Sukses

Efek Antraks pada Ibu Hamil

Penyakit antraks pada tubuh bisa membahayakan. Lalu apa efek antraks pada ibu hamil? Berikut ini kajian medisnya.

Klikdokter.com, Jakarta Menyusul penemuan spora antraks pada beberapa sapi di Gunungkidul, Yogyakarta, beberapa waktu lalu, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul melakukan langkah antisipasi. Mulai pengiriman vaksin hingga pemantauan terhadap hewan ternak yang tak jauh dari lokasi penemuan. Masyarakat pun diminta tidak panik tapi tetap waspada untuk mencegah penularan, khususnya terhadap ibu hamil. Pasalnya, ada efek antraks pada ibu hamil yang harus diwaspadai.

Antraks, juga dikenal sebagai sapi gila, adalah penyakit infeksius yang disebabkan oleh bakteri Bacillus antracis. Bakteri ini dapat memproduksi spora yang bersifat tidak aktif atau dorman. Sporanya sendiri dapat hidup di lingkungan (misalnya tanah) hingga waktu yang lama, bahkan bisa bertahan hingga hitungan dekade.

Saat spora yang tidak aktif masuk dalam lingkungan yang sesuai – misalnya tubuh manusia atau hewan – maka akan teraktivasi dan mengalami pertumbuhan sel aktif. Akibatnya, bakteri berkembang biak dan menyebar ke seluruh tubuh. Bakteri juga akan menghasilkan racun yang menyebabkan penyakit, bahkan kematian.

Ada beberapa penularan antraks pada manusia termasuk ibu hamil. Penularan paling umum yaitu melalui luka atau goresan pada kulit

Bentuk antraks yang paling mematikan sering kali diakibatkan penularan melalui saluran pernapasan (inhalasi). Cara penularan lainnya adalah melalui saluran pencernaan, yakni akibat mengonsumsi daging mentah atau kurang matang dari hewan ternak yang terinfeksi antraks.

Efek antraks pada ibu hamil

Semasa kehamilan, umumnya sistem kekebalan tubuh wanita melemah, sehingga sering kali lebih rentan terinfeksi penyakit. Namun, dalam kasus antraks belum diketahui apakah wanita hamil lebih rentan terinfeksi dibandingkan mereka yang tidak hamil.

Data mengenai efek antraks pada wanita hamil, wanita yang baru melahirkan, dan wanita menyusui sangat sedikit diketahui. Total hanya terdapat 20 kasus di seluruh dunia yang sudah dilaporkan, di antaranya 17 kasus semasa kehamilan.

Meski efeknya belum pasti, tetapi antraks semasa kehamilan diketahui berhubungan dengan kematian ibu dan janin. Ada bukti bahwa antraks bisa ditemukan pada jaringan janin, artinya bisa terjadi penularan dalam kandungan.

Hasil pemeriksaan, baik fisis maupun penunjang, sering kali menyulitkan diagnosis antraks semasa kehamilan. Ini dikarenakan hasilnya bisa mirip dengan kondisi yang umum ditemukan semasa kehamilan, misalnya preeklampsia atau sindrom HELP.

Berdasarkan laporan yang ada, ada beberapa kasus persalinan prematur pada ibu hamil yang tertular antraks, bahkan setelah dilakukan pengobatan. Selanjutnya, pada beberapa kasus juga ditemukan kematian janin, yang kemudian disusul kematian ibunya.

Jadi, antraks semasa kehamilan bisa menyebabkan kematian, tetapi tak menutup kemungkinan juga bisa dengan sukses ditangani meski masih ada kemungkinan persalinan prematur.

1 dari 2 halaman

Pengobatan antraks pada ibu hamil

Meski data mengenai efek antraks pada wanita hamil masih sangat sedikit diketahui, hal ini tidak boleh menyurutkan kewaspadaan terhadap penyakit ini. Semua ibu hamil yang diketahui terpapar antraks disarankan untuk:

  • Menjalani pengobatan profilaksis, sama halnya seperti orang-orang yang tidak hamil.
  • Ibu hamil juga akan disarankan untuk mengonsumsi antibiotik selama 60 hari berturut-turut.
  • Anjuran untuk pemberian vaksin antraks sebanyak tiga kali, tanpa memandang usia kehamilan dan dosis yang sama seperti pada orang-orang yang tidak hamil.

Menurut pemberitaan media, petugas kesehatan tengah memeriksa tiga warga yang bersentuhan langsung dengan sapi yang mati terkena virus antraks di dusun Grogol 4, Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo.

Agar ibu hamil tidak tertular penyakit antraks ini, jangan mengonsumsi daging hewan yang terinfeksi secara mentah atau kurang matang. Semakin dekatnya hari raya Idul Fitri, konsumsi daging lebaran tentu semakin tinggi. Inilah yang harus diwaspadai masyarakat.

Risiko penularan lebih tinggi jika hewan ternak tidak diberi vaksin antraks secara berkala, atau daging hewan tidak diperiksa terlebih dulu sebelum disembelih.

Efek antraks pada ibu hamil memang belum banyak diketahui. Namun, ibu hamil, khususnya yang tinggal di dekat hewan ternak atau yang tinggal di dekat ditemukannya sapi yang terinfeksi antraks, harus waspada akan risiko penularan. Usahakan untuk menghindari paparan dengan ternak, apalagi jika diketahui sakit. Selain itu, untuk konsumsi daging, belilah daging dari sumber terpercaya dan masaklah hingga matang.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar