Sukses

Gejala Keracunan Makanan Usai Lebaran yang Wajib Diketahui

Merasa tidak nyaman usai menyantap sesuatu di hari Lebaran? Bisa jadi Anda keracunan makanan. Kenali gejalanya di bawah ini.

Klikdokter.com, Jakarta Libur Lebaran sudah mau habis. Namun, bukannya bersemangat akan kembali beraktivitas, Anda justru berkutat dengan rasa tidak nyaman di perut. Anda juga merasa malas mengisi perut dan lebih sering bolak-balik ke toilet untuk buang air. Anda pun menduga sedang mengalami keracunan makanan pasca Lebaran. Seperti apakah gejala keracunan makanan?

Menurut dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter, gejala yang terjadi akibat keracunan makanan bervariasi, mulai dari yang ringan hingga gejala yang berat. Gejala tersebut dapat timbul antara 1 jam hingga 28 hari sejak mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.

Kondisi keracunan makanan sangat tergantung dengan jenis bakteri, virus, atau parasit yang menginfeksi Anda berapa banyak yang ada di sistem pencernaan Anda. Selain itu, seberapa baik sistem kekebalan tubuh dalam melawannya juga turut menentukan.

Gejala keracunan makanan

Sementara itu, kasus keracunan makanan yang ringan mirip dengan kasus flu perut. Flu perut atau gastroenteritis adalah penyakit yang menyerang saluran pencernaan, khususnya lambung dan usus, dengan gejala seperti diare, muntah, serta kram perut.

Gejala umum kondisi keracunan makanan adalah:

  • Perut kembung dan bergas
  • Demam
  • Nyeri otot
  • Merasa lemah dan lemas
  • Perut terasa nyeri

Apabila keracunan makanan yang dialami sudah cukup parah dan memang disebabkan oleh beberapa jenis bakteri berbahaya, seperti Campylobacter, E.coli, Listeria, Salmonella, dan Shigella, maka gejala yang bisa timbul berupa:

  • Bicara cadel
  • Pandangan mulai kabur
  • Otot lemah
  • Sulit menelan
  • Mulut kering
  • Muntah terus-menerus
  • Mengalami kelumpuhan otot, mulai dari kepala hingga ke bawah tubuh.

Langsung ke dokter atau perawatan rumahan dulu?

Menurut dr. Karin, sebagian besar gejala keracunan makanan umumnya dapat ditangani sendiri di rumah. Salah pengobatan rumahan yang efektif untuk mengatasi keracunan makanan adalah dengan mengonsumsi tablet karbon aktif untuk menyerap racun dan memperbanyak asupan cairan.

Anda dapat mengonsumsi cairan, seperti air putih, oralit, jus buah, maupun air kelapa, disesuaikan dengan selera dan kondisi masing-masing. Namun, jangan mengonsumsi kopi dan alkohol karena keduanya justru dapat semakin mengiritasi saluran cerna.

Tak cuma itu, perhatikan makanan yang dikonsumsi selanjutnya. Apabila muntah dan diare yang dialami cukup berat, ada baiknya Anda membatasi asupan makanan untuk sementara. Pilih makanan yang mudah dicerna dan rendah serat agar tidak membebani saluran cerna.

“Makan saja biskuit, bubur, kentang, dan roti putih. Adapun produk olahan susu sebaiknya dihindari dulu dan makanan yang digoreng-goreng atau berbumbu kompleks juga tidak perlu dulu,” ujar dr. Karin.

Kapan sebaiknya harus ke dokter?

Keracunan makanan pada dasarnya bisa disembuhkan di rumah. Namun, jika sudah sampai menimbulkan gejala di bawah ini, sebaiknya Anda segera memeriksakan diri ke dokter sebelum terlambat.

  • • Gejala semakin berat dan tak kunjung sembuh meski sudah melakukan pengobatan rumahan
  • • Diare berat sudah dialami lebih dari 3 hari
  • • Demam tinggi di atas 38 derajat Celsius
  • • Tidak buang air kecil, pusing, dan mata terlihat cekung
  • • Kotoran berwarna hitam atau berdarah
  • • Penglihatan buram dan mulai kebingungan
  • • Serta penurunan kesadaran.

Mengalami keracunan makanan usai Lebaran memang sangat tidak mengenakkan. Jadi, jangan paksakan diri untuk bekerja apabila Anda masih merasa lemas dan sakit. Yang terpenting, Anda fokus dulu pada proses pengobatan hingga benar-benar sembuh. Sebab, bila kondisi keracunan makanan dibiarkan dan dehidrasi Anda sepelekan, akibatnya bisa sangat fatal.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar