Sukses

Orang Tua dengan Gangguan Cemas Bisa Pengaruhi Perkembangan Anak

Orang tua dengan gangguan cemas bisa menurunkan kondisi tersebut pada anak, bahkan membuat perkembangannya terganggu. Berikut penjelasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Gangguan cemas atau anxiety bisa dialami oleh siapa saja, tak terkecuali orang tua. Menurut dr. Nitish Basant Adnani BMedSc MSc dari KlikDokter, gangguan cemas biasanya berupa rasa khawatir berlebihan yang dapat mengganggu kegiatan sehari-hari. Pada orang tua, gangguan cemas bisa muncul jauh sebelum ia berkeluarga ataupun ketika sudah memiliki anak.

Lantas, bagaimana bila seorang anak dibesarkan oleh orang tua yang memiliki gangguan cemas? Apakah si Kecil juga akan tumbuh menjadi pribadi dengan gangguan yang sama?

Anak tumbuh sebagai pribadi yang “ringkih”

Perlu diketahui bahwa orang tua yang memiliki lebih dari satu anak punya kegelisahan yang bervariasi. Sehingga, saat anak dari orang tua tersebut tumbuh besar, mereka akan memiliki cara berpikir serta pola perilaku yang berbeda-beda, sesuai dengan apa yang dicemaskan dan ditunjukkan oleh orang tua yang mendidiknya. Dengan kata lain, kecemasan orang tua akan memengaruhi tumbuh kembang dan kepribadian si Kecil di masa mendatang.

Sebagian orang tua juga menganggap bahwa buah hatinya adalah seorang “anak kecil” meski sebenarnya sudah tumbuh besar. Anaknya selalu dianggap ringkih dan tidak berdaya sehingga mereka kesulitan dalam berkembang secara mandiri. Alasannya, orang tua tidak ingin anaknya terluka.

Itu memang tidak salah dan merupakan hal baik. Namun, mengalami kekalahan atau kegagalan tetap penting dalam proses kehidupan seorang manusia. Sebab dari situlah mereka akan belajar tentang sikap bijaksana, terutama tentang “berdamai dengan keadaan”.

Tindakan membuat anak selalu menjadi makhluk ringkih sebenarnya berkaitan juga dengan ego orang tua. Ketika anak akhirnya menjadi pribadi yang ikut-ikutan mudah khawatir dan tidak mandiri, ia akan selalu bergantung pada orang tuanya. Sehingga, fungsi orang tua tidak akan tergantikan, dan akan selalu dibutuhkan sekalipun si Kecil sudah tumbuh dewasa.

1 dari 2 halaman

Menuntut lebih, terutama soal prestasi

Orang tua dengan gangguan cemas biasanya juga khawatir bahwa anaknya tidak bisa melakukan dan mencapai tujuan. Oleh karena itu, orang tua dengan tipe ini biasanya akan menjadi pribadi yang penuntut, terutama terhadap prestasi si Kecil.

Anak yang hidup dengan orang tua tipe ini biasanya akan tumbuh menjadi orang yang enggan meminta bantuan kepada orang lain (individualis). Semuanya akan dikerjakan sendiri dengan serius, tidak mudah percaya pada orang, serta “terlalu keras” terhadap dirinya sendiri. Anak ini pun akan sangat ketakutan dengan kata “gagal” dan menjadi pribadi yang terlalu ambisius (pembuktian diri).

Gangguan cemas bikin pola asuh tidak berjalan optimal

Berdasarkan penuturan dr. Sara Elise Wijono, MRes dari KlikDokter, gangguan cemas yang dialami  oleh orang tua akan membuat mereka tidak maksimal dalam merawat dan mendidik anaknya sendiri.

“Orang tua dengan perasaan cemas berlebih cenderung lebih takut terhadap hal-hal yang belum pasti. Ini membuat mereka tidak memperhatikan betul apa yang sebenarnya sedang terjadi dan apa yang ada di hadapan mereka. Sehingga, hal tersebut akan membuat pola asuh tidak berjalan sebagaimana mestinya,” tutur dr. Sara.

Jadi, bila memang Anda termasuk orang tua yang memiliki rasa khawatir berlebihan alias gangguan cemas, berkonsultasi pada psikolog atau psikiater adalah hal yang mesti dilakukan demi kebaikan diri sendiri, anak dan keluarga.

“Dengan terapi behaviour yang tepat, apalagi ditambah dengan obat yang tepat, pasti gangguan cemas akan teratasi. Gangguan cemas pada orang tua tidak boleh dianggap remeh, karena hal tersebut sangat memengaruhi kondisi sekitar, khususnya anak. Meski secara tidak langsung, tentu akan ‘lain’ rasanya bila si Kecil tumbuh di lingkungan beremosi tidak stabil,” pungkas dr. Sara.

Gangguan cemas yang dialami orang tua memang dapat membuat mereka tidak maksimal dalam merawat anak. Bahkan, orang tua yang demikian juga dapat membentuk kepribadian anak menjadi mudah gugup, tidak mandiri alias manja, insecure atau sebaliknya, terlalu ambisius, terlalu “keras” dengan diri sendiri, serta tidak mengenal kekalahan. Maka, penting bagi orang tua untuk menerima terapi yang tepat sebelum si Kecil terlanjur terbentuk menjadi pribadi yang seperti itu.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar