Sukses

Mengenal Gangguan Mata Malas

Gangguan mata malas masih belum banyak dikenali masyarakat. Padahal, semakin cepat ditangani, hasilnya akan semakin bagus.

Klikdokter.com, Jakarta Mata malas bukan sekadar keluhan pada penampilan fisik mata karena tampak seperti kurang bersemangat atau “kurang cemerlang”. Bukan pula istilah yang digunakan untuk menyebut mata seseorang yang sedang malas atau mengantuk. Yang sesungguhnya, gangguan mata malas adalah bentuk penyakit mata yang tergolong berat dan butuh upaya keras untuk penyembuhannya.

Harus diakui, masyarakat memang masih belum terlalu mengenal gangguan mata malas. Mata malas, atau dalam bahasa medisnya disebut amblyopia, lebih sering ditemukan secara tidak sengaja. Padahal, kelainan yang biasanya bermula di masa pertumbuhan ini harus ditangani secepatnya untuk mendapatkan hasil terbaik.

Prevalensi mata malas di seluruh dunia diperkirakan 1-5 persen. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat 19 juta anak-anak berusia di bawah 15 tahun yang memiliki gangguan penglihatan. Lalu, 12 juta di antaranya terjadi akibat gangguan refraksi yang tidak dikoreksi serta mata malas.

Penyebab mata malas

Mata malas merupakan kondisi berkurangnya ketajaman penglihatan di salah satu mata. Gangguan ini jadi sulit dideteksi karena hasil pemeriksaan menyeluruh pada penderita jarang menunjukkan adanya penyakit mata yang berat, padahal penurunan penglihatan telah terjadi. Hal tersebut terjadi akibat perkembangan proses penglihatan yang tidak normal pada saat penderita berusia bayi atau anak-anak.

Agar memiliki penglihatan yang baik, mata juga butuh stimulasi yang cukup agar perkembangan organ mata dan saraf-sarafnya bisa berkembang baik. Pada gangguan mata malas, terjadi kekurangan stimulasi untuk sistem penglihatan ketika penderita masih anak-anak.

Sebagai contoh, penderita memiliki minus mata yang tinggi pada sebelah matanya dan tidak dikoreksi, sehingga anak tersebut selalu menjalani penglihatan yang buram atau tidak jelas pada mata tersebut. Pada akhirnya, mata yang relatif lebih normal (misalnya, memiliki minus lebih rendah) akan “mengambilalih” fungsi penglihatan mata yang buram itu.

Jika sudah seperti itu, perkembangan saraf penglihatan mata yang buram lama-kelamaan akan berkurang. Sementara, mata yang lebih normal akan terus berkembang saraf penglihatannya, untuk mengompensasi mata sebelahnya. Bila terjadi dalam waktu lama, maka mata yang buram tersebut akan jatuh pada kondisi mata malas.

Saat sudah jatuh dalam kondisi mata malas, penanganannya sangat sulit dan tidak bisa sekadar dikoreksi dengan menggunakan kaca mata. Mengingat proses ini berkaitan dengan gangguan perkembangan saraf mata, maka penanganannya juga membutuhkan stimulasi saraf mata dalam waktu yang tidak sebentar.

1 dari 2 halaman

Penyebab mata malas pada anak

Meskipun paling sering dialami oleh satu mata, tapi kasus mata malas pada kedua mata juga bisa ditemukan. Tiga penyebab tersering mata malas di masa kanak-kanak adalah sebagai berikut:

  • Gangguan refraksi mata yang sangat berat, misalnya memiliki minus, plus, atau silinder mata yang terlalu tinggi.
  • Memiliki penyakit mata juling (strabismus).
  • Memiliki penyakit mata yang bersifat menutupi penglihatan (visual deprivation), misalnya kelopak mata jatuh sebelah, tumor di kelopak mata, dan memiliki katarak saat usia muda.

Umumnya, penyebab-penyebab mata malas di atas terjadi pada saat masa perkembangan sistem penglihatan, yaitu di bawah usia 8-10 tahun pertama kehidupan. Semakin muda usia ketika 3 penyebab di atas terjadi dan tidak ditangani dengan baik, maka mata malas yang terjadi akan semakin berat.

Jika seseorang memiliki keluarga dengan riwayat pernah mengalami salah satu dari tiga penyebab di atas, maka risiko untuk mengalami mata malas pun akan semakin besar. Selain itu, ketika menderita sindrom tertentu, misalnya Sindrom Down, maka akan sering terjadi kekeruhan media penglihatan, sehingga risiko mata malas juga menjadi meningkat.

Penanganan mata malas

Untuk menangani mata malas, hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari penyakit yang mungkin mendasarinya dan melakukan penindakan pada penyakit tersebut. Misalnya, apakah dengan menggunakan kacamata, terapi mata juling, atau operasi untuk membuang lensa katarak.

Kemudian, cara menangani mata malas selanjutnya adalah dengan memaksa mata yang sudah jatuh ke kondisi tersebut untuk aktif kembali. Salah satu yang lebih normal akan diistirahatkan menggunakan penutup (terapi oklusi) maupun obat mata (penalisasi). Dengan begitu, mata yang mengalami mata malas akan distimulasi untuk bekerja sepenuhnya, sehingga sistem sarafnya dapat kembali berkembang.

Oleh sebab itu, terapi ini paling tinggi angka keberhasilannya bila dilakukan pada masa perkembangan otak dan sistem penglihatan (di bawah usia 8-10 tahun) karena masih adanya plastisitas otak pada masa tersebut, sehingga masih mungkin menstimulasi agar sarafnya berkembang kembali.

Bagi penderita yang diresepkan terapi oklusi, penutupan sebelah mata bisa dilakukan sepanjang waktu atau hanya pada waktu-waktu tertentu. Dasar penetapannya adalah seberapa berat mata malas yang terjadi. Agar cara ini efektif dan mata yang mengalami mata malas dapat terstimulasi kembali, sekadar mengintip dari balik penutup pun tidak diperbolehkan.

Jadi, jika Anda atau anggota keluarga Anda ada yang mengalami gangguan mata malas perlu ditangani sedini mungkin. Pemeriksaan ke dokter mata secara rutin memang sudah harus dilakukan sejak usia kanak-kanak. Hal ini tentu saja berguna untuk menjaga agar sistem penglihatan selalu terawat dengan baik.

[MS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar