Sukses

4 Gejala Anemia Sel Sabit pada Bayi

Anemia sering terjadi pada bayi. Tapi bagaimana membedakan Anemia sel sabit dengan anemia biasa? Cari tahu di sini!

Klikdokter.com, Jakarta Pasti Anda sering mendengar istilah anemia. Ya, anemia didefinisikan sebagai kondisi tubuh yang mempunyai kadar hemoglobin rendah dalam darah. Tapi, bagaimana bila anemia terjadi pada bayi? Penyakit ini muncul dengan nama anemia sel sabit dan harus diwaspadai sejak awal sebelum pernikahan.

Seputar anemia sel sabit

Seseorang dikatakan mengalami anemia jika kadar Hb yang dimilikinya di bawah 13 mg/dl pada pria dewasa, di bawah 12 mg/dl pada wanita, di bawah 11 mg/dl pada anak-anak, dan mencapai di bawah 10 mg/dl pada bayi berusia kurang dari 3 bulan.

Hemoglobin itu sendiri adalah protein pada sel darah merah yang bertugas mengikat oksigen dan mengantarkannya ke seluruh tubuh untuk fungsi metabolisme. Tak heran, orang yang menderita anemia sering disebut kurang darah.

Pada anemia biasa, yang sering terjadi adalah kurangnya asupan zat besi sebagai komponen penyusun hemoglobin pada sel darah merah, sehingga dikenal dengan sebutan anemia defisiensi besi.

Anak-anak yang tidak mendapat asupan zat besi cukup seperti dari daging merah, hati, kacang-kacangan, bayam, dan ikan atau hanya mengandalkan ASI tanpa makanan pendamping setelah berusia 6 bulan biasanya mengalami kondisi ini.

Gejala yang paling sering adalah bayi terlihat pucat, hilang nafsu makan, lemas, napas terengah-engah, mudah lelah, hilang konsentrasi, atau bahkan sampai mengalami keterbatasan intelektual dan kurang gizi atau stunting jika berlangsung lama.

Normalnya, sel darah merah berbentuk bulat dan pipih pada bagian tengahnya. Pada bayi yang terkena anemia sel sabit, sel darah merah yang dimilikinya berbentuk seperti sabit akibat adanya mutasi genetik yang menyebabkan perubahan rantai globin pada hemoglobin.

Artinya, sel sabit ini bukan karena ditularkan, melainkan penyakit genetik. Anemia sel sabit diturunkan secara autosomal resesif, yang berarti bahwa seseorang dapat mengalami anemia sel sabit apabila kedua orang tuanya merupakan pembawa gen dari kondisi tersebut.

1 dari 2 halaman

Gejala yang mungkin dialami

Selain gejala umum anemia seperti di atas, ada beberapa gejala yang dapat Anda perhatikan sebagai tanda si Kecil terkena anemia sel sabit.

  1. Tubuh dan  mata yang kekuningan

Karena pembentukan sel darah merah yang tidak sempurna dan membentuk sel sabit, membran sel tersebut jadi lebih lemah dan mudah pecah.

Ketika ada sel darah merah yang hancur, selain menyebabkan anemia, tubuh juga akan membersihkan sisa-sisa sel darah merah dan menghasilkan zat yang disebut bilirubin. Dalam jumlah banyak, zat tersebut akan menyebabkan kekuningan pada kulit dan mata bayi.

  1. Sendi terlihat bengkak dan bayi sering rewel

Perubahan bentuk sel darah merah pada sel sabit menyebabkan lebih mudahnya sel ini menyumbat di pembuluh darah kecil. Sumbatan paling sering terjadi di pembuluh darah sekitar sendi jari, tangan dan kaki, sehingga menyebabkan pembengkakan dan nyeri pada bagian tersebut.

  1. Infeksi berulang

Organ limpa berfungsi sebagai pusat sel imun tubuh. Jika organ ini rusak akibat penyumbatan pembuluh darah, maka fungsinya sebagai pusat daya tahan tubuh akan terganggu dan menyebabkan mudah terjadinya infeksi berulang.

  1. Perut membesar

Pada saat anemia, tubuh membutuhkan tambahan produksi sel darah merah yang diproduksi di sumsum tulang dan dibantu oleh organ hati. Saat bekerja keras untuk menghasilkan sel darah merah, hati akan membesar dan menyebabkan perut juga membesar. Gejala anemia sel sabit ini paling mudah untuk dikenali.

Anemia sel sabit pada bayi tidak bisa disepelekan karena dapat berakibat fatal pada si Kecil. Salah satu cara untuk mencegahnya adalah dengan melakukan pemeriksaan darah sebelum menikah, apakah membawa genetik sel sabit atau tidak. Dengan demikian, penyakit anemia sel sabit pada bayi bisa dicegah.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar