebih.

  • Sembelit

Makanan olahan tidak memiliki kandungan serat yang cukup, sehingga pencernaan menjadi kurang lancar dan membuat Anda sulit buang air besar (BAB).

  • Kanker

Penyakit kronis seperti kanker dapat terjadi akibat terlalu sering mengonsumsi makanan olahan. Sebab, makanan olahan sangat mungkin memiliki kandungan bahan kimia sintetis yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker.

Malas bergerak dan berolahraga bisa disebabkan banyak hal, salah satunya mengonsumsi makanan olahan yang mengandung banyak zat aditif secara berlebih. Akan lebih baik bila Anda mengonsumsinya sesekali saja. Coba ganti konsumsi makanan Anda dengan makanan alami yang lebih sehat, sehingga di kemudian hari, Anda tak dihantui oleh obesitas ataupun penyakit kronis.

[MS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar