Sukses

High-Functioning Depression, Depresi Jenis Apa Itu?

Tahukah Anda apa yang dimaksud dengan high-functioning depression? Kenali gejala dan tanda-tanda depresi tersebut di sini!

Klikdokter.com, Jakarta Mendengar kata depresi, apa yang pertama kali terlintas di pikiran Anda? Apakah kesedihan, letih berlebihan atau rasa putus asa berkelanjutan? Hal tersebut memang ada benarnya. Namun, tahukah Anda bahwa depresi ternyata juga bisa menyebabkan gejala fake smile alias senyum palsu untuk menutupi segala gejala yang dirasakan? Medis menyebut kondisi ini sebagai high-functioning depression.

Faktanya, high-functioning depression alias smiling depression adalah istilah untuk seseorang yang hidup dengan depresi di dalam diri namun tampak bahagia atau puas di luar. Kehidupan orang-orang tersebut terlihat seperti pada umumnya dan dianggap mumpuni. Bahkan, mereka yang mengalami high-functioning depression dapat dibilang memiliki kehidupan normal atau sempurna.

Beberapa faktor risiko yang membuat seseorang rentan terhadap high-functioning depression, di antaranya:

  • Perubahan hidup yang besar
  • Penilaian orang lain terhadap diri
  • Media sosial
  • Ekspektasi yang tidak sesuai dengan realita

Kenali gejala high-functioning depression

High-functioning depression tidak dikenal sebagai suatu kondisi gangguan jiwa, melainkan relatif didiagnosis sebagai gangguan depresi mayor dengan fitur atipikal. Secara umum, gejala yang berkaitan dengan high-functioning depression adalah sebagai berikut:

  • Perubahan nafsu makan, berat badan dan pola tidur
  • Rasa lelah berlebihan
  • Perasaan putus asa, percaya diri serta rasa harga diri yang rendah
  • Penurunan dalam ketertarikan maupun keinginan untuk melakukan kegiatan yang biasanya disenangi.

Seseorang dengan high-functioning depression mungkin akan mengalami salah satu atau semua gejala di atas. Namun ketika di tempat umum, sebagian besar gejala tidak akan terlihat.

Dari sudut pandang orang lain, seseorang dengan high-functioning depression akan tampak seperti:

  • Seseorang yang aktif dan sangat fungsional
  • Seseorang yang memiliki pekerjaan tetap dengan kehidupan keluarga dan sosial yang baik
  • Seseorang yang terlihat ceria, optimis dan pada umumnya bahagia.

Jika sedang mengalami depresi namun tetap tersenyum dan berusaha menggunakan “topeng”, Anda mungkin merasa bahwa:

  • Menunjukkan tanda-tanda depresi merupakan suatu kelemahan
  • Menunjukkan perasaan asli berarti membebani orang lain
  • Tidak merasakan depresi sama sekali karena Anda “sehat-sehat saja”
  • Banyak orang lain yang mengalami gejala lebih berat, sehingga apa yang harus dikeluhkan?
  • Dunia akan lebih baik jika Anda tidak ada.

Gejala umum pada depresi adalah memiliki tingkat energi yang rendah dan merasa sulit bahkan beranjak dari kasur di pagi hari. Pada high-functioning depression, tingkat energi mungkin tidak terpengaruh, kecuali jika orang tersebut sedang sendirian. Akibatnya, risiko akan bunuh diri bisa lebih besar.

Seseorang dengan depresi berat terkadang akan memiliki ide bunuh diri namun tidak memiliki energi untuk mengaplikasikan pikirannya. Namun, seseorang dengan high-functioning depression mungkin memiliki energi dan motivasi untuk mengikuti pikiran “sesat” tersebut.

Mengingat bahaya yang mungkin timbul, high-functioning depression harus segera diatasi. Jadi, jika Anda merasa mengalami gejala-gejala yang mengarah pada kondisi tersebut, memulailah untuk berbicara dengan seseorang yang paling dipercaya.

Jika Anda merasa tidak ada orang yang bisa dipercaya, cobalah untuk berkunjung dan menceritakan semuanya ke psikolog atau dokter spesialis kesehatan jiwa. Sebab, tempat yang tidak akan “menghakimi” Anda adalah kantor psikolog maupun dokter tersebut.

Sejatinya, depresi, baik high-functioning depression ataupun jenis lain, harus segera diatasi. Jika tidak dan dibiarkan terjadi berkelanjutan, keinginan bunuh diri akan terus tumbuh hingga akhirnya tereksekusi. Maka itu, jika Anda merasakan gejala atau mengetahui ada orang yang mengalami kondisi serupa high-functioning depression, berkonsultasi dengan psikolog atau dokter spesialis kejiwaan adalah solusi paling baik yang bisa dilakukan.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar