Sukses

Pengaruh Diabetes terhadap Kesehatan Reproduksi

Hati-hati, diabetes melitus bisa berpengaruh buruk terhadap kesuburan dan kesehatan reproduksi, baik pada wanita maupun pria.

Klikdokter.com, Jakarta Diabetes melitus saat ini menduduki peringkat ketiga sebagai penyakit paling mematikan di Indonesia setelah stroke dan penyakit jantung koroner. Hal ini karena diabetes yang tidak terkontrol dapat menyebabkan berbagai komplikasi di berbagai organ seperti di ginjal, otak, jantung, mata, dan saraf. Nah, salah satu dampak diabetes yang tidak ditangani dengan baik ternyata bisa memengaruhi kesehatan reproduksi, baik pada pria maupun wanita.

Pengaruh diabetes terhadap kesehatan reproduksi

Diabetes memang menjadi salah satu penyakit yang banyak ditakuti. Efek negatifnya pada kesehatan memang sangat besar. Bahkan kesehatan reproduksi – pria maupun wanita – juga ikut terkena dampaknya.

Berikut adalah beberapa komplikasi diabetes pada organ reproduksi:

Pada wanita

Wanita dengan diabetes melitus perlu mewaspadai komplikasi ini:

  • Sindrom ovarium polikistik (polycystic ovary syndrome atau PCOS)

Dalam jangka panjang, kadar gula darah yang tinggi pada diabetes melitus tipe 2 mencetuskan munculnya penyakit PCOS. Pada kondisi PCOS, muncul sejumlah kista di ovarium dan kadar hormon testosteron melonjak tinggi. Hal ini akan menyebabkan haid menjadi lebih jarang, bahkan bisa terjadi kondisi amenorea (tidak haid sama sekali) setidaknya selama tiga bulan. Masa subur pun tidak terjadi. Oleh karena itu, banyak penderita PCOS yang mengalami infertilitas.

  • Menopause dini

Pada umumnya, menopause mulai terjadi pada saat wanita berusia 50 tahun ke atas. Namun, berbagai studi menemukan bahwa penderita diabetes tipe 1 dan tipe 2 memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami menopause dini atau menopause prematur, yaitu menopause yang terjadi sebelum usia 40 tahun.

  • Kanker rahim

Penderita diabetes melitus tipe 2 lebih rentan mengalami kanker rahim, atau secara medis disebut secagai kanker endometrium. Adanya kanker di dinding rahim menyebabkan infertilitas. Salah satunya adalah karena hasil pembuahan antara sel telur dan sperma tak dapat melekat ke dinding rahim. Selain itu, salah satu pengobatan yang lazim dilakukan untuk kanker rahim adalah pengangkatan rahim. Jika rahim harus diangkat, tentu kehamilan tak bisa terjadi.

  • Keguguran

Tak hanya mengganggu kesuburan, diabetes juga bisa menyebabkan gangguan dalam kehamilan. Salah satu masalah kehamilan yang sering terjadi pada penderita diabetes adalah keguguran. Hal ini terutama terjadi pada penderita diabetes yang kadar gula darahnya tak terkontrol dengan baik sebelum hamil dan pada bulan-bulan awal kehamilan.

Pada pria

Tak hanya pada wanita, diabetes juga dapat menyebabkan masalah kesuburan pada pria. Di antaranya adalah:

  • Penurunan libido dan disfungsi ereksi

Secara kimiawi, gula darah yang sangat tinggi pada penderita diabetes dapat menyebabkan kadar hormon testosteron turun. Salah satu peran hormon testosteron adalah untuk mengatur libido. Dengan menyusutnya jumlah testosteron, libido  pun ikut menurun.

Selain itu, diabetes yang tak terkontrol menyebabkan komplikasi jangka panjang berupa gangguan pada pembuluh darah, yang mana aliran darah jadi tak lancar. Jika gangguan terjadi di pembuluh darah penis, disfungsi ereksi dapat terjadi karena darah yang mengisi pembuluh darah di penis saat ereksi tak dapat mengalir dengan baik.

  • Oligozoospermia dan azoospermia

Selain menyebabkan hormon testosteron rendah, gula darah yang tinggi pada penderita diabetes juga menyebabkan kerusakan DNA sperma. Akibatnya, jumlah sperma berkurang sehingga oligozoospermia (jumlah sperma di bawah normal) dan azoospermia (tidak ditemukan sperma dalam air mani) bisa terjadi.

Meski pada awalnya diabetes sering kali tak menunjukkan gejala apapun, penyakit ini harus ditangani dengan tepat dan cepat agar berbagai komplikasi bisa dicegah, termasuk pengaruhnya terhadap kesehatan reproduksi. Selain itu, yang tak kalah penting adalah deteksi dini diabetes pada orang sehat. Studi menemukan bahwa diabetes umumnya ditemukan terlambat, yaitu saat penderitanya sudah mengalami berbagai komplikasi. Karenanya, Anda yang berusia 40 tahun ke atas dianjurkan untuk cek gula darah rutin  tiap 1-3 tahun sekali, atau lebih jika Anda punya risiko tinggi diabetes.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar