Sukses

Cara Menjaga Keintiman Selama Perawatan Infertilitas

Meski sedang menjalani perawatan infertilitas, tetapi jangan sampai kemesraan dengan pasangan terganggu. Jaga keintiman dengan cara ini!

Klikdokter.com, Jakarta Tidak semua pasangan diberi kemudahan dalam memiliki keturunan. Ada yang butuh berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan sampai harus menjalani perawatan infertilitas. Jika Anda sedang menjalani perawatan ini demi mengatasi masalah ketidaksuburan, pasangan bisa mengalami sejumlah masalah sehingga mengurangi kehangatan dan kemesraan. Jangan sampai ini terjadi pada Anda dan pasangan. Ada beberapa cara untuk menjaga keintiman selama menjalani perawatan infertilitas.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), suami istri dikatakan mengalami infertilitas bila kehamilan tidak terjadi setelah satu tahun menjalani hubungan seksual secara rutin, dan tidak menggunakan metode kontrasepsi apa pun.

Sejauh ini belum ada data spesifik yang menunjukkan berapa banyak kasus infertilitas di Indonesia maupun di dunia. Namun yang pasti, kasus infertilitas semakin banyak ditemui. Di Amerika Serikat, 7-17 persen pasangan datang untuk konsultasi kesuburan dan program kehamilan. Sementara WHO mencatat, setidaknya satu dari empat pasangan di negara berkembang mengalami infertilitas.

Faktor penyebab infertilitas sendiri beragam, baik dari pihak pria maupun wanita. Mengetahui penyebab gangguan kesuburan ini penting agar penanganannya pun tepat sesuai penyebabnya.

Penilaian kesuburan pada pria dan wanita

Berdasarakan penjelasan dari dr. Fiona Amelia, MPH, dari KlikDokter, untuk menentukan penyebab infertilitas, kedua belah pihak perlu menjalani penilaian kesuburan. Hasil pemeriksaan nantinya menjadi dasar penentuan terapi atau pilihan metode hamil yang paling sesuai.

Untuk pria, pemeriksaan standar untuk menilai kesuburan adalah analisis sperma. “Dari sini dapat dilihat jumlah, pergerakan, dan bentuk sel sperma,” kata dr. Fiona. Jika analisis pertama hasilnya abnormal, maka diperlukan analisis kedua yang berselang dua minggu kemudian.

Pemeriksaan darah juga diperlukan untuk melihat hormon-hormon yang berperan dalam proses pembentukan sperma, antara lain testosteron, luteinizing hormone (LH), follicle-stimulating hormone (FSH), dan prolaktin.

“Pada kasus khusus, diperlukan pula tes genetik untuk melihat kelainan kromosom, USG transrektal jika curiga ada sumbatan pada saluran yang mengalirkan sperma, atau biopsi testis jika sel sperma tidak ditemukan sama sekali pada analisis sperma,” tambah dr. Fiona.

Pada wanita, gangguan kesuburan bisa dilihat dari hasil pemeriksaan hormon yang memengaruhi produksi sel telur, yaitu yaitu estradiol, progesteron, FSH, anti-Müllerian  hormone (AMH), dan LH.

“Pemeriksaan hormon lain seperti thyroid-stimulating hormone (TSH) dan prolaktin juga kadang diperlukan. Di samping itu, wanita biasanya perlu menjalani pemeriksaan untuk menilai apakah terdapat gangguan pada rahim—seperti mioma, polip, penebalan dinding rahim—dan sumbatan saluran telur (tuba falopii). Pemeriksaan ini mencakup histerosalpingogram (HSG), histeroskopi, dan USG kandungan. Kadang, pemeriksaan yang lebih invasif seperti laparoskopi diperlukan jika curiga endometriosis sebagai penyebab sulit hamil,” ungkap dr. Fiona.

Baru pemeriksaan saja terdengar sudah rumit, ya? Karenanya, sulit hamil bisa membuat seseorang mengalami gangguan kejiwaan seperti depresi atau gangguan cemas, yang pada akhirnya semakin menyulitkan untuk hamil. Oleh sebab itu, dr. Fiona turut mengatakan jika belum hamil juga setelah lama menikah, tak perlu ragu atau malu untuk menjalani pemeriksaan-pemeriksaan ini. Ingat, Anda tak sendirian, banyak pasangan yang juga mengalaminya. Carilah pertolongan ke dokter yang kompeten dan membuat Anda dan pasangan merasa nyaman.

1 dari 3 halaman

Keintiman dengan pasangan terancam saat jalani perawatan infertilitas

Jika sudah menemukan penyebab ketidaksuburan dan sudah ditentukan perawatan infertilitas oleh dokter berdasarkan kondisi Anda, bersiap-siaplah dalam menghadapi sejumlah masalah fisik dan emosional. Gawatnya, kondisi itu bisa mengurangi keintiman di antara mereka.

Tanpa disadari, mereka akan fokus berlebihan pada perawatan kesuburan hingga stres, sehingga memengaruhi hasrat dan gairah seksual. Dilansir dari Psychology Today, beberapa pemicu turunnya keintiman saat menjalani terapi ketidaksuburan antara lain:

  • Spontanitas menghilang

Selama perawatan infertilitas, “keinginan” tak lagi menjadi alasan utama untuk berhubungan seks. Sebagai gantinya, ada jam, termometer, obat-obatan, ultrasonik, dan tes lainnya yang “mendikte” hubungan seks dengan pasangan. Alhasil, aktivitas yang seharusnya menyenangkan tersebut tak lagi dinikmati.

Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan pada masa terapi ini, misalnya posisi seks untuk memudahkan pergerakan sperma ke sel telur, terjadwal, mesti tepat waktu, memperhatikan suhu, dan lain-lain. Itu semua dilaporkan membuat 45 persen pasangan mengalami stres berat. Kondisi tersebut justru melahirkan gangguan baru, seperti disfungsi ereksi atau ejakulasi pada pria atau menurunnya gairah pada wanita.

  • Perubahan suasana hati akibat pengobatan

Obat-obatan hormonal yang meningkatkan ovulasi, mengubah keasaman vagina, atau yang membangun lapisan rahim, cenderung akan membuat suasana hati berubah sehingga memengaruhi gairah seksual Anda.

  • Merasa gagal

Sering kali, kehamilan yang terjadi tanpa hubungan seksual – tetapi melalui intervensi pembuahan intrauterine atau pembuahan dan implantasi in vitro – akan membuat mereka memandang diri sendiri sebagai orang yang gagal secara secara seksual.

2 dari 3 halaman

Tips menjaga keintiman selama dan setelah perawatan infertilitas

Masalah memang tak bisa dihindari, tetapi bisa dihadapi dengan cara yang tepat. Sehingga, efek samping dari perawatan gangguan kesuburan tak sampai mengorbankan keintiman Anda dan pasangan. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain:

  • Mengakui krisis atau konflik yang tengah dialami

Pasangan harus saling memahami dan menerima bahwa untuk beberapa orang, jalan menuju kehamilan bisa sangat berliku. Cobalah untuk bicara dari hati ke hati tanpa harus merendahkan satu sama lain. Semakin Anda tak mau mengakui dan menerima adanya masalah kesuburan dan terus-terusan menyalahkan, maka keintiman akan sulit kembali.

  • Saling menjaga dari cemoohan keluarga atau teman

Mungkin tanpa disadari anggota keluarga, kerabat, atau bahkan teman akan berkomentar mengenai masalah yang tengah Anda dan pasangan hadapi. Inilah saat yang tepat untuk Anda dan pasangan saling menjaga satu sama lain dari komentar-komentar yang menyakitkan.

  • Bedakan seks intim dengan seks yang berkaitan dengan perawatan infertilitas

Bila memungkinkan, pisahkan antara seks intim (karena hasrat alami Anda dan pasangan) dengan seks terjadwal untuk mencapai target hamil. Misalnya tempat tidur digunakan untuk seks yang terjadwal, sedangkan tempat lainnya untuk seks yang Anda dan pasangan inginkan secara alamiah.

  • Selalu menjaga komunikasi dengan baik

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, bahwa perawatan dan pengobatan infertilitas ini akan mengubah suasana hati. Jadi, jangan biarkan pasangan menebak-nebak apa yang tengah dirasakan. Jujur saja tentang kondisi yang dialami, apa yang dirasakan, sehingga komunikasi berjalan lancar dan kedekatan juga tetap terjaga.

Menjalani perawatan infertilitas demi mendapatkan momongan jalannya bisa begitu berliku dan penuh tantangan. Namun, jangan sampai hal tersebut justru mengorbankan keitiman Anda dan pasangan. Tetaplah menjaganya dengan saling memahami, menerima, dan dan mendukung satu sama lain. Bila masalah infertilitas sudah sampai membuat pertikaian yang tak kunjung usai, tak ada salahnya Anda meminta bantuan kepada konselor pernikahan.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar