Sukses

Kenali Faktor Risiko Kanker Hidung yang Dialami Lee Chong Wei

Pebulu tangkis Malaysia, Lee Chong Wei, memutuskan pensiun dini akibat kanker hidung yang dideritanya. Kenali faktor risikonya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Badminton Association of Malaysia (BAM) tahun lalu membuat pernyataan bahwa atlet Lee Chong Wei (36) menderita kanker hidung sejak September tahun lalu. Menurut pemberitaan, awal tahun ini Lee dinyakan sembuh dari kanker dan sempat kembali ke lapangan bulu tangkis. Namun untuk mencegah kekambuhan, Lee mesti benar-benar berhenti memukul kok, sehingga ia memutuskan untuk pensiun dini.

"Ini adalah keputusan yang sulit bagi saya karena saya sangat menyukai bulu tangkis. Namun, kesehatan saya lebih penting," ucap Lee dalam konferensi pers seperti dikutip di Star Sport.

Pasalnya, latihan yang intensif serta pertandingan yang penuh tekanan dan melelahkan ternyata berisiko membuat kanker kembali muncul.

Faktor risiko kanker hidung

Kanker hidung termasuk jajaran kanker yang kasusnya jarang. Kanker ini menyerang rongga hidung dan area tulang, serta sinus. Hingga saat ini masih, belum diketahui penyebab dari terjadinya kanker hidung. Namun, diduga ada kontribusi dari berbagai faktor risiko seperti:

  • Genetik. Faktor keturunan berperan dalam pertumbuhan kanker hidung di dalam tubuh.
  • Paparan virus HPV: Humanpapilloma virus menjadi faktor risiko tersering pada penderita kanker hidung.
  • Kebiasaan merokok: Merokok juga merupakan faktor risiko, karena di dalam rokok terdapat kandungan bahan kimia berbahaya yang melewati rongga hidung menuju paru-paru.
  • Udara di sekitar tempat tinggal yang penuh asap. Asap yang rutin dihirup dari rongga hidung dapat memicu peningkatan risiko terjadinya kanker hidung.
  • Debu kayu. Orang-orang yang bekerja di lingkungan pertukangan kayu dilaporkan berisiko terkena kanker rongga hidung.
  • Paparan logam. Dilaporkan juga bahwa orang-orang yang bekerja di lingkungan industri stainless steel juga berisiko terkena kanker ini.
  • Bekerja di pabrik tekstil. Serat pakaian yang sering terhirup saat bekerja juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker hidung.
1 dari 2 halaman

Apa saja gejala kanker hidung?

Jika Anda sering terpapar oleh beberapa faktor di atas, segera konsultasi lebih lanjut dengan dokter spesialis THT, apalagi jika terdapat gejala awal kanker hidung seperti di bawah ini:

  • Hidung tersumbat
  • Hidung berlendir atau mengeluarkan ingus
  • Sakit kepala hilang timbul
  • Nyeri hilang timbul di sekitar mata
  • Penciuman berkurang
  • Mimisan berulang.

Sekilas, gejala di atas mirip dengan pilek atau common cold atau sinusitis. Namun, jangan disepelekan jika sehari-harinya Anda terpapar oleh faktor risiko kanker hidung yang disebutkan di atas. Pasalnya, sebagian besar penderita kanker hidung baru terdiagnosa saat sudah memasuki stadium lanjut. Pada stadium ini, gejala yang ditimbulkan meliputi:

  • Rasa baal di daerah wajah atau mulut
  • Gigi tanggal dengan sendirinya
  • Terlihat adanya benjolan tumor di daerah wajah atau langit-langit mulut
  • Penglihatan kabur
  • Kesulitan membuka mulut
  • Benjolan di leher akibat pembesaran kelenjar getah bening.

Jika ada dugaan gejala pilek disebabkan oleh kanker hidung, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan seperti CT scan atau MRI, dan dilanjutkan dengan pengambilan jaringan (biopsi) di area mukosa hidung untuk memastikannya. Jika benar terdeteksi adanya sel kanker di area hidung, pengobatan dapat dilakukan dengan berbagai pilihan terapi seperti radiasi, kemoterapi, operasi, atau terapi bertarget.

Kanker hidung yang diobati sejak stadium awal (I atau II) memiliki peluang kesembuhan di atas 60 persen, sedangkan pengobatan pada stadium lanjut memberi peluang sembuh kurang dari 50 persen.

Dengan mengenali faktor risiko dan gejala kanker hidung, diharapkan Anda bisa selalu waspada akan penyakit penyebab pebulu tangkis Lee Chong Wei gantung raket ini. Jika terdapat gejala di atas atau pada dasarnya muncul gejala tak biasa yang bikin tak nyaman, segera periksakan diri ke dokter. Semakin dini kanker hidung bisa dideteksi, semakin besar peluang kesembuhan pasien.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar