Sukses

Makanan Ultra-proses Picu Kanker?

Makanan ultra-proses menjadi solusi instan yang sering digunakan masyarakat di kota besar. Benarkah makanan jenis ini bisa picu kanker?

Klikdokter.com, Jakarta Coba cek persediaan makanan Anda di kulkas, apakah Anda dengan mudah menemukan makanan ultra-proses dan siap saji seperti bakso, keju, sosis, atau nugget? Meski enak dan praktis diolah, kandungan gizi jenis makanan tersebut masih dipertanyakan. Bahkan  ada pula pendapat yang mengatakan bahwa jenis makanan semacam itu bisa memicu kanker.

Ya, kehidupan di kota besar yang padat dan sibuk, memang membuat penghuninya sering kali tidak punya waktu mengonsumsi dan mengolah makanan berkualitas. Akibatnya, makanan ultra-proses dan siap saji pun menjadi jalan keluar instan yang sering yang digunakan.

Makanan ultra-proses, apa itu?

Selama ini, Anda sudah cukup familier dengan makanan yang diproses atau processed food. Processed food adalah makanan yang diproses sebagai bentuk hampir jadi sebelum dijual, seperti makanan kaleng, makanan asap, pasteurisasi, dan yang melalui proses pengeringan.

Makanan ultra-proses adalah makanan yang melalui satu tahapan berikutnya dari processed food, yaitu diberikan bahan tambahan, seperti pengawet makanan, pemanis buatan, dan penambah selera makan.

Lalu, apakah bila Anda membuat bakso atau nugget sendiri akan lebih aman dibandingkan yang dibeli di pasaran? Betul, makanan tersebut relatif lebih aman karena setidaknya tidak mengandung bahan tambahan atau food additives lain.

Makanan ultra proses dan dampaknya terhadap kesehatan

Makanan yang diolah seperti bacon, sosis, daging hamburger, ikan asap, keju asap akan mengandung N-nitroso. N-nitroso merupakan komponen karsinogenik yang dihasilkan selama proses memasak. Sementara itu, karsinogenik adalah bahan yang dapat memicu timbulnya kanker.

Selain dari bahan makanan daging yang diolah, N-nitroso juga didapatkan dari pengawet dan food additives, seperti potasium nitrit, sodium nitrit, sodium nitrat, dan potasium nitrat yang berfungsi mencegah kontamitasi bakteri Clostridium botulinum.

Selain N-nitroso, proses memasak daging dengan suhu tinggi akan membentuk senyawa kimia bersifat karsinogenik lainnya. Misalnya, heterocyclic amines (HCAs) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs).

Selanjutnya, jumlah zat yang bersifat karsinogenik yang terakumulasi di dalam daging yang dimasak bergantung pada beberapa hal. Antara lain, jenis daging, cara memasak, suhu memasak dan lama memasak. Metode memasak seperti menggoreng, membakar, dan memanggang juga dikatakan memproduksi zat yang bersifat karsinogen dalam jumlah tinggi.

Jadi bayangkan saja, ada berapa banyak karsinogen yang dimakan, bila mengonsumsi bakso, bacon, dan sosis dengan cara membakar atau menggoreng? Sayangnya, membakar atau menggoreng adalah cara yang paling sering Anda gunakan untuk mengolah makanan.

Bahan makanan dan cara memasak yang aman

Jadi yang membuat bakso, nugget, sosis tidak aman bagi kesehatan bukan hanya bahan tambahan yang digunakan oleh produsen, tapi juga cara pengolahan berulang dengan suhu tinggi. Hal-hal tersebut membuat makanan olahan meningkatkan risiko kanker pada tubuh. Walaupun lebih rendah risikonya, makanan olahan ala rumahan juga berisiko menimbulkan penyakit.

Proses memasak yang dikatakan aman adalah merebus dan mengukus makanan. Sudah benar bila Anda di rumah menyajikan masakan rebusan dan kukusan ketika masa MPASI. Kebiasaan masak tersebut sebaiknya diteruskan hingga anak besar sehingga makanan yang dikonsumsi selalu aman bagi kesehatan buah hati.

Makanan ultra-proses dapat menimbulkan risiko kanker bila dikonsumsi terlalu sering. Penyebabnya, proses memasak dan bahan yang ditambahkan dalam makanan tersebut akan menghasilkan zat-zat yang bersifat karsinogen. Karena itu, daripada mengonsumsi makanan olahan, lebih baik ganti dengan bahan-bahan segar, seperti ikan, daging merah, dan sayuran. Selain itu perhatikan juga cara pengolahannya, yaitu dengan direbus atau kukus.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar