Sukses

Awas, Kuman Antraks Sering Disalahgunakan untuk Senjata Biologi!

Di tangan yang salah, kuman antraks bisa disalahgunakan menjadi senjata biologi mematikan.

Klikdokter.com, Jakarta Wabah antraks yang menyerang ternak sapi di Gunungkidul beberapa waktu lalu sempat mengejutkan masyarakat. Pasalnya, kuman antraks yang bisa dijadikan senjata biologi atau bioterorisme – oleh para teroris – tersebut menyerang hewan ternak yang dagingnya biasa dikonsumsi saat lebaran.

Berawal dari adanya laporan warga di Desa Bejiharjo, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Rabu (8/5) lalu, soal adanya sapi yang mati mendadak, pihak berwenang setempat segera menyelidiki. Hasil pemeriksaan Balai Besar Veteriner (BBVET) Wates, Yogyakarta menunjukkan bahwa sapi-sapi yang mati mendadak tersebut positif terkena spora antraks.

Hingga kini, belum diketahui dari mana datangnya spora antraks tersebut karena seperti dilansir dari berbagai sumber, selama ini kawasan Gunungkidul adalah daerah bebas antraks.

Jika dialami oleh manusia, penyakit antraks juga bisa mematikan. Mengerikannya, manusia dapat tertular antraks tak hanya lewat binatang saja, tapi juga saat antraks disalahgunakan sebagai bioterorisme atau senjata biologis.

Proses penularan antraks

Di berbagai belahan dunia, penyakit antraks cukup sering terjadi dan sering kali menyerang peternak atau pekerja bidang pertanian. Kasus tersering berasal dari kontak dengan binatang yang terinfeksi antraks, gigitan serangga yang terinfeksi, dan konsumsi daging yang terkontaminasi.

Selain rentan menyerang pekerja bidang peternakan dan pertanian, kasus penularan antraks juga terjadi pada pekerja industri. Biasanya terjadi akibat adanya paparan bulu, wool atau tulang yang mengandung kuman antraks. Penyakit antraks tersering menyerang kulit. Selain itu, kuman antraks juga bisa menyerang organ lain seperti pada saluran pernapasan dan saluran pencernaan.

Bacillus anthracis merupakan kuman gram positif penyebab penyakit antraks. Kuman ini hanya dapat bertahan hidup di alam dalam waktu kurang dari 24 jam. Namun, kuman antraks dapat berubah bentuk menjadi spora yang dapat bertahan hidup di tanah untuk jangka waktu yang sangat lama, bahkan hingga puluhan tahun.

1 dari 2 halaman

Antraks sebagai senjata biologi

Spora antraks dapat tahan terhadap berbagai kondisi, seperti kekeringan, panas, radiasi dengan ultraviolet, sinar gamma, dan berbagai jenis disinfektan. Akibat karakteristiknya tersebut, kuman antraks dan sporanya yang dikeringkan sering disalahgunakan sebagai senjata biologi atau bioterorisme.

Menurut data dari the Centers for Disease Control and Prevention (CDC), 92 persen kasus antraks pada saluran pernapasan bisa menyebabkan kematian. Sedangkan kasus antraks pada saluran pencernaan, sekitar 20-60 persen berujung pada kematian.

Spora antraks sendiri dapat dengan mudah ditemui di alam, atau dibuat di laboratorium dan bertahan sangat lama di lingkungan luar. Gawatnya, antraks pun menjadi senjata biologis yang ampuh karena dapat "dilepaskan" secara diam-diam tanpa ada seorang pun yang tahu.

Spora antraks dapat diletakkan di bubuk, cairan penyemprot, makanan ataupun minuman. Karena ukurannya yang mikro, Anda pun tidak dapat melihatnya dengan mata telanjang.

CDC menyebut antraks telah digunakan sebagai senjata biologi di seluruh dunia sejak hampir seabad lalu, tepatnya sejak Perang Dunia I. Saat itu, antraks digunakan oleh bangsa Skandinavia untuk menyerang tentara Rusia. Sementara pada Perang Dunia II, antraks kembali digunakan oleh tentara Inggris untuk melemahkan pasukan Jerman.

Serangan penyakit antraks dapat terjadi dalam banyak bentuk, mulai dari dilepaskan di udara melalui truk berjalan, pesawat, atau dari atas gedung. Spora antraks pun dapat terbawa angin, pakaian, sepatu atau benda lainnya.

Hanya dibutuhkan sejumlah kecil spora antraks untuk menginfeksi orang dalam jumlah banyak. Jika terhirup, spora antraks bisa menyebabkan infeksi saluran pernapasan dan jika tidak ditangani dengan tepat bisa mematikan.

Salah satu bentuk kasus bioterorisme yang cukup fenomenal adalah kasus "Amerithrax” yang terjadi di Amerika Serikat pada 2001. Saat itu, sejumlah kantor media massa dan dua senator Amerika Serikat menerima surat yang berisi spora antraks. Akibatnya, lima orang dilaporkan meninggal dunia dan 17 orang terinfeksi.

Seperti dipublikasikan di jurnal the Journal Proceedings of the National Academy of Sciences, usai dilakukan investigasi mendalam oleh FBI atau badan intelijen Amerika Serikat, spora antraks ini diduga dibuat di laboratorium melalui serangkaian rekayasa genetik.

Wabah antraks yang sempat menyerang beberapa ternak sapi di Gunungkidul tentu saja patut diwaspadai. Meningkatnya konsumsi daging sapi saat lebaran yang tinggal beberapa hari lagi harus membuat masyarakat jeli dalam memilih daging yang akan dimasak. Selain itu, pemerintah juga perlu mengantisipiasi penyebaran kuman antraks hingga ke daerah lain, mengingat sejarah pernah digunakannya antraks sebagai senjata biologi yang mematikan.

[MS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar