Sukses

Bahaya Self Diagnosis Terhadap Penyakit yang Dialami

Malas ke dokter tapi langsung beli obat karena merasa tahu tentang penyakit yang diderita? Awas, perilaku self diagnosis ini berbahaya, lo!

Klikdokter.com, Jakarta Setiap orang pasti tidak ingin terkena penyakit. Sayang, ada kalanya tubuh “menyerah” sehingga mengalami beberapa keluhan yang sangat mengganggu. Karena beberapa kesibukan dan kuatnya rasa malas, alhasil Anda tidak memeriksakan keluhan tersebut ke dokter. Anda justru menebak-nebak sendiri atas penyakit yang diderita dan langsung membeli obat dan minum tanpa anjuran dokter. Kondisi ini dinamakan self diagnosis.

Di zaman serba canggih seperti saat ini, self diagnosis semakin mudah dilakukan berkat semakin maraknya informasi kesehatan yang beredar. Tapi, apakah Anda yakin informasi kesehatan yang didapatkan benar-benar terpercaya dan sesuai dengan fakta medis yang sebenarnya?

Kalaupun Anda mendapatkannya dari sumber tepercaya, ingatlah bahwa informasi kesehatan tersebut hanya bersifat pertolongan pertama. Bukan sebagai patokan pasti atas penyakit yang Anda alami.

Bila ingin mendapatkan hasil pasti dan pengobatan terakurat dari penyakit yang dialami, tidak ada cara selain memeriksakan diri ke dokter. Sebab, diagnosis hanya boleh ditetapkan oleh seorang profesional yang ditentukan berdasarkan gejala, keluhan, riwayat kesehatan, serta faktor lainnya.

Tak hanya berhenti di situ. Dokter mungkin perlu memeriksa tubuh Anda lebih lanjut guna memastikan kondisi yang sedang dialami. Sebab, diagnosis terhadap suatu penyakit tidak bisa didapatkan semudah mengedipkan kelopak mata.

Bahaya laten self diagnosis

Menurut dr. Sara Elise Wijono, MRes dari KlikDokter, terdapat dua bahaya utama bila Anda terus-menerus melakukan self diagnosis. Bahaya pertama akibat keseringan melakukan self diagnosis, Anda akan menganggap bahwa penyakit adalah kondisi sepele yang bisa sembuh dengan sendirinya. Padahal, tidak setiap penyakit bisa dianggap demikian!

“Kalau ternyata sebenarnya Anda mengidap penyakit yang cukup parah, tapi Anda menganggap remeh dan langsung minum obat yang hanya mengurangi gejala, tentu itu bisa berakibat fatal. Penyakit parah yang sebenarnya bisa didiagnosis sedini mungkin menjadi terlambat diobati dan sulit untuk disembuhkan,” jelas dr. Sara.

Sementara itu, bahaya kedua dari self diagnosis adalah Anda menjadi cemas berlebihan dan justru bikin penyakit semakin parah. Saat ada beberapa bagian tubuh yang nyeri, Anda langsung mencari tahu tentang penyakit yang sedang dialami. Sayangnya, ada beberapa penjelasan yang memang memberikan informasi cukup “menyeramkan”, misalnya kanker atau kegagalan fungsi organ, sehingga bikin Anda makin khawatir. Dari perasaan ini, rasa nyeri dan penyakit yang Anda alami mungkin akan bertambah parah tanpa disadari.

Self diagnosis juga bikin Anda jadi mengonsumsi obat-obatan yang semestinya tidak dikonsumsi, misalnya saja antibiotik. Padahal, konsumsi antibiotik tanpa dosis dan indikasi yang tepat bisa memicu terjadinya resistensi antibiotik. Ketika Anda mengalami kondisi ini, bakteri yang ada di dalam tubuh akan semakin kebal!

Informasi kesehatan yang ada di internet sebenarnya memiliki banyak manfaat positif. Namun sayangnya, sebagian orang cenderung menelan mentah-mentah tanpa mengonfirmasi informasi terseput pada dokter. Sehingga, bisa menyebabkan self diagnosis yang memicu kesalahan dalam minum obat dan membuat penyakit semakin parah. Maka itu, sebaiknya Anda berkonsultasi lebih lanjut pada dokter terkait dugaan penyakit yang dialami sekalipun telah mengetahui tentang penyakit tersebut lewat informasi kesehatan yang beredar bebas di internet!

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar