Sukses

Kebiasaan di Toilet yang Buruk bagi Kesehatan

Ternyata, beragam kebiasaan di toilet berikut ini berdampak buruk untuk kesehatan. Kebiasaan apa saja itu? Temukan jawabannya di bawah ini.

Klikdokter.com, Jakarta Bukan rahasia lagi bahwa toilet merupakan tempat yang dipenuhi bakteri dan terkesan kotor. Meskipun sudah dibersihkan hingga ke setiap sudut dan diberi pewangi ruangan, tempat ini tidak akan sepenuhnya menjadi tempat yang bebas dari bakteri. Dan ternyata, ada bermacam kebiasaan di toilet yang bisa berdampak buruk untuk kesehatan.

Toilet menjadi salah satu ruangan yang menjadi kebutuhan wajib, baik di rumah maupun tempat-tempat umum. Meskipun sering disebut juga sebagai kamar mandi, toilet  tidak hanya menjadi tempat untuk mandi, tetapi juga banyak hal seperti buang air kecil dan besar, mencuci tangan, hingga sekadar merapikan baju atau rambut.

Kebiasaan buruk di toilet

Selain itu, orang-orang juga punya kebiasaan berbeda saat berada di toilet. Oleh karena itu, hal tersebut juga bisa saja menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan Anda. Kebiasaan apa sajakah itu? Simak ulasannya di bawah ini.

  • Membawa ponsel ke kamar mandi

Siapa di antara Anda semua yang membawa ponsel ke kamar mandi? Entah untuk sekadar berpesan singkat, melihat linimasa media sosial, hingga mendengarkan musik. Pastinya hampir sebagian besar Anda melakukannya, bukan?

Padahal, seperti yang disebutkan di atas, bahwa kamar mandi merupakan tempat yang dipenuhi bakteri. Jika Anda membawa ponsel ke toilet, maka bakteri yang berada di sekitar akan menempel pada ponsel Anda.

Tanpa Anda sadari, bakteri yang menempel tersebut akan Anda bawa ke mana-mana. Bakteri tersebut bisa mengotori tangan hingga wajah Anda, sehingga menyebabkan jerawat.

  • Duduk di kloset terlalu Lama

Biasanya, seseorang duduk di kloset terlalu lama karena bermain ponsel hingga lupa waktu. Padahal, waktu Anda untuk buang air sudah selesai beberapa menit yang lalu, tetapi Anda masih saja asyik duduk di kloset dengan ponsel di tangan.

Kebiasaan ini bisa menyebabkan peningkatan tekanan pada pembuluh darah di area bokong Anda. Jika sering dilakukan, maka akan terjadi pelebaran pembuluh darah di dinding rektum atau anus Anda.

Hal inilah yang disebut hemoroid atau wasir. Wasir paling sering ditandai dengan BAB berdarah dan terasa ada benjolan yang keluar dari anus. Duduk di kloset disarankan tidak lebih dari 5 menit.

  • Menyeka dari belakang ke depan

Pada saat selesai BAB, pastinya Anda akan membersihkannya dengan cara menyeka daerah anus. Cara yang disarankan adalah menyeka satu arah dari depan ke belakang.

Dengan begitu, sisa kotoran dari anus tidak akan terbuang ke daerah kemaluan Anda, tapi ke belakang. Pada wanita, kebiasaan ini meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK).

  • Tidak mencuci tangan dengan sabun

Ketika keluar mandi, hal yang disarankan selalu Anda lakukan adalah mencuci tangan. Perlu diperhatikan juga, mencuci tangan yang baik adalah menggunakan sabun karena akan membuang kotoran.

Sabun antiseptik juga boleh, tetapi tidak disarankan bagi Anda yang memiliki kulit sensitif karena akan membuat tangan menjadi kering.

  • Siram kloset tanpa menutup

Banyak yang belum tahu bahwa kebiasaan inilah yang menyebabkan bakteri dari kloset tersebar ke seluruh ruangan. Bakteri yang paling banyak ada di kloset adalah bakteri dari feses, yaitu E. Coli.

Saat menyiram setelah Anda selesai BAK maupun BAB, disarankan menutup kloset untuk mencegah bakteri-bakteri tersebut tersebar ke seluruh ruangan.

  • Menaruh handuk dalam toilet

Kebiasaan ini tentunya menyebabkan handuk yang Anda letakkan di dalam toilet dipenuhi bakteri karena berhari-hari berada di toilet. Handuk yang kotor berisiko menyebabkan bau badan dan wajah berjerawat.

Selain itu, hal ini juga bisa terjadi pada sikat gigi. Disarankan untuk meletakkan sikat gigi di dalam lemari atau menggunakan penutup pada kepala sikatnya.

Beragam kebiasaan di toilet seperti di atas masih banyak dilakukan karena masih banyak orang yang belum tahu apa akibatnya. Diharapkan, dengan membaca artikel ini, Anda dapat membantu seluruh tenaga kesehatan untuk menginformasikan dampak buruknya untuk kesehatan, sekaligus mempromosikan kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

[MS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar