Sukses

12 Jenis Diabetes Melitus yang Mungkin Mengintai Anda

Tahukah Anda bahwa penyakit diabetes melitus terbagi menjadi 12 jenis? Kenali dan waspadai agar penyakit ini tidak terjadi di kemudian hari!

Klikdokter.com, Jakarta Diabetes melitus atau lebih dikenal kencing manis adalah penyakit yang mungkin sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Pasalnya, kejadian penyakit ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Faktanya, Indonesia merupakan negara dengan kasus diabetes melitus paling tinggi nomor enam setelah Tiongkok, India, Amerika Serikat, Brazil dan Meksiko.

Meski memiliki angka kejadian yang tinggi, diabetes melitus tergolong sebagai penyakit yang sulit dikenali sejak dini. Penyakit ini bahkan terbagi menjadi menjadi 12 jenis, yang beberapa di antaranya mungkin sempat dialami oleh orang-orang di sekitar Anda.

Adapun 12 jenis penyakit diabetes melitus yang dimaksud, yaitu:

  1. Diabetes melitus tipe 1

Diabetes melitus tipe 1 adalah jenis penyakit autoimun yang menyebabkan pankreas ―organ yang memproduksi hormon insulin― mengalami kerusakan. Hal ini menyebabkan tubuh tidak bisa menghasilkan insulin, padahal hormon tersebut dibutuhkan untuk mengolah gula darah menjadi energi.

Diabetes jenis ini bisa dijumpai sejak masa anak-anak. Dan, untuk mengatasi gula darah yang terlalu tinggi, penderita diabetes melitus tipe 1 harus mendapatkan suntikan insulin setiap hari.

  1. Diabetes melitus tipe 2

Berbeda dengan tipe 1 yang terjadi mulai anak-anak, diabetes melitus tipe 2 terjadi pada orang dewasa dan lanjut usia. Jenis diabetes ini terjadi karena adanya resistensi insulin.

Pada awalnya, kondisi resistensi insulin bisa diatasi oleh tubuh dengan menghasilkan lebih banyak insulin untuk menjaga gula darah normal. Tapi lama-kelamaan, pankreas mengalami kelelahan akibat memproduksi insulin dalam jumlah yang banyak. Sebagai akibatnya, organ tersebut tak mampu lagi menghasilkan jumlah insulin yang memadai sehingga tubuh tidak mampu mengelola gula darah untuk diubah menjadi energi. Saat itulah penyakit diabetes terjadi.

Untuk mengatasi gula darah yang tinggi pada penyakit ini, dibutuhkan kombinasi olahraga, pengaturan makan dan obat-obatan. Jenis obat yang dikonsumsi bisa berupa tablet atau suntikan insulin.

1 dari 4 halaman

Selanjutnya

  1. Diabetes gestasional

Ini adalah jenis diabetes yang terjadi pada kehamilan. Umumnya, diabetes gestasional mulai terjadi pada usia kehamilan 24–28 minggu, dan ditandai dengan gula darah setelah makan yang tinggi.

Diabetes gestasional harus ditangani dengan baik untuk mencegah berbagai komplikasi dalam kehamilan dan menurunkan risiko terjadinya persalinan prematur, bayi yang terlalu besar, atau gula darah yang rendah pada bayi saat lahir.

  1. Diabetes LADA

LADA merupakan singkatan dari latent autoimmune diabetes of adulthood. Secara sederhana, LADA serupa dengan diabetes melitus tipe 1 yang baru muncul saat seseorang sudah dewasa. Umumnya penyakit ini terjadi saat seseorang berusia 30 tahun ke atas.

Pada awal pengobatan, LADA bisa diobati dengan obat-obatan diabetes tablet. Namun secara jangka panjang, penderitanya membutuhkan suntikan insulin guna mengontrol kadar gula darah di dalam tubuhnya.

  1. Diabetes MODY

Kepanjangan MODY adalah maturity onset diabetes of the young. Penyebab dan gejala MODY mirip dengan diabetes melitus tipe 2, namun terdapat dua hal yang membedakannya.

Pertama, MODY umumnya terjadi sebelum seseorang berusia 25 tahun (remaja). Kedua, MODY biasanya merupakan bagian dari penyakit yang diturunkan dari orang tua ke anak, karena kondisi ini biasanya disebabkan oleh mutasi genetik. Oleh karena itu, jika ayah atau ibu mengalami MODY, anak akan memiliki risiko 50% lebih tinggi untuk mengalami penyakit yang sama.

2 dari 4 halaman

Selanjutnya (2)

  1. Double diabetes

Double diabetes adalah kondisi yang terjadi saat penderita diabetes melitus tipe 1 mengalami resistensi insulin layaknya yang terjadi pada diabetes melitus tipe 2. Jadi, pada double diabetes, terjadi diabetes tipe 1 dan 2 bersamaan.

Double diabetes membutuhkan pengobatan dan pemantauan yang lebih intensif. Penderitanya berisiko tinggi mengalami berbagai komplikasi, seperti penyakit jantung koroner, stroke, dan gagal ginjal kronik.

  1. Diabetes tipe 3

Penyakit diabetes tipe 3 masih terus diteliti oleh para ahli kesehatan. Sejauh ini diketahui bahwa diabetes tipe 3 berkaitan dengan resistensi insulin. Namun, kondisi tersebut tidak mengakibatkan gula darah melonjak naik, melainkan menyebabkan gangguan daya ingat berupa demensia Alzheimer.

  1. Diabetes yang berhubungan dengan steroid

Steroid adalah obat antiradang yang sering digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit autoimun dan penyakit serupa lainnya. Salah satu efek samping steroid adalah meningkatnya gula darah.

Oleh karena itu, jika seseorang mendapatkan pengobatan steroid secara jangka panjang, risiko terjadinya diabetes akan semakin tinggi. Walau begitu, jika pengobatan steroid dihentikan, lama-kelamaan risiko diabetes bisa menghilang.

  1. Brittle diabetes

Brittle diabetes adalah istilah yang digunakan untuk kondisi diabetes melitus tipe 1 dengan kondisi gula darah yang sulit dikendalikan. Karena kadar gula darah pada diabetes jenis ini sangat tidak stabil, para pakar sering menyebutnya sebagai diabetes labil.

Pada brittle diabetes, gula darah kadang bisa melonjak sangat tinggi dan kadang bisa anjlok menjadi sangat rendah. Jenis diabetes ini lebih rentan terjadi pada penderita diabetes melitus tipe 1 yang mengalami masalah psikologis, seperti gangguan cemas atau depresi.

3 dari 4 halaman

Selanjutnya (3)

  1. Diabetes sekunder

Diabetes sekunder adalah kondisi gula darah yang tinggi terus-menerus akibat penyakit lain, seperti sindrom Cushing, pankreatitis kronik, dan sindrom polikistik ovarium.

Pengobatan diabetes sekunder adalah dengan mengobati penyakit yang mendasarinya.

  1. Diabetes insipidus

Berbeda dengan diabetes lain yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi, diabetes insipidus tak memiliki hubungan dengan gangguan insulin atau gula darah yang tinggi. Diabetes insipidus disebabkan akibat gangguan produksi hormon antidiuretik di dalam tubuh. Hal ini membuat tubuh tak bisa menahan air.

Diabetes insipidus ditandai dengan buang air kecil yang sangat sering dan banyak. Jumlah urine yang keluar bisa lebih dari 20 liter per hari. Hal ini menyebabkan penderitanya rentan mengalami dehidrasi dan gangguan elektrolit, yang ditandai dengan pusing, mudah lelah, bahkan penurunan kesadaran.

  1. Diabetes juvenile

Diabetes juvenile adalah istilah umum yang digunakan untuk diabetes pada remaja. Diabetes jenis ini bisa merupakan diabetes melitus tipe 1, LADA, brittle diabetes, atau jenis diabetes lainnya.

Beda jenis diabetes, beda pula cara mengobatinya. Oleh karena itu, terjadinya penyakit tersebut menuntut penderita untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut guna memastikan jenis diabetes mana yang dialaminya. Jika tidak ditangani dengan baik, kesemua jenis diabetes tersebut sangat mungkin menyebabkan komplikasi yang bahkan bisa merenggut nyawa.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar