Sukses

Sering Main Gawai Bisa Ganggu Pola Tidur Remaja

Wahai orang tua, ingin pola tidur remaja Anda menjadi lebih baik? Mulai sekarang batasi waktu mereka untuk main gawai.

Klikdokter.com, Jakarta Studi menyebutkan bahwa remaja membutuhkan waktu tidur malam antara 8-10 jam setiap harinya. Jumlah ini sedikit lebih banyak daripada yang dibutuhkan orang dewasa, yaitu 7-9 jam sehari. Namun kenyataannya, sebagian besar remaja hanya tidur sekitar 6,5-7,5 jam semalam, dan sebagian lagi kurang dari itu. Salah satu faktornya diklaim berhubungan dengan kebiasaan remaja sering main gawai di malam hari.

Secara alami, remaja memang rentan kurang tidur oleh karena tubuhnya masih menyesuaikan dengan perubahan hormon yang terjadi kala pubertas. Hormon-hormon ini menggeser jam biologis remaja sehingga mereka lebih lambat mengantuk sekitar 1-2 jam kemudian.

Meski demikian, waktu mulai sekolah tetap sama sehingga jam tidur cenderung kurang. Di samping itu, remaja umumnya memiliki aktivitas di luar sekolah yang padat, seperti pekerjaan rumah, ekstrakurikuler, dan kegiatan lainnya.

Faktor lain yang kini kerap diteliti yakni terkait penggunaan gawai dan perangkat lain yang menggunakan layar, seperti menonton televisi atau bermain video game.

Bermain gawai ganggu pola tidur

Di masa lampau, sudah banyak studi yang menunjukkan bahwa paparan berlebih sinar biru dari gawai dan perangkat elektronik lainnya di sekitar waktu tidur malam dapat membuat otak tetap aktif. Di samping itu, produksi hormon melatonin yang memicu rasa kantuk pun dicegah. Akibatnya, kualitas dan waktu tidur akan terganggu.

Baru-baru ini, sebuah studi yang melibatkan peneliti dari Belanda menunjukkan bahwa remaja yang menatap layar lebih dari empat jam per hari memiliki siklus tidur dan bangun yang lebih terlambat—rata-rata 30 menit—daripada yang hanya satu jam per hari. Keluhan-keluhan akibat kurang tidur, seperti rasa lelah, sulit konsentrasi dan perubahan suasana hati, juga lebih dirasakan.

Selanjutnya, dilakukan eksperimen untuk menguji efek pancaran sinar biru dari layar gawai. Sebanyak 25 remaja Belanda usia 12-17 tahun dengan durasi penggunaan gawai yang bervariasi direkrut dan dibagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama menggunakan gawai seperti biasa, kelompok kedua menggunakan kacamata khusus, dan yang ketiga benar-benar tidak menggunakan gawai.

Kualitas tidur dinilai selama lima minggu berikutnya menggunakan jurnal harian, alat untuk menilai apakah seseorang tidur nyenyak, dan dengan memeriksa kadar hormon melatonin mereka.

Hasilnya didapat bahwa penggunaan kacamata khusus yang menghalangi sinar biru dan tidak bermain gawai sama sekali membuat remaja lebih cepat tertidur dan bangun lebih awal, yakni sekitar 20 menit cepat. Keluhan-keluhan akibat kurang tidur pun dilaporkan berkurang setelah cara ini diterapkan selama tujuh hari berturut-turut.

1 dari 2 halaman

Pesan bagi orang tua

Studi ini sejatinya menawarkan solusi praktis dan sederhana bagi orang tua yang sedang membantu remajanya mendapatkan waktu istirahat yang cukup dan berkualitas. Yakni hanya dengan membatasi waktu penggunaan gawai di malam hari atau menggunakan kacamata khusus yang dapat menangkal sinar biru.

Namun demikian, para pakar juga menyebutkan hal lain yang tak kalah penting dari itu. Yaitu, terkait konten yang dilihat dan bagaimana remaja berinteraksi atau terlibat di dalamnya.

Aktivitas seperti membaca informasi yang sifatnya netral umumnya tidak masalah, selama tidak membiarkan otak terjaga hingga larut malam. Tetapi, konten dan keterlibatan remaja di dalam media sosial berpotensi menjadi masalah. Tak jarang, pengguna media sosial yang intens dan aktif mengalami rasa cemas, depresi, dan rasa percaya diri yang rendah. Selanjutnya, gangguan-gangguan psikologis ini dapat membuat remaja memiliki pola tidur yang buruk.

Karena itu, orang tua diimbau untuk betul-betul mengawasi dan membatasi waktu main gawai pada remaja. Selain membuat mereka lebih cepat tertidur, ini juga untuk menghindari efek negatif dari konten-konten yang diakses. Ingat pula bahwa pola tidur yang buruk tak sekadar menyebabkan rasa lelah dan sulit konsentrasi, yang berdampak pada performa akademis di sekolah. Dalam jangka panjang, kurang tidur kronis juga akan memicu timbulnya obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar