Sukses

Kiat agar Anak Tak Terpapar Konten Bernuansa Seks

Kini internet bisa begitu mudah diakses anak. Lindungi anak Anda agar tidak terpapar konten bernuansa seks sejak dini.

Klikdokter.com, Jakarta Baru-baru ini, publik dikejutkan dengan perbuatan sepasang suami istri di Tasikmalaya, Jawa Barat, yang mempertontonkan hubungan seksual secara langsung di hadapan anak-anak. Bahkan, pasangan tersebut memungut bayaran kepada anak-anak tersebut sebesar Rp5.000, dengan batas usia maksimal 12 tahun. Berkaca dari kasus ini, apa yang perlu orang tua lakukan agar anak tak terpapar konten bernuansa seks atau pornografi sejak dini?

Dampak buruk konten bernuansa seksual pada anak

Di era digital seperti sekarang ini, anak-anak yang memiliki akses internet bisa dengan mudahnya menemukan konten seksual, baik yang implisit maupun eksplisit. Anak-anak memang belum bisa memahami seks, konsep konsensual, atau perannya dalam sebuah hubungan. Namun, gambar, ilustrasi, atau video nyata yang mereka lihat akan sangat membekas.

Sejatinya, ini merupakan dasar dari konsep pemasaran bahwa apa yang diarahkan, ditonton, dibaca, akan memengaruhi perilaku seseorang. Banyak pemasar yang memahami bahwa seks itu menarik dan menjual. Itulah sebabnya banyak produk dan layanan yang sebetulnya tidak berkaitan dengan seks, dipasarkan dengan cara yang seksual atau mengandung konten bernuansa seks.

Studi ilmiah terkait dampak paparan konten bernuansa seks pada anak memang belum banyak dilakukan. Meski demikian, bukti-bukti awal menunjukkan bahwa paparan dini konten bernuansa seks yang intens akan berdampak buruk pada psikologis dan perilaku anak di kemudian hari. Sebut saja, mereka akan mulai berhubungan seksual pada usia yang sangat muda, hamil saat remaja, lebih berpeluang terlibat dalam perilaku seks yang berisiko, kecanduan narkoba atau alkohol, kecanduan pornografi, dan kecenderungan untuk melakukan pelecehan hingga kekerasan seksual.

1 dari 3 halaman

Wahai orang tua, ini kiatnya agar anak tak terpapar konten pornografi

Saat ini, konten bernuansa seks bisa dengan mudahnya ditemukan lewat akses internet, konten media sosial, atau media lainnya. Oleh sebab itu, orang tua perlu melakukan kiat-kiat berikut agar anak tidak terpapar konten bernuansa seks sejak dini.

  • Selalu mengawasi apa yang anak tonton, mainkan, dan dengarkan. Manfaatkan pula momen-momen kala Anda punya waktu untuk memberikan pengajaran atau mendiskusikan konten-konten atau perilaku yang dianggap tidak pantas.
  • Batasi waktu screen time atau menonton TV, gawai, dan media lainnya. Umumnya, tak lebih dari 1 jam sehari pada anak 2-5 tahun dan tak lebih dari 2 jam sehari pada anak usia sekolah.
  • Bila anak sudah mampu mengoperasikan gawai, komputer, atau laptop, aktifkan filter internet dan kontrol orang tua.
  • Bicarakan nilai-nilai dan ekspektasi keluarga yang diyakini tentang seks dalam hubungan pria dengan wanita. Misalnya, bahwa hubungan seksual adalah sesuatu yang sakral, bersifat personal, konsensual, dan baru diperbolehkan setelah pernikahan. Atau, bahwa perilaku seks bebas meningkatkan risiko tertular penyakit yang berbahaya.
  • Bicarakan pula apa yang media sampaikan tentang seks, bagaimana maksudnya, begitu juga dengan kebenarannya.
  • Beri teladan tentang bagaimana menjaga harga diri serta memiliki hubungan pertemanan yang sehat dan saling menghormati.
2 dari 3 halaman

Pentingnya pendidikan seks sejak dini

Selain peran aktif orang tua dalam melindungi anak terhadap paparan konten pornografi, satu hal lagi yang tak kalah penting adalah memberikan pendidikan seks sejak dini.

Hasil studi menemukan bahwa anak-anak yang mendapat pendidikan seks di rumah lebih kecil peluangnya untuk melakukan aktivitas seksual yang berisiko. Berdiskusi seputar seks sejak dini juga akan membuat remaja lebih terbuka dan mau bertanya pada orang tua kala dihadapkan dengan hal-hal sulit atau berbahaya.

Mungkin Anda sebagai orang tua bingung untuk memulai mengajarkan pendidikan seks kepada anak. Namun, ketahuilah bahwa peran Anda di sini begitu krusial. Karena, jika bukan dari Anda, anak cenderung akan mempelajari dari sumber lain yang bisa saja salah dan menyimpang. Anda pun hanya memiliki sedikit kendali atas apa yang anak pelajari tentang seks dan cara mereka mendapatkannya bila tidak mendiskusikannya secara terbuka.

Di era digital ini, melarang anak untuk tidak sama sekali mengakses gawai atau media lainnya agar tidak terpapar konten bernuansa seks bukanlah pilihan yang realistis. Sebab, tujuannya memang bukan untuk menghindar dari isu tersebut. Sebaliknya, orang tua perlu mendekat, sehingga anak bisa belajar mengenai seks dari sumber yang paling mereka percaya, yaitu Anda. Memulainya memang tak mudah, tetapi ini merupakan bagian penting dari pola asuh anak di abad ke-21.

(RN/ RVS)

1 Komentar

  • test aja

    "Berdiskusi seputar seks sejak dini juga akan membuat remaja lebih terbuka dan mau bertanya pada orang tua" --> ini materinya apa aja?